
"Kamu langsung pulang?" Edzar bertanya pada sang putra yang terlihat buru-buru sehabis meeting. Alhamdulillah, sepertinya bisnis baru mereka memiliki tingkat keberhasilan cukup tinggi.
Dulu Ibra tak begitu tertarik dengan bisnis, tapi semenjak keluar dari kesatuan militer, antara tidak ada pilihan lain, sekaligus berpikir mewujudkan keinginan papa mertuanya yang ingin ia beralih profesi menjadi pengusaha, Ibra pun mau tak mau terjun juga. Ternyata setelah sekian lama bergelut dalam bidang tersebut, Ibra rasa cukup seru juga mengelola setiap usaha dengan keuntungan jauh lebih fantastis dan menjanjikan.
"Iya, Pi. Audi lagi gak enak badan, kasihan kalau ditinggal lama-lama," sahut Ibra, menjawab pertanyaan Edzar.
Edzar yang berjalan beriringan bersama Ibra keluar kantor, sontak menoleh mendengar hal tersebut. "Audi sakit?"
"Iya, tadi pagi dia muntah - muntah sampai gak bisa makan. Sekalinya mau, malah minta jambu. Tapi tadi aku suruh Bik Ilah buat mastiin supaya Audi makan. Semoga dia nurut dan gak nakal," tutur Ibra.
Ibra menekan remot kontrol hingga mobilnya berbunyi. Ia membuka pintu kemudi dan bersiap pergi ketika Edzar tiba-tiba menahannya. "Tunggu, Nak."
Ibra menoleh pada sang papi. "Kenapa, Pi?"
"Kamu bilang Audi muntah-muntah?"
Ibra mengangguk.
"Dia minta jambu?"
Sekali lagi Ibra mengangguk. Ia tak mengerti kenapa sang papi mengulang-ulang pertanyaa. Apalagi rautnya seakan penuh arti menatap Ibra.
"Ya udah, sana pulang. Kalau mau, besok kamu boleh gak masuk kerja, kok. Papa handle semua cabang yang kamu pegang," cetusnya tanpa diduga.
Ibra jelas bingung sekaligus khawatir. "Kok gitu, Pi? Nanti Papi kecapean lagi, lho? Udah, gak usah, cabang yang Ibra pegang biar jadi urusan Ibra. Papi cukup pegang sisanya aja. Gitu kan perjanjian kita?"
"Papi harus mulai jaga kesehatan dan kurang-kurangi waktu kerja."
Edzar menghela nafas. "Kan gak lama. Sehari dua hari, atau tiga hari masih oke lah. Pokoknya kamu harus siap mental di rumah. Takutnya kalau sambil kerja, kamu malah makin stress."
Kening Ibra berkerut dalam. Ia berusaha menyerap perkataan Edzar yang menurutnya kurang nyambung dan ngawur.
"Stress gimana?"
Namun lagi-lagi Edzar malah mengulum senyum penuh makna. "Pokoknya siap-siap aja. Jangan kaget tapi ya?"
"Apa sih?" decaknya bingung.
"Udah sana pulang." Edzar mendorong punggung Ibra supaya lekas memasuki mobil. Ia bahkan menutup pintunya selagi Ibra masih terbengong dengan raut terlihat bodoh. "Hati-hati nyetirnya, jangan ngebut. Sebelum itu coba tanya istrimu, dia mau dibelikan apa selagi kamu pulang."
Setelah mengatakan itu, Edzar langsung beralih memasuki mobilnya sendiri. Pria itu membunyikan klakson ketika melewati Ibra yang masih bergeming di balik kemudi. Edzar menggeleng sembari mendengus. Senyum kecil terbit dari sudut bibirnya.
"Ai, kayaknya kita mau punya cucu," ucapnya menelepon sang istri.
Sementara di rumah, Audi tampak uring-uringan karena ia merasa tubuhnya sedikit demam. Sedari pagi ia belum makan nasi, hanya buah-buahan segar yang entah sudah habis berapa kilo. Entah kenapa perasaan haus dan lapar terus melanda Audi. Ia lapar, tapi tak bisa makan nasi.
Tadi Audi sempat menyuruh asisten rumahnya beli bakso porsi jumbo. Tambah sambal dengan kuah bening panas, benar-benar racikan favorit Audi. Tapi, sekarang ia lapar lagi.
Akhirnya Audi pun berinisiatif menghubungi Ibra. Ia senang ketika teleponnya diterima pada dering pertama. Pasti Ibra kebetulan sedang pegang ponsel.
"Assalamualaikum, Sayang?" sapa Ibra di seberang sana.
