Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 91


__ADS_3

"Ini gimana, Tante? Kayak gini motongnya?" Audi bertanya pada Safa yang juga tengah berkutat di meja dapur..


Tante Safa bilang mau bikin puding buat menyambut kedatangan suaminya nanti, tak lain Om Edzar yang katanya suka sekali puding buah buatannya.


"Iya, kamu potong saja sebisanya," ujarnya santai.


Tante Safa juga hendak menggoreng ayam tepung yang sudah dimarinasi sejak kemarin. Sepulang belanja, ia minta Audi menemaninya masak dan makan siang. Audi sudah benar-benar seperti menantu di sini.


"Itu kamu lebih pinter dari Tante dulu pas masih gadis. Pokoknya parah, ngupas buah aja tumpah-tumpah, sampai-sampai Oma kamu marah dan gak izinin Tante ke dapur lagi. Haha."


Audi turut terkekeh. "Serius, Tante?"


"Serius. Oma kamu itu galak dan cerewet banget, apalagi soal dapurnya, dia benar-benar jaga bersih dan gak suka dapurnya kotor meski itu secuil minyak sebesar tusukan jarum."


Wah, Audi menggeleng tak percaya. Oma Halim memang cerewet, tapi tak disangka ternyata seperfeksionis itu.


"Mama juga cerewet," cetus Audi.


Safa terkekeh. "Semua ibu pasti cerewet pada anaknya. Entah itu memberi saran, menasehati, memberi larangan, banyak hal yang membuat kita sebagai ibu jadi cerewet, tapi itu semua demi kebaikan anak. Perempuan yang kamu lihat di luar kalem pun, kalau di dalam rumah dia pasti cerewet juga sama anaknya. Gak percaya? Coba kamu rasain sendiri saat jadi ibu nanti."


Audi melipat bibir ketika mendapat lirikan menggoda dari sang tante. Mau tak mau ia malu karena teringat Ibra. Tanpa bisa dicegah, bayangan pernikahan antara dirinya dan Ibra melayang-layang di kepala. Audi sampai harus menggeleng demi tetap fokus menginjak daratan.


Selanjutnya Tante Safa mengeluarkan ayam yang sudah dimarinasi dari kulkas. Ia menyingkirkan dulu bahan puding dan mulai menyiapkan tepung, telur, serta bahan lain untuk menggoreng.


Kurang lebih tiga puluh menit ayam goreng tepung sudah siap disajikan. Wanginya membuat Audi ngiler ingin segera menyantap, apalagi disiram saus sambal, duh, perut Audi keroncongan.


Tapi mereka masih belum selesai. Tante Safa meniriskan cairan puding ke dalam cetakan, menunggu hingga sedikit dingin sebelum memasukkan beberapa potongan buah yang tadi sempat Audi siapkan, lalu menuangkan lagi cairan puding panas untuk membalut buah-buahan tersebut. Begitu pula seterusnya hingga cetakan penuh.


"Nah, selesai. Yuk, makan dulu. Oh ya, tadi kita sempat beli tumis. Di mana, ya?"

__ADS_1


Audi celingukan sebentar, kemudian ia menunjuk sebuah kresek putih yang tergeletak di sudut meja bar. "Ini kali, Tante."


"Nah, bener. Bentar, Tante siapin dulu nasinya." Tante Safa beralih menuju wadah penanak nasi dan mengambil beberapa centong untuk mereka berdua.


"Eh, Mama kamu gak suruh ke sini? Barangkali kita makan bareng?"


"Mama tadi beli bakso, Tan."


"Oh, gitu? Ya udah deh, kita makan berdua aja gak papa, ya?"


"Iya, Tante."


Audi membantu membawa makanan dan mengikuti Safa yang ternyata berjalan ke teras belakang. Di sana ada seperangkat kursi serta meja yang cukup muat untuk menampung piring-piring makanan mereka.


Audi mulai duduk di seberang sang tante yang tampak antusias, entah karena makanan atau karena makan dengan Audi. Baru saja Audi mau mencomot ayam tepung, tangannya disentil pelan oleh Tante Safa.


Audi mendongak sembari mengerjap. "Kenapa, Tante?"


"Ya?" Audi terbengong.


"Sebentar, Tante fotoin kamu, ya?"


