
Mas di bawah.
Audi mengerjap menatap ponselnya yang menampilkan pesan dari Ibra. Ia baru saja selesai makan malam dengan Mbak Tian. Wanita itu kini tengah di kamar mandi menuntaskan hajatnya.
Mas Ibra di bawah? Aduh, mau apa, sih. Audi kan jadi deg-degan lagi. Turun gak, ya? Kalau gak turun kasihan juga, Ibra pasti sudah susah-susah meluangkan waktunya.
Lagi pula kalau Audi tak turun Ibra pasti terus memberondongnya lewat pesan dan telpon, atau lebih parahnya lagi lelaki itu nekat naik ke atas.
Mendadak Audi jadi dilema. Dan pada akhirnya ia beranjak meninggalkan kamar, di mana saat itu bertepatan Tian keluar dari toilet.
"E-eh, mau ke mana?" teriaknya pada Audi.
"Keluar bentar! Mba tunggu aja di sini!" seru Audi yang kemudian hilang menutup pintu.
"Pasti Mas Ibra," gumam Tian. "Ah, sudah lah itu urusan mereka." Tian memutuskan untuk tak ikut campur dan merebahkan dirinya di ranjang.
Tian memang sudah tahu mengenai hubungan Audi dan Ibra yang tanpa status itu. Dan Tian tak mampu berkomentar, lebih tepatnya enggan. Ia hanya menyayangkan sikap Ibra yang menurutnya kurang jelas.
Sementara di sisi lain, Audi baru saja keluar dari lift dan langsung keluar melewati lobi. Matanya mengedar sesaat dan menemukan Ibra di parkiran.
Pria itu masih menunggangi motor besarnya sambil menunduk mengotak-atik ponsel. Hoodie hitam melekat longgar di tubuhnya, sementara kakinya yang panjang mengenakan celana jeans senada dan sneakers putih.
__ADS_1
Audi mendekat perlahan dan menyapa Ibra. "Mas?"
Seketika Ibra mendongak dan tersenyum. Ia menyimpan ponselnya ke dalam saku, lantas menarik tangan Audi untuk mendekat, mengusap rambutnya pelan dan mencubit pipinya sesaat.
Ibra mengambil kresek putih yang sejak tadi menggantung di stang motor. "Pisang keju," katanya sambil menyerahkan itu pada Audi.
Audi tak lantas menerima, ia menatap pemberian Ibra cukup lama. "Aku udah makan."
"Gak papa buat cuci mulut." Ibra tetap kekeh.
Audi hanya bisa membuang nafas dan menerima kresek itu dari tangan Ibra. Ia memang sangat menyukai olahan pisang.
"Mas Ibra tumben bajunya santai. Lagi gak tugas?"
"Ooh ..." gumam Audi.
Hening sesaat menyapa mereka. Audi menunduk dan mengedarkan mata ke mana saja asal tak menatap Ibra.
"Jalan, yuk, sebentar?" cetus Ibra.
Audi menoleh menatap bingung. "Ke mana?"
__ADS_1
Ibra malah tertawa renyah. "Ini Jakarta, masih jam delapan pula, masih banyak tempat yang buka."
Audi diam sesaat terlihat berpikir. Ia meneliti pakaiannya yang hanya terbalut piyama satin, sweater rajut dan sandal jepit.
"Mau, ya? Tiga hari ke depan Mas gak di sini lagi. Presiden ada kunjungan ke Bali."
Ibra mengambil kembali bingkisan pisang kejunya dari tangan Audi dan menggantungkannya lagi di stang motor.
Tidak tahu apa hubungannya mereka jalan dan Ibra yang besok harus keluar kota. Audi pun akhirnya mengangguk dan menaiki motor Ibra yang tingginya naudzubillah itu.
Ibra tersenyum dan segera menyalakan motornya. Namun sebelum itu ia menarik tangan Audi ke depan untuk memeluknya.
Spontan Audi terlonjak, dan sebelum gadis itu menarik tangannya kembali, Ibra sudah lebih dulu menahannya dan berkata. "Mas gak akan tanggung jawab seandainya kamu jatuh nanti."
Lihat, bisa banget kan modusnya. Meski begitu Audi memilih menurut tak berkomentar. Lagi pula ... ia juga nyaman memeluk Ibra.
Setelah memastikan tangan Audi tak berpindah tempat, Ibra mulai menjalankan motornya perlahan keluar pelataran hotel.
Audi memeluk Ibra erat lantaran angin malam menampar wajah dan rambutnya hingga berkibar. Daripada matanya perih, lebih baik Audi manfaatkan saja punggung lebar Ibra untuk menghalau angin.
Tanpa Audi tahu Ibra tersenyum hangat setiap kali menunduk melihat rangkulannya, dan tanpa Ibra sadari Audi memejamkan matanya nyaman menghirup aroma lelaki itu.
__ADS_1
Ia berharap Ibra tak mendengar detak jantungnya yang bergaduh di dalam sana, dan ia berharap semoga hatinya baik-baik saja setelah ini.
Karena ... Audi merasa memahami Ibra jauh lebih sulit ketimbang menebak isi cerita dalam sebuah novel fiksi. Ia tak tahu plot twist apa yang akan dihadapi ke depannya nanti.