"Wa'alaikumsalam, Mas Sayang~" balas Audi manja.
Ia yakin saat ini Ibra tengah mengerutkan kening aneh. Bodo amat, yang penting Audi senang. Tidak tahu kenapa ia ingin sekali bermanja pada Ibra.
"Mas kapan pulang?" Audi bertanya dengan nada mendayu yang jarang ia lakukan. Ibra sampai diam sesaat sebelum kemudian menjawab.
"Ini lagi mau jalan. Kenapa?"
Audi mengulum senyum. "Gak papa. Cepat pulang. Audi mau peluk Mas."
Kini Ibra benar-benar dibuat heran. Ia jadi teringat perkataan sang papi dan iseng bertanya. "Iya, Sayang. Kamu ... mau dibelikan apa?"
"Ayam geprek bensu!" seru Audi semangat.
Ibra terkekeh. Ia senang Audi sudah mau makan. Padahal dia tidak tahu saja sedari pagi perut Audi memang sudah terisi, meski bukan oleh nasi.
"Level yang biasa kamu makan, kan?"
"Iya. Cepat ya, Mas, aku lapar~"
Lagi-lagi Ibra terkekeh. Ia menggeleng kecil, merasa gemas sendiri dengan suara Audi yang merengek-rengek. "Iya, Sayang ... ya sudah, Mas tutup dulu teleponnya, ya? Ini mau nyetir, kamu kan larang Mas berkendara sambil telepon?"
"Iya, hehe. Aku tunggu ya Mas."
"Ayam gepreknya," lanjut Audi.
"Ayam gepreknya atau Masnya?" goda Ibra.
"Iihh ... dua-duanya, sih, hihi." Audi terkikik. "Mas Ibra hari ini berkeringat, kan?"
Ibra mengernyit. "Kok pertanyaan kamu semakin random?"
Karena tak ingin membuang waktu, Ibra pun terpaksa mulai menyalakan mobil dan keluar dari parkiran. Ia menyimpan ponselnya di dashboard dengan loudspeaker menyala.
"Aku tanya Mas Ibra berkeringat, kan?"
Meski bingung kenapa Audi bertanya demikian, Ibra tetap menjawab. "Keringetan lah, Sayang. Rebahan aja keringetan, apalagi Mas kerja dari pagi sampe sore begini, kamu masih tanya Mas keringetan apa enggak?"
"Hehe, ya udah kalau gitu. Mas Ibra nyetirnya hati-hati. Audi tutup, ya, assalamualaikum ..."
"Wa'alaikumsalam," sahut Ibra menjawab salam. Ia kemudian bergumam. "Aneh banget."
***
Sesampainya di rumah, Ibra langsung disambut pelukan dan senyum Audi yang lebar. Anehnya wanita itu terus bergelayut hingga Ibra menyimpan semua belanjaan di dapur. Beberapa porsi ayam geprek untuk Audi dan seluruh asisten rumah, juga bebek panggang dan sambal gami untuk Ibra sendiri.
__ADS_1
"Sayang? Ini kamu ngapain, sih?" tanya Ibra geli. Pasalnya Audi tak berhenti menguselkan hidungnya ke permukaan kemeja Ibra yang sudah kusut seharian ia pakai.
"Mas Ibra wangi," jawab Audi pendek.
Makin aneh. Ibra pasrah saja dengan tingkah menggemaskan Audi. Ia berkutat mengeluarkan makanan dari kantung beberapa kantung kresek.
"Ini ayam gepreknya?"
"Taro aja."
Menghela nafas, Ibra pun menyimpan bagian Audi lantas memanggil Bik Ilah untuk membagikan sisanya pada pekerja. "Bik, ini tolong bagiin, ya? Jumlahnya delapan, semuanya kebagian termasuk Pak Yanto dan Pak Jeje, ya."
Pak Yanto adalah satpam yang menjaga gerbang, sementara Pak Jeje adalah supir yang kerap mengantar Audi ke manapun. Ibra sendiri sering menggunakan jasa beliau jika sedang malas menyetir.
"Masya Allah ... punya majikan baiknya gak ketulungan. Semoga rezeki suaminya Eneng ini lancar terus ya, Neng?"
"Aamiin ..." Audi dan Ibra menyahut bersamaan.
Selepas Bik Ilah pergi membawa berporsi-porsi ayam geprek, kini tinggal Ibra berdua dengan Audi di dapur. Ibra menggiring Audi untuk duduk di kursi bar, namun ketika Ibra hendak duduk di kursi satunya, ia kesulitan karena Audi tak kunjung mau melepas pelukan.
