Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 98


__ADS_3

Pukul 2 dini hari, Audi dan keluarga sudah berkutat di dapur membuat menu hidangan untuk sahur. Audi lebih banyak diam memperhatikan ketimbang membantu, mau membantu juga ia tidak tahu harus membantu apa. Audi tak begitu pintar memasak.


Lagipula Lalisa dan Safa sudah melarang dan memintanya duduk saja bersama Oma. Sementara mereka berkutat membuat ini itu bersma asisten rumah tangga.


Audi menguap menahan kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Astaga, rasanya dia baru tidur sebentar saat sang mama membangunkannya dengan cara paksa. Padahal seharusnya Audi sudah cukup tidur selama 4 jam. Kalau tidak salah ia tidur sekitar jam sepuluh malam, usai teleponan dengan Ibra.


Meski berada di lokasi yang sama, Audi tak bisa terang-terangan berduaan dengan Ibra karena sang papa selalu mengamati. Alhasil mereka harus berpuas diri bicara hanya lewat telpon.


Satu jam kemudian semua menu masakan sudah terhidang di meja makan. Om Edzar dan Ibra nampak turun bersamaan setelah dibangunkan Tante Safa, sementara Papa Audi berjalan belakangan.


Mereka duduk memenuhi meja makan. Kali ini Audi tak duduk bersebelahan dengan Ibra karena pria itu memilih duduk di samping maminya. Mungkin tadinya Ibra juga hendak menempati kursi di samping Audi, namun urung ketika Dava menyerobotnya lebih dulu.


Oma meminta Om Edzar memulai doa, tak lupa mengingatkan niat sebelum puasa pada semuanya. Barulah setelah itu mereka mulai makan dengan tenang. Hari pertama puasa dan sahur pertama bersama keluarga, sungguh sesuatu yang menghangatkan sanubari Audi.


Hal tersebut memang sudah seperti tradisi yang kerap dilakukan mereka setiap menjelang Ramadhan. Usai sahur, semuanya berkumpul di ruang keluarga, menonton kajian agama yang seringkali hadir di waktu-waktu dini hari.


Audi melirik sebentar pada sang papa yang sibuk mengobrol bersama Oma Halim serta Om Edzar. Lalu pada sang mama yang juga berbagi percakapan dengan Tante Safa. Baru sadar, di sini hanya Audi yang sejak tadi bungkam scrolling hape sendirian. Ibra juga menghilang entah ke mana.


Audi celingukan mencari kekasihnya itu, pelan - pelan ia bangkit meninggalkan sofa lalu beranjak keluar. Di sanalah Audi menemukan Ibra, di teras depan villa yang dipenuhi cahaya remang.


Audi berjalan mendekat, perlahan mengikis jarak pada Ibra dan berdiri di samping tubuh jangkungnya. Sesaat menatap pagu bangunan di atas, Audi mendapati bulan sabit kecil masih bersinar menghiasi cakrawala.


"Mas Ibra lagi apa?" tanya Audi memulai pembicaraan.


Ibra menoleh sesaat, melempar senyum seteduh rembulan di atas yang membuat Audi sejenak merasa terpana.


"Cari udara segar. Udah lama banget Mas gak pulang ke sini. Apalagi Jakarta panas banget, makin kerasa perbedaannya," ucap Ibra menjawab pertanyaan Audi.


Suara puji-pujian dan bacaan ayat suci Al-Quran terdengar melantun saling bersahutan dari satu mesjid dan mesjid lainnya.


"Tapi gak semua Bandung sesejuk ini," tutur Audi menambahi. "Daerah - daerah lain udah kerasa panas kayak Jakarta."

__ADS_1


"Iya, sih." Ibra membenarkan.


"Berarti Mas besok balik ke Jakarta, ya?"


"Iya."


"Berangkat jam berapa?"


"Yaa ... pagi agak siang. Sekitar jam sepuluhan lah."


"Oohh ..." Audi mengangguk-angguk.


Hening. Udara dingin melingkupi mereka berdua. Audi merapatkan sweater sembari menggosok tangan. Tiba-tiba saja Ibra memanggil.


"Cla?"


"Hem?" Audi sontak menoleh. Ia mengangkat alis sebagai isyarat bertanya.


Ibra beralih menghadapnya, tangan besar pria itu meraih tangan Audi, mengusap jari - jemarinya yang menggigil kedinginan. Ibra lalu memasukkan kedua tangan Audi memasuki celah sweater hingga memeluk melingkupi pinggangnya.


"Ya?" Audi sedikit melotot terkejut.


"Kok kaget?"


"Emang Mas Ibra udah dapat restu dari Papa."


Ibra tersenyum sumir. "Belum, sih. Cuman pengen tahu aja dari sekarang. Kamu mau Mas lamar dengan konsep apa?"


"Konsep apa?" Audi malah ikutan bingung.


"Ya konsep. Siapa tahu kamu mau Mas lamar di hotel, restoran, kapal pesiar, atau apa gitu? Selebgram jaman sekarang Mas lihat kayak gitu." Ibra masih betah mengusap lengan Audi yang melingkari pinggangnya.

__ADS_1


Audi malah tertawa.


"Kok ketawa?"


"Ya abisnya Mas lucu. Belum juga ngelamar udah nanyain konsepnya apa. Haha."


"Apa yang salah? Mas tanya kan sebelum lamaran terjadi, ini bisa disebut sebagai persiapan," ujar Ibra bingung.


"Iya ... tapi lamaran menurut aku itu bukan soal konsep dan segala macem yang bisa kubuat agar kontenku bagus, Mas. Aku mau lamaran yang sakral, resmi, dan intim di antara keluarga. Masalah konsep dan segala macem itu hanya sebagai pelengkap."


Pernyataan Audi membuat Ibra mematung sesaat. Ia mendenguskan senyum seakan tak menyangka dirinya salah mengira. Ia pikir, karena Audi sangat senang dengan kemewahan, Audi akan minta berbagai macam hal kepada Ibra sebagai syarat untuk meminang. Padahal Ibra pun sudah siap secara finansial jika Audi meminta demikian.


Di tengah percakapan mereka, tiba-tiba saja Mami Safa muncul tanpa peringatan, menginterupsi suasana yang semula hangat berubah kikuk dan penuh kecanggungan.


"Ehm."


Sontak Audi menarik kedua tangannya dari Ibra, ia menjauh dan gelagapan tatkala mendapati sang tante berdiri tak jauh dari mereka.


"E-Eh, Tante?"


Audi menoleh pada Ibra yang tampak biasa-biasa saja.


Tante Safa tersenyum. "Kalian ngapain berduaan di situ, hm?" tanya beliau dengan kerlingan mata menggoda.


"Itu, anu ... Audi cuman ngobrol sama Mas Ibra, kok, Tante."


Ibra sama sekali tak membantu Audi yang kini dilanda gugup.


"Ngobrol?"


"I-iya. K-kenapa, Tante? Gak boleh, ya?" cicit Audi sembari meringis.

__ADS_1


Lagi-lagi wanita itu tersenyum. "Boleh - boleh aja, kok. Kalau cuman ngobrol, asal gak sampai ciuman aja. Nanti batal, hehe."


Audi mengerjap, ia dan Ibra saling melempar pandang mendengar kalimat Safa barusan. Kok, bau-baunya perasaan mereka tak enak?


__ADS_2