
Ibra melepas sarung tangan dan helm-nya sambil berjalan di koridor. Sesekali ia mengangguk melempar senyum, juga membalas sapaan rekan-rekannya saat berpapasan.
Ibra berbelok dan seketika tersenyum menemukan Audi yang duduk sendiri di sebuah bangku. Ia lantas menghampiri gadis itu untuk kemudian duduk di sampingnya. "Maaf lama. Temanmu mana? Tadi Mas lihat kayaknya kamu berdua?"
"Toilet," jawab Audi singkat.
Audi segera meraih paper bag besar berisi titipan Tante Safa yang ia simpan di samping tubuhnya, lalu menyerahkannya pada Ibra. Ibra menerima tas tersebut, menengok isinya sekilas lalu tersenyum sambil bergumam terima kasih.
Audi hanya mengangguk tak acuh. Ia lalu berdiri berniat segera pergi dari sana. Melihat itu Ibra langsung menahan lengan Audi. "Kamu mau ke mana?"
Memutar matanya malas, Audi pun menjawab. "Pulang lah, aku juga sibuk, ada pemotretan." Ia sedikit menyindir karena Ibra telah membuatnya menunggu hampir satu jam.
Seketika perasaan bersalah sedikit menyelimuti hati Ibra. Ia egois meminta Audi kemari sementara Audi sendiri tak kalah memiliki pekerjaan.
Jujur, salah satu alasan Ibra menyuruh Audi ke Mako karena ia ingin Audi melihat sedikit kemampuannya saat atraksi simulasi tadi. Namun setelah dipikir-pikir Ibra jadi merasa konyol sendiri. Sebelumnya ia tak pernah merasa ingin pamer.
Tapi karena ini Audi, Ibra pun jadi lebih bersemangat.
"Maaf," ucap Ibra menyesal. "Kapan pemotretannya? Mas antar, ya? Mas free, kok."
Ibra turut bangkit, pun tangannya masih menahan Audi. Audi jadi risih sendiri lantaran beberapa mata melirik mereka.
"Mas Ibra apaan sih, ih! Lepas ..." ujar Audi greget.
Namun Ibra seakan tak peduli dan justru menggeleng. "Mas antar. Please?"
Melihat Ibra yang memohon, Audi hampir dibuat luluh jika saja ia tak menyadarkan diri agar tak jatuh ke lubang yang sama. Audi lupa, Ibra bukan memohon tapi memaksa.
Tiba-tiba Tian datang. "Eh, Mas sepupunya Audi, ya?"
Kehadiran wanita itu cukup membuat Audi lega, terlebih Ibra mulai melepas cekalannya. Ibra mengangguk seraya melempar senyum ramah. "Benar, saya ..." Lelaki itu sedikit melirik Audi. "Sepupunya," lanjutnya setengah masam.
Tanpa siapa pun tahu, Ibra terlihat kesal dengan kenyataan itu. Mereka berkenalan, dari sana Ibra tahu bahwa Tian merupakan manager Audi.
"Katanya Cla ... maksud saya Audi mau pemotretan? Di mana? Kebetulan saya free habis ini. Saya bisa antar kalian." Rupanya Ibra masih kekeh dengan keinginannya.
Audi yang merasa kesal pun tak tahan untuk tidak berdecak. "Please, deh, Mas. Kita tuh bawa mobil."
"Ya memang kenapa? Mas bisa jadi sopir. Kasihan, kan, siapa tahu manager kamu capek nyetir terus?"
__ADS_1
Ingin rasanya Audi membabat habis rambut Ibra yang tinggal se-uprit itu. Sementara Tian, ia diam-diam melipat bibir melihat perdebatan kecil keduanya.
"Mas Ibra tu—" ucapan Audi terpotong.
"Ehem! Maaf, nih, saya potong sebentar, ya?" Tian berujar hati-hati. Ia melihat Ibra dan Audi secara bergantian. "Sebenarnya pemotretan hari ini ditunda sampai besok, Di. Tadi pihak brand sendiri yang nelpon Mbak. Katanya kamu bakal difoto besok sekalian sama aktris lain."
Hening.
Audi menatap Tian tak percaya. Wanita itu tak bercanda kan? Serius, di saat Audi butuh sekali pergi dari hadapan Ibra, kenapa alasan itu harus hilang, membuat rencana kabur Audi terancam sia-sia.
