
Audi baru saja selesai syuting iklan dan pemotretan ketika Tian menghampirinya dengan sekantung makanan dengan brand sebuah restoran.
Audi bergumam terima kasih pada para kru yang baru saja mengelap keringat dan merapikan penampilannya. Mereka pergi meninggalkan Audi dan Tian berdua di ruang tunggu.
"Itu apa, Mba?" tanya Audi sembari mulai melepas pakaian wardrobe. Ia hendak ganti dengan baju yang sebelumnya ia pakai.
"Gak tau, nih. Tadi ada Bang Gojek telpon, katanya ada pesanan buat kamu."
Audi mengernyit. "Tapi aku gak pesan apa pun. Mbak pesan?"
"Ya emang kita gak ada pesan. Tapi abangnya bilang ini dari mas mu."
"Mas Ibra," tambah Tian.
Sesaat Audi berkedip. Mendengar nama Ibra ia jadi malu sendiri. Aduh, kira-kira bagaimana tanggapan Ibra mengenai story Audi semalam. Audi benar-benar berharap ia bisa menghilang dari muka bumi. Ini memalukan.
"Oh ... Mas Ibra, ya?" lirih Audi. "Y-ya udah, simpan dulu aja. Aku mau ganti baju."
Audi lekas berlalu memasuki kamar ganti. Jantungnya kembali berdentam mendapati perhatian Ibra.
Usai syuting Tian mengajak Audi ke sebuah tempat untuk makan. Sementara Tian memesan, Audi membuka bingkisan kiriman Ibra yang ternyata berupa nasi dan berbagai macam lauk sehat.
Di sana terdapat sebuah note.
...Jangan sering-sering makan junk food, ya. Sekarang lagi musim sakit, kamu harus benar-benar jaga kesehatan, termasuk makanan....
__ADS_1
Audi melipat bibirnya menahan senyum. Tanpa bisa dicegah hati Audi berdesir hangat. Meski Audi berkali-kali menyangkal dan berusaha menghindar, Audi tak bisa menampik perasaan yang sejatinya masih tertanam untuk Ibra.
Apalagi setelah mengetahui bahwa Ibra kini sendiri dan tak punya istri, entah harus bagaimana Audi menghadapi dilema besar ini.
Tanpa Audi sadari tingkahnya diperhatikan oleh Tian. Ia diam-diam berdehem samar sambil sesekali melirik gadis itu yang masih terpaku pada tulisan Ibra di tangannya.
"Jadi sejak kapan?" tanya Tian tiba-tiba.
Audi tersentak dan mendongak dengan tatapan bingung. "Apanya yang kapan?"
Berdecak kecil, Tian menopang dagunya menatap Audi. "Hubungan kalian."
"A-apa? Hubungan siapa?"
"Astaga ... masih mau mengelak juga. Padahal Mba udah sadar sejak kemarin kalian bertemu."
"Ngaku, kamu ada hubungan kan sama sepupumu? Kalian pacaran?"
Uhuk!
Audi tersedak ludahnya sendiri. "Maksud Mba Tian apa, sih?" sewot Audi malu.
"Maksud Mba sejak kapan kalian pacaran? Jadi ini alasan kamu gak pernah menjalin hubungan dengan pria? Kamu udah punya seseorang ternyata."
Tian mengangguk-angguk dengan ekspresi paham.
__ADS_1
"Gila, ternyata seleramu loreng, ya? Pantes, cowok-cowok klimis selebgram, seleb tiktok bukan kriteriamu. Secara tampang dan finansial mungkin mereka menang, tapi kalau dilihat dari wibawa Mas Ibra jelas lebih berkarisma."
"Mba Tian apa, sih? Kita gak pacaran."
"Gak pacaran tapi udah berani peluk-peluk dan cium kening? Terus apa namanya? Suami istri?"
"Mbaaa ..." rengek Audi. Ia melirik sekitar dengan was-was, takut-takut ada netizen yang mendengar.
"Tunggu, kenapa Mba bisa tahu—" Audi menutup mulutnya yang menganga.
Jangan bilang Tian memergokinya dan Ibra semalam?
Seolah mengerti apa yang Audi pikirkan, Tian pun mengangguk. "Ya ... Mba sempet lihat kamu sama MAS SEPUPU mu waktu turun ke lobi," ucapnya menekan kata panggilan untuk Ibra. "Karena rasanya akan awkward banget kalau Mba maksa lewat situ, ya udah Mba balik badan aja kembali ke kamar."
Demi apa Tian melihatnya?!
Oh, tidak. Belum cukup keluarganya yang heboh melihat story Audi semalam, ditambah Ibra seakan ikut-ikutan menyiram bensin, kini perasaan Audi juga harus terbongkar di hadapan Tian sang manager.
Sebenarnya reaksi keluarganya tak begitu mengkhawatirkan, sih. Karena di mata mereka kedekatan Audi dan Ibra memang sudah biasa sejak lama, meski beberapa tahun merenggang, mungkin mereka menganggap hal itu wajar lantaran saat itu Ibra sudah menikah.
Ibra sudah seperti kakak yang mengayomi bagi Audi, dan Audi adalah adik kecil yang Ibra sayangi. Begitulah kira-kira pandangan keluarga besar terhadap mereka.
Namun ada yang berbeda dari Tante Safa. Entah kenapa Audi merasa wanita itu seolah tahu sesuatu antara dirinya dan Ibra.
"Jadi yang mana yang benar? Masih coba-coba atau otw halal?"
__ADS_1
Bagaimana Audi menjawab ini, sementara Audi sendiri tak tahu apa yang saat ini tengah terjadi antara dirinya dan Ibra. Ibra memang perhatian sejak dulu, tapi kali ini terasa berbeda. Atau hanya Audi yang merasa?
Seandainya ini hanya bentuk perhatian Ibra sebagai kakak persis seperti dulu, mungkin Audi akan mengalami patah hati untuk kedua kalinya. Tidak, kali ini jauh lebih parah karena sejujurnya harapan itu sudah bertunas di hati Audi.