"Yang? Lepas dulu, dong. Ini gimana Mas mau duduk?" Ibra menunduk melihat Audi yang membenamkan wajah di sela ketiaknya.
"Astaghfirullah al adzim, Sayang ... kamu kenapa, sih? Ini Mas mau duduk, Sayangku," ucap Ibra geregetan.
"Bentar dulu, kangen~"
Ibra mengerjap, lalu mendongak menatap lampu-lampu yang berkilau di atas mereka. Ia sungguh bingung, kenapa sang istri mendadak jauh lebih manja seperti ini.
"Katanya lapar, mau makan? Ayo makan? Mas ambil nasi dulu, kita makan bareng, ya?"
Kruyuuuk ...
"Tuh, perut kamu bunyi. Awas dulu, Mas ambil nasi."
Seolah tak rela, Audi pun menjauhkan tubuhnya dengan bibir mengerucut. Ibra mengusap sejenak rambut Audi, lantas berlalu mengambil nasi.
Tak berapa lama ia kembali dengan dua piring nasi hangat beserta air putih untuk minum. Melihat gundukan nasi, Audi sontak menggeleng merasa enek. "Aku gak mau pake nasi!"
Ibra berhenti. "Lho? Terus, mau ayam gepreknya aja?" tanyanya bingung.
"Huum." Audi mengangguk.
"Enakan pake nasi, Sayang."
"Enggak mau, aku maunya ayam aja."
Mendengar Audi yang kekeh, Ibra pun tak bisa berbuat banyak. Ia meminggirkan piring nasi yang semula untuk Audi, dan hanya menghidangkan ayam geprek di depan wanita itu.
"Silakan. Kalau kamu berubah pikiran bilang, ya?"
Audi hanya mengangguk. Ia mulai sibuk mencicipi ayam geprek pesanannya, begitu pula Ibra yang kini tengah bersiap makan dengan bebek panggang miliknya. Tak hanya itu, rupanya Ibra juga menyiapkan lauk lain seperti tumis pare dan tentunya pete, yang satu itu tak boleh ketinggalan.
Ibra yang tengah nikmat-nikmatnya makan sambel, dituntut untuk berhenti dan menoleh pada Audi. "Apa, Yang?"
"Gepreknya gak enak~"
Ibra mengerjap. "Tapi itu yang biasa kita beli kalo di bensu. Levelnya juga udah sesuai sama yang biasa kamu pesan?"
Audi merengut, ia justru menatap iri pada bebek panggang yang dilumuri sambal gami di piring Ibra. "Punya Mas kelihatan lebih enak."
Ibra bergeming sesaat, kemudian terkekeh. "Ooh ... kamu mau ini? Bilang, dong. Ini Mas suapi, ya?"
Seketika Audi tersenyum lebar. Ia mengangguk antusias melihat Ibra yang hendak menyuapinya.
"Aaa ..." Ibra mengulurkan secomot nasi yang sudah dipadu dengan bebek dan tumis pare. Ia tahu Audi tak suka pete.
Audi mengunyah sambil mengangguk-angguk puas. "Enak. Dari tadi aku gak bisa makan nasi."
Tanpa sadar Audi keceplosan. Terbukti Ibra langsung berhenti dan menoleh pada wanita itu dengan senyum yang perlahan surut. "Kamu bilang apa?"
"Ha?"
"Tadi bilang apa? Gak makan nasi? Dari kapan? Pagi?" tanya Ibra beruntun.
Mati! Kenapa harus keceplosan, sih? Alamat kena interogasi ini.
Audi meringis gugup. "Itu ..."
Ibra menghela nafas. "Kamu lumayan bandel juga, ya? Terus dari tadi makan apa?"
"Buah," cicit Audi. "Tapi kenyang, kok. Perutku sampe begah. Sekarang baru lapar lagi," lanjutnya mencari pembelaan.
"Buah?" Ibra sedikit ternganga tak percaya.
"Iya. Bukannya Mas Ibra pernah bilang, vegetarian itu bagus?"
Ibra tidak tahu lagi harus bicara apa. "Memang bagus, Claudia. Tapi kamu juga butuh asupan lemak dan protein hewani. Hidup itu harus seimbang. Emang kamu makan buah seberapa banyak bisa sampai kenyang seharian?"
Audi menggaruk dahinya menggunakan punggung tangan. "Aku gak tahu. Tapi ... anggur yang Mas Ibra beli import itu ... udah habis."
Hening. Audi berpikir Ibra marah. Iyalah marah, itu anggur harganya 6 ratus ribu per-packing. Namun alih-alih marah, Ibra justru tampak membuang nafas dan kembali menyuapi Audi.
