
Sepulang dari rumah sakit, Audi langsung ke studio guna menghadiri pemotretan yang sudah dijadwalkan. Tian yang sudah menunggu di sana berkacak pinggang saat melihat Audi baru datang.
"Untung cuman telat 5 menit. Habis dari mana, sih? Kayaknya tadi buru-buru banget?"
"Mas Ibra di rumah sakit. Aku abis jenguk dia tadi," jawab Audi seadanya.
Ia mulai bersiap dan membiarkan para make up artis memoles wajahnya.
"Ohh ... sakit apa?"
"Kena bacok pas di Bali kemarin."
"Astaga, jadi paspampres yang jadi korban itu Mas Ibra?"
Audi mengendik. "Begitulah."
"Parah gak? Pasti banyak wartawan ke sana?"
"Lumayan cukup parah, sih. Kepala sama bahunya dijahit. Kalo wartawan aku kurang tahu, soalnya pas ke sana gak ada tuh, atau belum mungkin."
"Innalillahi ... Semoga cepat sembuh."
Audi sudah selesai di make up. Ia menerima baju yang sudah disiapkan tim wardrobe lalu memakainya di ruang ganti.
Pemotretan berjalan lancar seperti biasa. Audi baru bisa kembali ke hotel saat jam makan siang. Karena lelah kali ini ia memilih makan di kamar.
Tian membawakan satu baskom air hangat untuk merendam kaki. Wanita itu duduk di samping Audi dan mulai membuka satu persatu makanan mereka.
"Kamu sama Mas Ibra makin ke sini makin lengket. Kalian udah pacaran?" Tian bertanya sambil menyodorkan ayam suir pedas ke hadapan Audi. Sementara ia mengambil nasi dan udang serta sambal dan kerupuk.
Keduanya makan dengan tenang dan lahap. Usai pemotretan mereka langsung pulang karena Audi mengeluh tak enak perut. Mereka menolak jatah makan siang dari brand dan lekas kembali ke hotel.
__ADS_1
Audi mengendik menjawab pertanyaan Tian. "Entahlah. Aku masih bingung, Mba. Malam sebelum ke Bali sebenarnya Mas Ibra nembak aku, tapi ya ... Mba tahu lah yang bikin aku berat itu apa."
"LDR?" tebak Tian tepat sasaran.
Melihat Audi yang langsung terdiam Tian pun menyimpulkan bahwa tebakannya benar. "Yang lebih bikin Mba bingung itu kamu sebenernya."
"Kok aku?" Audi menoleh heran.
"Ya kan kamu sendiri bilang udah suka Mas Ibra dari kecil, terus sekarang giliran Mas Ibra nanggapin balik kamu malah banyak mikir. Jangan-jangan dulu kamu cuman suka aja, gak mikir gimana resikonya punya pacar atau suami abdi negara?"
"Y-ya ... memang, sih. Siapa yang tahu dia bakal jadi tentara. Tapi bukan cuma itu alasan aku bimbang, Mba."
"Terus?"
"Aku ragu karena Mba tahu sendiri Mas Ibra itu pernah menikah sebelumnya. Aku cuma ... masih belum yakin aja."
"Jadi karena Mas Ibra duda? Bentar, ini Mas Ibra cerai mati atau hidup, sih?"
"Hidup. Tadi aja aku ketemu mantan istrinya di rumah sakit."
Audi mengangguk. Ia merengut ketika mengingat lagi bagaimana canggungnya situasi saat itu. Belum lagi Audi mulai iri karena Shireen masih memanggil tantenya Mami. Itu berarti sebelumnya mereka memang dekat.
"Btw, ngapain mantan istri sampai jenguk segala? Bukannya mereka udah gak ada hubungan?"
"Ini yang buat aku bingung, Mba. Meski Mas Ibra bilangnya udah gak ada rasa dan mereka udah selesai, tapi kenapa masih sempat-sempatnya ketemu? Masa cuman karena Mas Ibra sakit dia sampai harus jenguk? Harus banget gitu? Kan udah mantan."
Pada akhirnya Audi mengeluarkan semua unek-unek yang mengganjalnya sejak di rumah sakit. Tanpa sadar Audi melahap makanannya dengan porsi besar-besar.
Tian yang melihat itu lantas menggeleng. "Udah jelas kamu cemburu."
"Ya emang. Kan aku udah bilang suka Mas Ibra. Siapa sih yang gak bakal cemburu, Mba?" kesal Audi.
__ADS_1
"Mungkin si Mba siapa itu? Dia hanya silaturahmi, maybe?"
"Silaturahmi mantan? Haha, lucu."
"Mending kamu gak usah makan dulu, deh. Ngeri takut kesedak." Tian berusaha menghentikan Audi yang makan terlalu lahap. Yakin, itu bukan lapar, melainkan pelampiasan.
"Uhuk! Uhuk!"
"Tuh, kan. Gak bisa dibilangin kamu, tuh. Bikin gemes aja," sungut Tian yang langsung mengambil air.
Audi segera menenggak habis air minum itu.
"Kebiasaan kalau lagi kesal makanmu pasti brutal. Coba deh hilangin kebiasaan itu, bahaya tau. Kalau kesal tuh tenangin diri dulu, bukan lampiasin ke makanan. Alhasil gini, kan? Bukannya tenang jatuhnya malah kayak bunuh diri."
"Hiks ..."
"Lah, nangis?" heran Tian.
"Ini karena aku lagi datang bulan, Mba."
"Emang iya datang bulan bisa bikin nangis? Perasaan seumur-umur Mba gak pernah."
"Ya itu kan Mba, beda sama aku lah. Hiks ... Ah, hormon sialan. Ngeselin banget."
Tian berkedip bingung. Ini dia yang bodoh atau Audi yang lagi lebay?
Drrtt ... Drrtt ... Drrtt ...
"Di, hape kamu tuh."
"Mas Ibra," lanjutnya membaca si penelepon.
__ADS_1
"Biarin aja. Dasar duda!"
"Duda duda kamu juga suka, kan?" ringis Tian setengah berbisik.