"Lho, bukan makanannya?" Audi kira Tante Safa mau memotret hasil masakannya. Kok, jadi Audi?


"Hehe, buat kirim ke Ibra," cetusnya polos.


Safa mulai mengarahkan kamera ponselnya pada Audi yang masih betah melongo. Sementara Audi hanya bisa tersenyum kecil ketika sang tante mulai menghitung dari satu sampai tiga.


Ada sekitar lima jepretan foto Audi, tiga jepretan makanan, dan foto selfie mereka yang entah ada berapa. Haduh, ternyata Tante Safa belum meninggalkan jiwa selebgramnya. Ia masih centil dan senang sekali mengambil gambar.

__ADS_1


"Mari makaaaan!!!" seru wanita itu, ceria.


Audi meringis, akhirnya setelah menunggu beberapa lama, Audi bisa mencicip satu persatu makanan di meja. Rasa lapar yang sempat terhalang konten pun kini terpuaskan dengan satu gigitan dari ayam tepung buatan Tante Safa.


Enak, pakai banget. Audi hampir tak percaya Tante Safa pernah begitu payah di dapur. Ternyata dengan kebiasaan dan berlatih bisa mengubah semua ketidakmampuan. Audi jadi berpikir, apa ia juga harus mulai belajar memasak? Sepertinya seru juga membuat makanan dengan tangan sendiri.


"Ibra belum balas pesan Tante. Dia sibuk banget, ya. Kalau siang hampir tidak pernah pegang ponsel, kalaupun pegang tak pernah lebih dari sepuluh menit, Tante rasa."


Audi mengangguk membenarkan. Kegiatan Ibra memang sepadat itu.


"Tante harap kamu bisa menerima kekurangan Ibra yang ini, Audi. Bukan hanya ini, tapi kekurangan-kekurangan lainnya juga." Tante Safa mendongak, melempar senyum pada Audi.


Wajah awet mudanya menatap gadis itu teduh. Sesaat Audi merasa ia tengah menyelami mata Ibra. Entahlah, menurut Audi, Ibra lebih banyak menuruni gen Tante Safa. Meski lelaki itu tidak sipit seperti maminya, tapi kulitnya tak segelap Om Edzar.


"Mungkin Ibra tak selamanya bisa menemani kamu setiap saat, tapi cintanya jelas tulus untuk kamu. Ibra itu persis papinya, dia kalau sudah cinta dengan satu wanita, ribuan wanita sekalipun sulit untuk membuatnya berpaling. Terbukti meski sempat menikah dengan Shireen, Ibra tak bisa serta-merta membuang perasaannya terhadap kamu, kan?"


"Sama kayak Om kamu, dulu dia juga tetap mencintai Tante meski sudah menikah dengan seseorang. Tapi memang dasar jodoh, kita tidak tahu rencana Tuhan bagaimana. Ujung-ujungnya kita dipersatukan juga. Haha, kadang takdir itu membuat kita lucu."


Audi tersenyum. Ia sudah tahu kisah tentang Tante Safa dan Om Edzar yang begitu penuh lika-liku, dan Audi selalu dibuat terharu sekaligus kagum dengan ikatan keduanya. Hebatnya meski sudah berpuluh-puluh tahun menjalani rumah tangga, mereka masih tetap harmonis dan mesra. Tak jarang Audi mendapati Tante Safa dan Om Edzar saling memanggil dengan panggilan sayang.


"Begitu pula kamu dan Ibra. Audi, kalau Tuhan memang menghendaki kalian berjodoh, sesulit apa pun jalan yang ditempuh, Tuhan akan selalu memberi kalian jalan untuk mencapai pernikahan."


"Meski saat ini Papa kamu belum menerima Ibra, setidaknya dengan adanya dukungan dari kamu, Ibra bisa jadi lebih semangat."


Setelah bicara demikian, Tante Safa tiba-tiba terdiam. Rautnya seperti tengah keceplosan akan sesuatu.


Audi mengernyit dalam. "Maksud Tante?"


Sang tante tergagap melarikan mata. Jelas sekali ia tengah gugup terhadap Audi.

__ADS_1


"Itu ...."


"Tante bisa jelasin yang barusan gak? Maksudnya apa Papa Audi gak menerima Mas Ibra? Mas Ibra udah temuin Papa dan Mama?"


__ADS_2