
"Selamat pagi!"
"Pagi, pagi, pagi!"
Sorak semangat bergema di sebuah ruangan. Para pasukan elite pengaman presiden tengah berbaris dengan sikap sempurna. Seperti kebiasaan sebelum mulai bertugas, mereka akan briefing dulu dan mendengar arahan komandan.
Mas Ibra: Baru selesai apel pagi. Perut kamu gimana? Udah mendingan?
Audi membaca pesan Ibra. Lelaki itu mengirim foto selfie di mana para paspampres baru saja lepas barisan.
Sejauh ini Ibra masih berusaha mengabari sesempat mungkin. Audi cukup salut, padahal ia tahu kesibukan Ibra bukan main padatnya.
Audi membalas pesan Ibra. "Udah."
Lelaki itu tak lagi membalas, mungkin ia langsung berdinas, Audi harus mulai membiasakan diri dengan hal seperti ini.
Ia sendiri bebas hari ini. Sesuatu yang sangat disukuri Audi karena tubuhnya belum sepenuhnya fit. Ini yang Audi benci setiap kali datang bulan, seluruh badannya serasa tidak enak. Bawaannya lesu tak ada tenaga.
Audi tidak menyangka, ia masih berpikir ini mimpi. Beberapa tahun lalu kebersamaannya dan Ibra seolah mustahil untuk kembali digapai. Namun sekarang mereka malah bertukar pesan mesra. Salah, lebih tepatnya Ibra yang melempar perhatian manis padanya.
Bolehkah Audi senang sekarang?
"Di, turun, yuk. Makan." Tian sudah beres berpakaian dan memakai hijab.
Wanita itu baru selesai mandi setelah Audi.
"Gak bisa di kamar aja, Mba? Perutku masih gak nyaman," keluh Audi.
Bukannya apa, perutnya masih nyut-nyutan.
"Justru itu harus dipakai jalan-jalan biar peredaran darahnya lancar. Kalau kamu diam terus begitu sakitnya akan terus berasa."
"Tapi malas, Mba. Sumpah." Audi masih ingin mengelak.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu jadi introvert gini? Ayo, ah."
Dengan malas Audi bangkit mengikuti Tian yang mengajaknya turun makan di resto. Mereka memesan menu sarapan lalu duduk di salah satu kursi.
Audi yang masih tidak enak badan hanya bisa diam saat Mbak Tian membuka-buka berita di ponselnya, dan sepertinya wanita itu juga mengecek instagram Audi.
Senyum Tian seketika terbit. "Tuh, kan, bener. Followers kamu nambah gila-gilaan, Di. Kenapa malah kamu hapus sih post sama si Gavin itu? Kan bagus pengikut dia banyak yang mampir."
Audi menghela nafas. "Mau sebanyak apa lagi, sih, Mba? Lima juta aja udah cukup buat aku. Dan sekarang jadi 7 juta, udah waw lah itu."
"Ya siapa tahu nambah lebih banyak lagi. Kan bagus?"
Audi terdiam. "Gak enak tahu jadi orang terlalu terkenal. Aku mau biasa aja, Mba. Toh, segitu juga udah ngasih aku rezeki yang alhamdulillah besar."
Dulu, Audi senang jika followers-nya bertambah banyak. Tapi sekarang entah kenapa terasa biasa saja, seolah ia sudah bosan dengan segala ketenaran.
"Semakin banyak semakin besar juga. Tapi ya ini opsional aja. Terserah kamu. Kalau kamu mau lebih naik lagi ya ayo, kalau enggak pun Mba gak maksa," putus Tian.
Bosan menunggu pesanan yang belum kunjung datang, Audi mengambil ponselnya dan iseng-iseng membuka instagram milik Ibra.
Dan satu hal yang baru Audi sadari setelah sekian lama tidak menengok akun lelaki itu, Ibra belum pernah memposting foto Shireen, bahkan foto pernikahan sekalipun. Apa pria itu menghapusnya setelah bercerai?
Entahlah, tapi tiba-tiba saja Audi merasa penasaran dengan kehidupan rumah tangga Ibra sebelumnya.
