
Tak terasa waktu berangsur cepat. Jarum jam sudah melewati angka dua belas, dan Audi maupun Ibra sama-sama masih betah di luar. Keduanya hanya diam menatap kerlip lampu di bawah sana, penampakan kota Bandung yang tempak seperti mangkok dari ketinggian.
Sesekali mereka mengobrol random. Usai makan beberapa puluh menit lalu energi Audi seolah terisi full, efeknya ia pun kehilangan rasa kantuk.
Mata Audi masih segar, sesegar pikirannya yang langsung sigap begitu Ibra membuka suara.
"Dulu, saat Mas belum bergabung keanggotaan paspampres, Mas punya teman dekat banget. Bisa dibilang dalam satu asrama dia yang paling dekat."
Audi menoleh. Ia menatap Ibra yang memandang lurus dengan tatapan menerawang. Pria itu seolah sedang mengenang sesuatu dalam pikirannya.
"Namanya Rega," bisik Ibra. "Rega sering bantu Mas setiap Mas kesulitan. Kalau Mas buat kesalahan dan harus diberi hukuman oleh pelatih, dia pasti ikut-ikutan, katanya biar dihukum bareng-bareng." Ibra mendengus. "Konyol memang. Dia emang agak badung orangnya, sering gangguin tawon kalau lagi senggang."
"Tawon?" tanya Audi bingung.
"Para Angkatan Udara," jelas Ibra.
Audi pun bergumam oh panjang.
"Suatu hari kita ditugaskan bareng di perbatasan. Rega senang banget, katanya selain istri dan anaknya, muka Mas paling enak dipandang. Haha." Ibra tertawa kecil. Namun matanya tak bisa berbohong bahwa ia berusaha menyembunyikan kesedihan.
Audi jadi makin penasaran, meski ia tidak menemukan kesinambungan antara pertanyaannya mengenai Shireen dan topik yang saat ini mereka bicarakan.
"Semuanya berawal dari sana." Ibra menoleh menatap Audi sendu. "Rega harus kehilangan satu kakinya karena menginjak ranjau. Dia berusaha menyelamatkan Mas dari rekoset peluru. Mas ingat banget seberapa hancurnya kaki Rega sampai gak bisa diperbaiki."
Ibra menunduk sebentar, lalu kembali menatap kerlip lampu di bawah mereka. Nafasnya terhela berat disertai tegukan ludah yang kentara. "Dari sanalah Mas ketemu sama Shireen. Shireen istri Rega," ucap Ibra sambil menoleh.
Audi berkedip bingung. "Mba Shireen ..."
"Iya, Shireen mantan istri Mas, dia istri Rega sebelumnya."
__ADS_1
Sebentar, Audi sedikit bingung. Ia tak berhenti menatap Ibra yang juga balas menatapnya. "Saat itu Mas udah niat mau lamar kamu kalau kamu berhasil wisuda," bisik Ibra.
"Tapi ... ternyata Rega gak bisa selama itu bertahan. Lima bulan kemudian dia meninggal. Rega menitipkan Shireen dan anaknya sama Mas. Dia suruh Mas nikahin Shireen. Mas gak tau lagi harus gimana." Ibra kembali berpaling dari Audi.
Sementara Audi terus diam memperhatikan. Wajah Ibra terlihat campur aduk. Audi belum pernah melihat Ibra seresah ini. Jadi, perasaan Audi memang tak bertepuk sebelah tangan?
"Shireen tahu Mas keberatan dengan amanat Rega. Dia menyarankan hal gila yang seumur hidup gak pernah Mas pikirkan."
"Hal gila?" tanya Audi bingung.
Ibra menoleh. "Nikah kontrak," ucapnya mengejutkan. "Shireen menyarankan Mas untuk nikahi dia selama dua tahun saja. Awalnya Mas menolak karena itu dosa besar, Mas juga takut kena pelanggaran kode etik sebagai TNI. Tapi ... Mas juga gak bisa berhenti mikirin kamu, rencana Mas yang gagal buat lamar kamu. Mas juga gak bisa abai begitu saja dengan wasiat Rega, apalagi Rega menulis itu susah payah. Dia juga titip asuransinya sama Mas buat pengobatan Kenan. Kenan anak Rega, dia punya kelainan jantung sejak lahir."
"Kamu pasti heran kenapa Rega gak kasih uang itu ke Shireen. Sebenarnya Mas gak pantas bicarain ini sama kamu. Ini masalah keluarga mereka. Tapi, Mas merasa perlu jelasin ini ke kamu yang sering banget berpikiran buruk." Ibra seperti menyindir Audi, tapi rautnya tetap serius.