Tapi lelaki itu terus diam, Audi kan jadi gelisah sendiri dibuatnya.
"Mas Ibra marah?"
"Enggak," jawab Ibra pendek.
__ADS_1
"Mas Ibra marah," cetus Audi.
Lagi, Ibra membuang nafas. "Makan, Cla. Aaa ..."
Audi menerima setiap suapan Ibra dalam diam. Matanya tak berhenti memperhatikan sang suami yang sulit ditebak dalam ekspresi tenangnya.
"Mas Ibra, iiih ..."
"Aku minta maaf. Nanti aku ganti, deh, anggurnya. Janji."
Ibra mendongak, dan ia berdecak mendapati mata Audi yang berkaca. "Apa, sih, kok nangis?" Ia mengusap ujung mata Audi menggunakan tangan kirinya yang bersih.
"Mas Ibra marah karena anggurnya aku habisiiinn ... Hiks."
Entah ada apa dengan suasana hatinya, tapi perlakuan Ibra barusan benar-benar membuat Audi sakit hati dan ingin menangis.
"Ini bukan masalah anggur," tegas Ibra. "Tapi kamu yang semena-mena sama pola makan. Udah tahu asam lambung suka kumat, masih aja gak bisa atur mana yang boleh dimakan mana yang enggak."
"Percuma juga Mas larang-larang kamu, toh gak pernah ada satupun yang kamu turuti. Mas larang kamu makan pedas, kamu malah keenakan makan seblak. Mas larang kamu makan asam, kamu malah enak makan nanas. Bukan gak boleh, tapi lihat dulu porsinya."
"Hiks, maaf~"
Ibra tak menjawab. Ia kembali mencomot nasi, meminggirkan sambal yang menempel pada daging bebek, lalu menyuapi Audi lagi. Audi yang takut semakin di omeli pun tak punya pilihan lain selain menerima nasi yang disuapkan Ibra.
Hingga selesai makan pun Ibra tetap diam. Ia bahkan tak menegur Audi ketika menaiki tangga menuju kamar mereka. Pria itu pasti hendak mandi. Sementara Audi masih setia duduk di dapur sambil meratapi air matanya yang sedang lebay penuh drama.
"Hiks, ini gara-gara kamu. Kenapa, sih, kamu gak mau makan nasi, Nak? Ayah kamu jadi marah, tau." Audi menangis sambil berbicara sendiri mengusapi perut.
Ia tak tahu kalau Ibra tak jadi naik ke atas, dan kini sudah berada di belakangnya. Bukan tak jadi, Ibra justru balik lagi karena menemukan sesuatu di kamar mereka.
"Cla?" panggilnya pelan, membuat Audi seketika terjengit.
Tubuh Audi menegang saat menoleh ke belakang. Ia segera mengusap air matanya yang mengalir kurang ajar. Audi menatap Ibra gugup. "M-mas Ibra? Kok, gak jadi mandi?" Suaranya masih tersengal dalam isakan.
Ibra bergeming tak menjawab, namun matanya menunduk mengamati sesuatu di tangannya. Audi mengikuti arah pandang Ibra dan kembali dibuat terpaku.
"Kamu pakai testpack?" Pertanyaan tersebut keluar dari mulut Ibra. Ia mendongak melihat Audi lagi.
Masih larut dalam hormon emosionalnya, Audi pun mengangguk sambil terseguk pelan. "Iya," cicitnya menyerupai bisikan.
"Tapi, itu gak tahu benar atau enggak. Katanya, kita harus tetap periksa ke dokter atau bidan," lanjut Audi parau.
Audi mendongak melihat ekspresi Ibra yang hanya diam membatu. Hal itu membuat Audi gelisah tak karuan. Suasana macam apa ini? Ini sama sekali bukan respon yang Audi harapkan. Maunya seperti artis-artis yang direkam ketika menunjukkan alat tes kehamilan pada sang suami, terus si suami bersorak bahagia sambil menggendong dan memutar tubuh istrinya.
Gagal sudah niat Audi membuat konten romantis begitu. Mana raut Ibra datar-datar saja. Ingin rasanya Audi menjerit memaki pria itu. Dasar gak peka!
"Mas Ibra?" panggil Audi hati-hati. Ia canggung karena Ibra terus bungkam.
Lalu tak lama kemudian pria itu terkekeh sambil memijat pangkal hidungnya dengan ekspresi tak percaya. "Bisa-bisanya Mas gak sadar hal ini," bisiknya pelan, lebih pada diri sendiri.