"Silakan, Mba." Seorang pelayan datang memecah rasa ingin tahu Audi.
"Eh, makasih." Mbak Tian menyahut cepat.
"Sama-sama. Semoga kalian menikmati hidangan kami." Pelayan itu kemudian pergi meninggalkan Audi dan Tian yang hendak mulai makan.
Untuk sejenak Audi kesampingkan dulu hal-hal yang menyangkut Ibra. Ia juga butuh energi untuk memikirkan pertanyaan Ibra tempo hari.
***
__ADS_1
Berbeda dari malam-malam sebelumnya, ponsel Audi terasa sunyi karena Ibra tak menghubungi atau pun mengiriminya pesan. Mungkin lelaki itu masih sibuk.
Sebenarnya tidak bisa dibilang sepi juga, ponsel Audi setiap hari mendapat notifikasi pesan, mau itu WhatsApp, instagram, email, dan media sosial lainnya. Namun Audi jarang menggubris jika bukan tentang pekerjaan. Itu pun masalah pekerjaan ia pasti lempar pada Tian.
Audi melirik Tian yang sudah terlelap di sampingnya. Kasihan, wanita itu pasti kecapekan seharian ini merawatnya. Audi jadi merasa bersalah sempat menyulitkan managernya itu tadi siang. Pengaruh mood membuat emosi Audi tidak stabil, ditambah diam-diam ia mengharap kabar dari Ibra.
Audi tahu, dengan Ibra yang seorang serdadu tak lantas membuat pria itu dapat menghubunginya 24 jam. Ada pesan 2 kali dalam sehari saja sudah selayaknya diapresiasi. Dalam waktu istirahat pun belum tentu Ibra memegang ponsel.
Lelaki itu pernah bilang ia hanya memiliki 10 persen dari satu hari untuk menyentuh benda pipih tersebut. Audi tak bisa membayangkan bagaimana lelahnya aktifitas fisik dan tugas yang Ibra jalani selama ini.
Pantas Tante Safa sering mengeluh dan galau memikirkan anaknya yang jarang pulang. Bukan hanya tak pulang, Ibra juga jarang memberi kabar.
Memang, sih. Saat pertama kali Ibra masuk akmil masih mending. Tapi setelah jenjang pendidikannnya semakin tinggi Ibra sudah seperti tinggal di dunia lain.
Audi bahkan pernah menjadi saksi bagaimana sedihnya Tante Safa karena anaknya sudah 2 lebaran tidak pulang. Audi jadi miris sendiri saat itu.
Saat itu Ibra baru lulus sekolah perwira dan sempat satu tahun tergabung dalam pasukan kopassus. Selebihnya Audi kurang tahu perjalanan karir Ibra.
Yang dia tahu Ibra memang sudah perwira, lebih tepatnya perwira pertama.
Ting!
Satu denting muncul di ponsel Audi. Melihat itu ia buru-buru mengeceknya dan lagi-lagi harus kecewa karena ternyata bukan Ibra yang mengirim pesan, melainkan Ajeng sahabatnya.
Gadis itu memberitahu Audi bahwa ia sedang pedekatean dengan pelatih fitnesnya. Astaga, Audi jadi teringat Morgan. Audi harap lelaki itu tak sakit hati. Siapa suruh mengulur waktu dan gengsian. Endingnya diambil orang, kan?
Malam itu Audi tidur masih dengan memegang ponsel. Saking berharapnya Ibra menghubungi atau setidaknya mengirim pesan. Tapi kembali lagi pada kenyataan Ibra yang seorang tentara, apalagi ia mengawal khusus orang nomor satu negara.
Tidak pasti kapan senggangnya, itu pun belum tentu cukup untuk beristirahat, apalagi memegang ponsel.
Selamat malam, Mas Ibra.
Itu pesan terakhir yang Audi kirim sebelum tertidur. Sejak hubungan mereka sedikit membaik Audi semakin kesulitan mengontrol perasaannya pada Ibra. Maklum, ia sudah mengagumi lelaki itu sejak balita.
__ADS_1