
"Mas Ibra ..." cicit Audi sangat pelan. Matanya melirik Ibra yang tengah menyetir di sampingnya.
Mereka baru saja pulang dari pemakaman Kenan, dan Audi dibuat resah oleh raut Ibra yang sedari tadi seolah enggan bicara padanya. Audi ingin menangis, hal ini sungguh membuat jantungnya berdetak sakit karena cemas. Apalagi Ibra tak kunjung menyahut sampai mereka tiba di pekarangan rumah Om Edzar di Jakarta.
Seperti biasa, selama mereka di ibu kota, rumah ini pasti menjadi solusi tempat tinggal.
"Mas?" Audi mengikuti Ibra keluar mobil. Ia berusaha mengimbangi langkah panjangnya meski kewalahan.
Ibra memasuki rumah, begitu pula Audi yang turut menaiki tangga dengan cepat karena Ibra seolah tak ingin mendengar penjelasannya.
"Mas, tunggu!" Audi tak berhenti berseru mengejar Ibra.
Ibra membuka pintu kamar sedikit kasar, lalu pergi ke balkon dan berdiam diri di sana. Kepalanya menunduk sambil memegangi railing pembatas, membelakangi Audi yang berdiri gelisah di balik punggungnya.
"Mas ..."
"Kenapa kamu gak pernah bilang kalau Kenan sakit?" tanya Ibra datar. Ia berbalik menghadap Audi, menatapnya minta penjelasan.
Audi berdiri kaku. Ibra belum pernah memandangnya dengan cara demikian, dan ini sangat membuat hati Audi seakan dipukul godam.
"A-Aku ..."
"Kamu juga gak pernah bilang Kenan sering telpon dan cari Mas?"
"Maaf ..." cicit Audi menunduk. Ia menggeleng rikuh berusaha menjelaskan. "Aku gak maksud menyembunyikan ini dari Mas."
__ADS_1
"Lalu apa?" tuntut Ibra.
Audi terdiam bungkam. Ia tak berani untuk sekedar mendongak dan hanya bisa meremas jari jemarinya gelisah.
"Mas udah percaya sama kamu, Cla. Mas percaya kamu bisa jadi solusi antara Mas dan Kenan, menjadi perantara komunikasi kami berdua. Kenan memang bukan anak Mas, tapi kamu tahu sendiri hubungan Mas dan dia bagaimana. Mas terikat amanat dari Rega, Cla. Harusnya kamu tahu sekarang perasaan Mas bagaimana. Kamu tahu seberapa besar rasa bersalah Mas karena gagal membesarkan Kenan."
"Kenan meninggal, dia bahkan sakit tanpa Mas tahu," tambah Ibra.
Audi terisak di tempatnya. Ia memang salah. Ia egois karena menghalang-halangi Ibra dan Kenan untuk berinteraksi walau hanya lewat suara. Audi mengaku, ia memang sengaja tak mengirimkan undangan pernikahan yang sebelumnya Ibra peruntukkan untuk Shireen dan juga Kenan. Alasan mengapa mereka tidak datang di pernikahan ia dan Ibra tempo lalu.
Audi juga salah karena tak memberi tahu Ibra tentang kondisi Kenan di rumah sakit. Bukan, Audi mau memberi tahu Ibra, tapi ia tahu Ibra sibuk dan selalu pulang dalam keadaan lelah karena bekerja. Audi jadi urung karena takut kesehatan pria itu terganggu jika harus menambah perjalanan ke Jakarta.
Dan juga ... ia cemburu. Kecemburuan membutakan hati Audi hingga ia tega berbuat demikian. Audi mengaku ia salah, benar-benar salah.
Melihat itu Audi langsung bersimpuh dan memeluk kaki Ibra sambil menangis. Ia terus menyerukan kata maaf berkali-kali pada Ibra, meski lagi-lagi tak mendapat tanggapan.
Ibra memejamkan mata dengan bibir mengatup rapat. Nafasnya terbuang panjang sebelum kemudian ia mengusap wajahnya kasar. Ibra lalu menunduk menatap Audi yang tersedu pilu, tak pelak hatinya juga turut merasa ngilu.
Ibra mengusap kepala Audi, perlahan ia berjongkok, lalu membawa sang istri ke dalam pelukan. Tanpa kata ia ciumi sisi kepala Audi, mengusap halus punggung wanita itu sambil berkali-kali meredakan emosi.
"Aku minta maaf, Mas ... Hiks. Aku ... aku benar-benar tidak bermaksud bohong. Aku ... cuman gak tega lihat wajah lelah Mas Ibra. Dan aku ... a-aku ... aku juga cemburu. Aku cemburu kalau Mas Ibra terus berkomunikasi dengan mereka. Aku seorang istri yang egois, Mas," lanjut Audi tercekat. "Aku salah. Aku benar-benar minta maaf ... Hiks. Aku minta maaf karena melalaikan kepercayaan Mas Ibra. Aku minta maaf, Mas ..."