"Ibunya Shireen sering minta uang untuk hal-hal yang gak jelas. Dulu Rega sering banget pinjam uang ke Mas, katanya mertua dia mau bisnis tas. Tapi ternyata uang itu malah dipakai konsumsi pribadi. Uangnya dibelikan tas mewah seharga motor baru."
Audi terdiam, ia refleks menunduk menatap kaos yang dipakainya sendiri. Mengerti apa yang Audi pikirkan, Ibra pun terkekeh. "Kamu mau beli yang seharga mobil pun pasti mampu, Mas percaya, secara penghasilan kamu sehari aja gak kecil. Mas sampai insecure."
"Ngomong-ngomong, apa Tante sama Om tahu tentang nikah kontrak Mas sama Mba Shireen?"
Ibra menggeleng. "Gak ada yang tahu kecuali kamu, Mas dan Shireen, tentu pengacara Mas juga."
"Jadi memang serahasia itu?"
Ibra tersenyum sumir. "Kamu pikir apa yang akan terjadi jika mereka tahu? Semuanya tahu? Kemungkinan Mas bukan hanya kehilangan pekerjaan, tapi juga keluarga."
"Sebenarnya Mas merasa gak enak sama Rega. Kesannya Mas mempermainkan amanat dia. Tapi Mas juga hanya manusia biasa. Semakin lama Mas mempertahankan Shireen, semakin besar juga dosa Mas."
"Lagipula, Mas pikir untuk bisa menjaga mereka tak harus melalui jalan pernikahan. Mas tetap konsisten jenguk Kenan meski tak sesering saat Mas masih menikah sama Shireen."
__ADS_1
"Berarti Mas Ibra emang masih sering ketemuan sama Mba Shireen." Audi tampak cemburu.
Ia merengut membuang wajahnya menatap sekitar. Ibra menoleh memperhatikan gadis itu. "Hey," panggil Ibra seraya meraih rambut Audi yang tergerai. "Mas memang menemui Shireen dan kasih uang ke dia. Itu uang Rega. Tapi cuman sebentar, kemarin aja Mas cuman datang dan antar Kenan cukur rambut, setelah itu pulang."
"Ya tapi-" Kalimat Audi terpotong saat bunyi ponsel Ibra menginterupsi mereka.
Pria itu nampak merogoh sakunya guna melihat siapa yang menelpon. Dan lagi-lagi Audi mengerut melihat nama mantan istri Ibra di sana.
Ibra kelihatan ragu melihat respon Audi yang begitu sensitif. Tapi, ini sudah lewat tengah malam, dan Shireen menelponnya pasti ada hal yang penting.
"Cla."
"Angkat aja," bisik Audi lirih. Ia tak boleh kekanakan hanya karena masalah begini, kan?
Ibra pun menghela nafas dan menggeser ikon hijau penerima panggilan. "Halo? Assalamualaikum. Kenapa, Ren?" Ia bicara sambil tak lepas menatap Audi.
"Halo, Mas, waalaikumsalam. Sebelumnya maaf, Mas, mungkin aku ganggu waktu tidur Mas. Tapi ..."
"Tapi apa?"
"Kenan dirawat di rumah sakit, Mas. A-aku ... tadi Kenan nanyain kamu terus. Kamu bisa ke sini sebentar gak? Besok juga gak papa, sebentar aja," mohon Shireen.
Audi juga mendengar jelas percakapan itu, dan meski Ibra sudah menjelaskan semuanya, Audi tetap belum merasa lega, karena mau bagaimanapun Ibra tak bisa sepenuhnya lepas dari bayang-bayang Shireen dan anaknya. Terlebih Ibra terikat rasa bersalah pada temannya. Kalau seperti ini Audi harus apa?
"Tapi kalau Mas lagi tugas, gak papa, kok. Nanti aku coba jelasin sama Kenan."
Ibra menatap Audi dalam. Ia tahu apa yang Audi pikirkan sekarang. Ibra meraih tangan Audi dalam genggamannya. "Saya ke sana," putus Ibra.
Ia tersenyum, lalu berucap tanpa suara pada Audi. "Kamu ikut."
__ADS_1
Audi tahu, sekarang saatnya dia memasuki dunia Ibra yang sesungguhnya. Bisakah Audi menerima kenyataan-kenyataan yang akan berdatangan selanjutnya?