Ibra menurunkan tangannya lalu melihat Audi. Jika Audi tidak salah mengartikan, sorotnya bercampur senang, haru, sekaligus tak menyangka. Ibra kembali tertawa lirih, kali ini sambil meraup tubuh Audi ke dalam pelukan.
Ibra memeluk Audi erat, sangat erat sampai rasanya Audi kesulitan mendapat oksigen untuk bernafas. "Masya Allah, Cla ... Betapa bodoh Mas gak menyadari hal ini sedari awal. Mas benar-benar dibutakan oleh rasa khawatir. Betapa jahatnya Mas malah omelin kamu, padahal kamu memang sedang sulit memilah makanan. Mas minta maaf, Sayang. Astaghfirullah al adzim, suami macam apa Mas ini."
Ibra tak henti menyuarakan penyesalannya dalam pelukan Audi. Ia mengusap, mencium, dan menghirup dalam-dalam aroma rambut sang istri yang ia tahu kemarin baru mendapat perawatan.
"Maafkan Mas, Cla. Maaf, Sayang." Ibra tidak tahu lagi harus bicara apa. Matanya berlinang penuh kebahagiaan. Ibra menangis, ia seolah baru mendapat kenyataan yang terlahir dari mimpi.
Audi balas memeluk Ibra dan semakin terisak dalam dekapan pria itu. Mereka saling mendekap satu sama lain, berbagi rasa senang yang membaur membentuk sebuah euforia.
"Iya, Mas. Lagian aku emang lagi lebay dan penuh drama aja, hiks. Mas Ibra pasti anggap aku aneh seharian ini."
Ibra tersenyum. Ia mengelus kepala Audi lembut penuh perasaan. "Memang. Tapi Mas senang setiap kali kamu manja sama Mas."
"Masa?" tanya Audi parau.
"Hm. Gemas."
"Jadi ... ini beneran positif kan, Sayang? Serius, Mas masih gak nyangka bisa pegang dan lihat beginian langsung. Dulu pernah lihat punya Mami, sekarang Mas justru lihat punya istri sendiri," ucap Ibra penuh haru. "Kamu benar-benar pintar bikin kejutan, Cla."
Audi membersit hidungnya yang basah, sekalian mengelapnya dengan kemeja Ibra yang kini turut basah. "Maunya bikin kejutan, tapi gagal," rengut Audi.
"Padahal aku udah siapin kamera di kamar," lanjutnya menggerutu. "Kalau aja Mas Ibra gak pake acara marah segala, mungkin aku udah berhasil bikin konten romantis ala-ala artis IG! Hiks!"
Ibra hanya tersenyum menanggapi keluhan tersebut. "Kamu mantan artis IG, gak perlu lah pusing-pusing lagi bikin begituan. Lagian apa manfaatnya coba? Bahagia itu hanya kita yang rasakan."
"Ya tapi tetap aja aku gatel pengen mengabadikan~" Audi menggasak kaki uring-uringan.
Di tengah obrolan mereka, tiba-tiba saja sebuah suara menyeruak membuat terkejut keduanya. "Tenang, Audi. Harapan kamu enggak pupus, Sayang. Karena Mami sudah abadikan momen membahagiakan ini sejak tadi. Lengkap dan terpercaya!"
"Mami?" beo Ibra dan Audi hampir bersamaan.
"Kok, Mami bisa ada di sini?" tanya Ibra terheran-heran. Audi juga tak tahu menahu kapan mami mertuanya itu datang.
Safa tampak mengangkat dagu, mengibas hijab yang dililitnya dengan gaya tukang karedok jaman uzur, menunjukkan keglowingan wajahnya yang bersinar. "Untung Papi kamu udah kasih tahu Mami lebih dulu. Jadi Mami gak ketinggalan berita kayak kamu," ucapnya menyindir Ibra.
Sementara Ibra dan Audi masih terbengong, Safa kembali mengotak-atik ponselnya yang baru saja ia pakai merekam. "Nah, ini video tinggal kamu edit. Aahhh pintar kali lah Mami!"
Wanita itu lalu berlari ke ruang depan. "A Uda! A Uda! Kita beneran mau punya cucu!!!"
"Mas?" gumam Audi.
"Hm?"
"Itu Mami kenapa?"
"Gak tahu."
__ADS_1
Mereka masih sama-sama bergeming ketika mendengar suara ramai di depan rumah. Bukan hanya suara Edzar dan Safa, melainkan Dava dan Lalisa juga.
Bagaimana bisa para orang tua itu mendapat informasi dengan cepat? Audi bahkan belum bilang siapa pun.