Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 20


__ADS_3

Di lain sisi, Audi tampak termenung sambil sesekali menyuap pangsit ke mulutnya. Enggan makan di restoran, Mbak Tian akhirnya mengajak Audi ke sebuah kedai dan memesan pangsit kuah sebagai makan malam.


"Gila, gak nyangka yang tadi itu presiden. Pantes dari sore tadi banyak orang wara-wiri kayak lagi sensus, ternyata itu paspampres lagi ngecek keamanan."


Mbak Tian tak berhenti berceloteh mengenai Pak Presiden dan rombongannya yang memang sempat membuat heboh. Sementara Audi, ia justru tak bisa berhenti memikirkan Ibra yang ternyata sudah pulang dari Surabaya.


Lah, bagaimana tidak pulang kalau pak pres saja baru ia lihat barusan. Pupus sudah harapan Audi untuk tak bersinggungan dengan lelaki itu. Terlebih Audi punya sesuatu yang harus diberikan dari Tante Safa.


Sruupp ...


Audi kembali menyeruput kuah pangsit di mangkoknya, namun mata gadis itu seperti tak fokus hingga kedatangan pemilik kedai yang terkesan tiba-tiba berhasil mengejutkannya.


"Mbak Claudia?"


"Uhuk! Uhuk!" Audi terbatuk saking kagetnya. Hidungnya sampai perih lantaran tak sengaja menghirup kuah pedas.


Kejadian itu membuat Tian maupun si pemilik kedai merasa panik dan buru-buru mengambilkan minum.


Audi menenggak habis air putih yang baru saja diberikan pemilik kedai. Sementara Tian tak henti mengusap-usap punggungnya hingga menjadi lebih tenang.


Si pemilik kedai meringis merasa bersalah. "Maaf, Mbak Claudia. Mbak pasti kaget, ya?"

__ADS_1


Barulah Audi mendongak dan tertegun mendapati raut ketakutan di wajah paruh baya seorang pria yang ia tebak berumur lima puluhan tahun.


Ia berdehem berusaha tersenyum. "Gak papa, Pak. Bukan masalah besar, kok."


Si bapak menggaruk lehernya kikuk. "Duh, jadi malu kan mau minta promosi," gumamnya tak nyaman.


Tentu Audi lebih tak nyaman karena telah membuat kegaduhan. Lagi pula ini bukan sepenuhnya salah si bapak, ia juga salah karena melamun sambil makan.


"Bapak ... mau minta promosi apa?" tanya Audi memastikan, sekaligus melebur kecanggungan.


"Duduk, Pak." Tian mempersilakan si bapak untuk duduk supaya mereka lebih nyaman berbincang.


"Begini, dari tadi saya sudah lihat kedatangan Mbak Claudia. Mungkin bukan cuma saya, tapi orang-orang di sini juga." Ia mengedarkan pandangan. Dan benar saja, hampir sebagian besar pengunjung menatap ke arah mereka, lebih tepatnya Audi.


"Anak saya bilang Mbak ini selebgram, ya? Yang suka iklan-iklan barang di Instagram? Katanya Mbak juga sering muncul di TV."


Baru juga bilang, televisi di sana seakan menguatkan kebetulan. Sosok Audi muncul dengan iklan sebuah produk body lotion terkenal yang merk-nya khas dengan warna biru.


Audi meringis samar menggaruk tengkuk. Ia menunduk seakan malu dengan dirinya yang ditonton banyak orang.


Si bapak kembali melihat Audi sambil tersenyum lebar. "Ternyata memang benar. Pantas muka Mbak Claudia ini serasa tidak asing."

__ADS_1


"Masya Allah ... kebetulan sekali. Siapa sangka kedai pangsit saya yang kecil ini bisa kedatangan model iklan tenar seperti Mbak. Mbak, kira-kira kalau saya minta Mbak buat iklanin kedai saya ini, bisa tidak? Biayanya berapa, Mbak?"


Audi tertawa garing. "Saya gak setenar yang Bapak kira."


Diam-diam Tian memutar mata. Gak tenar apanya? Iklan body lotion itu hampir beberapa menit sekali muncul setiap iklan. Pengikut Audi juga sudah lebih dari 5 juta di Instagram. Hebatnya anak itu masih bilang belum tenar.


Apa kabar kontrak beberapa jam lalu yang baru mereka tanda tangan? Audi hendak menjadi brand ambassador sebuah perusahaan kecantikan milik salah satu artis terkenal. Audi adalah salah satu BA mereka yang dijajarkan dengan aktor kenamaan Korea yang juga menjadi wajah utama brand tersebut.


Daebak! Tian yang hanya manager saja kecipratan uang segunung. Audi memang pembawa rezeki baginya.


"Kalau Mbak saja gak merasa tenar, apa kabar dengan saya? Hahaha ..." Si Bapak mengeluarkan selorohan seakan memang sanggahan Audi itu lucu.


Memang lucu. Tian saja menganggap sikap sok merendah Audi tak lebih dari rasa bangga gadis itu sendiri.


"Hehe, ya sudah. Bapak mau minta saya promosi bagaimana? Gratis, Pak, gak usah bayar."


Nah, kan. Artis mana lagi yang bisa semurah hati Audi? Audi memang sudah sultan dari lahir, jadi Tian tak perlu heran setiap kali gadis itu bersedia memberi iklan secara cuma-cuma.


Si bapak awalnya tak percaya, tapi setelah Audi memastikan pria itu langsung bersorak girang hingga menarik perhatian semua orang.


Audi dan kebaikannya, kadang Tian tak mengerti kenapa masih saja ada yang suka menjelek-jelekkan gadis itu di sosial media. Mereka tidak tahu seroyal apa sosok Audi, apalagi jika sudah kenal dekat, gadis itu tak pernah sekalipun perhitungan pada teman-temannya.

__ADS_1


__ADS_2