Ibra tak menjawab, namun tangannya tak berhenti mengusap kepala hingga punggung Audi perlahan. Ibra memang kecewa karena sikap Audi yang demikian benar-benar tak patut dicontoh, tapi ia juga tak bisa sepenuhnya menyalahkan sang istri karena cemburu itu wajar dirasakan setiap pasangan.
Dan lagi, mau semarah apa pun, mau Ibra bagaimana pun, takdir tetaplah berjalan dengan semestinya. Kepergian Kenan sudah ditetapkan oleh Tuhan, ia sebagai manusia tak bisa berbuat apa-apa apalagi meminta Kenan kembali, hanya karena ia merasa bersalah tak mendampingi anak itu di saat-saat terakhirnya.
__ADS_1
"Sstttt ... berhenti menangis. Mas gak bisa lihat air mata kamu. Maaf jika kamu merasa tertekan oleh sikap Mas tadi," bisik Ibra. Ia kembali mengecup kepala Audi yang terlapisi hijab.
Ibra berusaha keras menenangkan Audi yang terseguk dalam dekapannya. Emosi mengalahkannya sesaat, sekarang Ibra malah menyesal karena membuat Audi menangis seperti ini. Padahal ia sendiri tahu Audi tangah mengandung anaknya.
"Maaf, Sayang. Sudah, jangan menangis lagi. Kamu berhak bersikap demikian karena kamu istri Mas, sudah pasti kecemburuan untuk orang lain itu ada. Mas hanya menyayangkan, kenapa kamu tidak bilang kalau Kenan menelpon dan ingin bicara sama Mas? Mas benar-benar merasa bersalah sama dia, Cla." Ibra memeluk Audi semakin dalam. Ia membenamkan wajahnya di sela pundak Audi, turut membersit hidung yang kini kembali basah oleh rasa tertahan.
Bukan hanya Audi, Ibra juga menangis merasakan duka mendalam. Bagaimana pun, Kenan pernah menjadi anak sambungnya walau hanya sebentar. Di luar itu dia juga seorang anak dari sang sahabat, yang dipercayakan untuk Ibra jaga dan besarkan.
Kepergian Kenan secara refleks membuat Ibra merasa gagal menjalankan amanat dari Rega. Tapi, meski begitu Ibra tak sepatutnya menyalahkan Audi atas apa yang terjadi. Ia tak bisa serta-merta melampiaskan perasaan berkecamuknya pada sang istri.
"Audi minta maaf, Mas," ucap Audi parau.
Ibra mengangguk. "Iya, Sayang. Sudah, semua sudah menjadi jalan Allah. Mungkin dalam hal ini ada hikmah yang bisa kita ambil. Entah apa pun itu, karena dalam setiap keburukan ada kebaikan, dalam kesulitan ada kemudahan, dalam ujian pasti ada jalan, dalam kesedihan pasti ada bahagia yang menanti. Kita sebagai manusia hanya bisa berencana tanpa tahu jalan kita sebenarnya ke mana. Mungkin juga ... ini rencana Allah untuk menentramkan rumah tangga kita. Mas tahu kamu sering keberatan setiap kali Mas berurusan dengan Kenan maupun Shireen. Kamu seringkali menahan cemburu pada mereka. Mas mengerti perasaan kamu. Untuk itu, mari kita sama-sama ambil positf dan saling menguatkan satu sama lain. Mas akan belajar lebih terbuka lagi sama kamu, begitu juga kamu harus lebih terbuka sama Mas."
"Karena dalam hubungan rumah tangga harus saling mengerti dan memahami, menjaga komunikasi. Jujur dalam segala hal. Pantang bagi seorang pasangan menyembunyikan sesuatu satu sama lain. Mas jujur sama kamu, kamu juga jujur sama Mas. Semoga hal ini bisa menjadi pelajaran buat Mas maupun kamu, Claudia."
Audi mengangguk lirih dalam pelukan Ibra. Ia melingkarkan lengannya erat mendekap sang suami. Ibra benar, mereka harus lebih terbuka lagi dalam segala hal. Audi menyadari kesalahannya yang tidak jujur pada Ibra.
Bukan hanya pria itu, tak pelak Audi juga turut merasa bersalah. Karena sikap egoisnya, Kenan kehilangan kesempatan bicara dengan Ibra untuk terakhir kali.
Tante minta maaf, Kenan. Semoga kamu tenang di sisi Allah, semoga kamu termasuk dalam jajaran calon penghuni surga-Nya kelak. Aamiin.
***
__ADS_1