Di sisi lain Ibra diam-diam tersenyum. Tentu hal tersebut merupakan sebuah keberuntungan bagi Ibra.
"Eh, Di. Mbak duluan, ya? Kamu gak papa Mbak tinggal? Tim editor kita ada kirim sample video kemarin."
Sontak Audi menyergah. "Ya udah aku ikut. Bukannya aku juga harus liat video-nya?"
Namun Tian menggeleng. "Kata Mardon jangan dulu."
"Kok gitu?" heran Audi.
"Pokoknya jangan dulu. Udah kamu percaya aja. Kapan sih mereka pernah kecewain kamu?"
Entah bagaimana ceritanya, namun Tian seolah mengerti situasi antara Ibra dan Audi.
Tadinya Audi mau kekeh menyusul, tapi sesaat kemudian berhenti lantaran Tian mengiriminya pesan yang isinya cukup membuat Audi merinding.
Mbak Tian : Jangan bandel. Udah, kamu sama Mas Ibra dulu. Mbak mau kelonan online sama suami.
Idih, apa maksudnya?
"Kamu udah sholat?" Suara Ibra memecah fantasi Audi.
Ia menoleh kikuk. "B-belum."
"Di sini ada mushola. Kalau kamu mau ikut, Mas juga mau sholat di sana."
Lama Audi terdiam sampai akhirnya ia pun mengangguk. Ibra mengulas senyum, tangannya meraih bahu gadis itu untuk ia rangkul.
Mereka berjalan bersisian dengan Audi yang terlihat kontras. Figur Ibra yang tinggi sangat berbanding terbalik dengan Audi yang kecil dan pendek. Jika dibandingkan ia hanya sebatas ketiak Ibra.
__ADS_1
Di sisi lain Ibra merasa hangat karena kali ini Audi tak menolak kedekatan mereka.
Ibra mengantarkan Audi sampai ke tempat wudhu perempuan. "Kalau sudah, kamu langsung masuk aja. Di sana ada mukena, kok."
Ia menepuk kepala Audi sebelum berlalu ke tempat wudhu pria. Interaksi keduanya tanpa disadari banyak diperhatikan orang.
Audi lekas mengikat rambut panjangnya. Kali ini Audi tak lupa membersihkan wajahnya dulu dari make up. Beruntung sekarang Audi tak memakai kutek yang akan membuatnya memakan waktu lama.
Selepas wudhu Audi lantas memasuki mushola dan memakai mukena di sana. Ia sedikit canggung saat bergabung dengan sejumlah kowad wanita yang juga hendak melaksanakan ibadah.
Wanita-wanita tangguh dengan fisik luar biasa kuat. Yang jelas tak bisa dibandingkan dengan Audi.
Mereka dengan ramah melempar senyum padanya.
"Adek yang tadi sama Lettu Ibra, ya?" tanya salah satu dari mereka.
"Eh, iya," jawab Audi gugup.
"Adek siapanya Lettu Ibra?"
"Itu ... saya adiknya."
"Oh ... adik."
"Kayaknya muka kamu gak asing?" sahut yang lainnya.
Sontak Audi menyentuh wajahnya seraya meringis samar. Lagi dan lagi mukanya dikenali orang.
"Kamu youtuber make up, kan? Saya pernah nonton channel kamu pas mau kondangan soalnya, hehe."
"Hehe ..." Audi turut tertawa garing.
Sungguh, Audi lebih senang berkunjung ke tempat di mana orang-orang tak mengenalinya.
"Jadi kamu benar adiknya Lettu Ibra? Kita baru tahu Lettu Ibra punya adik. Gak nyangka adiknya ternyata seleb terkenal."
Audi hanya tersenyum mengiyakan. Padahal ia merasa belum seterkenal itu hingga banyak dibicarakan orang-orang. Ya ... setidaknya Audi belum pernah viral. Ia betul-betul membangun pekerjaannya dari nol. Orang akan geleng kepala begitu tahu bagaimana perjuangannya mencari pengikut.
Mereka tak bicara lagi. Audi pun lekas memfokuskan diri menghadap sang pencipta. Tidak tahu apa arti helaan nafas lega yang barusan ia dengar.
__ADS_1
Satu hal yang Audi mengerti, rupanya Ibra cukup di idolakan di lingkungan para paspampres wanita.