Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 78


__ADS_3

"Ini bukan lagi soal kekerabatan, ini soal Audi dan masa depannya. Aku memang menyayangi Ibra sama seperti aku menyayangi Audi. Mereka sama-sama anak bagiku. Tapi untuk masalah pernikahan, bukan berarti aku juga akan melunak dan membedakan Ibra dari pria-pria lain yang meminang Audi."


"A Uda?"


Edzar terperanjat dari lamunannya. Ia baru saja selesai membaca berkas kasus saat tiba-tiba Safa keluar dari walk in closet. Sesaat Edzar terpaku melihat pakaian menerawang yang dikenakan sang istri. Terang saja nalurinya sebagai pria langsung meronta, terlebih ketika Safa mendekat, menaiki ranjang dan melesakkan diri di sampingnya.


"Lagi baca apa? Kasus lagi?"


"Hm." Edzar mengangguk sembari menelan ludah. Matanya tak berhenti melirik, mengamati tubuh sintal yang masih saja terlihat molek meski termakan usia.


Layaknya wanita Korea yang awet muda di usia lima puluhan, Safa juga termasuk salah satunya. Ia masih saja terlihat mempesona dan memikat mata.


"Tapi kelihatannya A Uda melamun tadi?" Safa memang sudah mengamati suaminya sejak beberapa saat lalu, sebelum ia memutuskan memanggil pria itu.


"Tadi Sore Abang bicara apa?" todong Safa.


Edzar berjengit ketika Safa menarikan jari telunjuknya di dada. Wanita itu menatapnya penuh rasa ingin tahu. Masih belum berubah, beginilah cara Safa untuk membuatnya buka suara.


Edzar menangkap jemari sang istri dan menariknya untuk dikecup. Wajahnya condong hendak mencium bibir ranum milik Safa yang sedari tadi melambai meminta perhatian. Sangat plumpy, dan ingin segera Edzar gigit.


Namun sayang, Safa yang mengetahui keinginan Edzar tak lantas mengizinkan lelaki itu. Ia mundur dan menepis pelan tangan sang suami yang hendak bergerilya nakal.


"Jawab dulu, tadi Abang bicara apa?"


"Ai ..." keluh Edzar.


"Win win solution. A Uda beri tahu aku, nanti aku kasih apa yang A Uda mau," tegas Safa.


Edzar berdecak lalu membuang nafas. Ia lantas sedikit menjauh dari Safa. "Masalah Ibra," cetusnya memberitahu.

__ADS_1


"Ibra?" tanya Safa mengangkat alis.


Edzar mengangguk.


"Soal apa?"


"Ya jelas soal kemarin Ibra ke rumahnya."


"Terus?"


"Terus apa, Ai?"


"Ya terus gimana? Abang memperlakukan Ibra dengan baik, kan? Gimana reaksi Abang saat Ibra mengutarakan niatnya?" tanya Safa greget.


"Uda gak tahu, Ai. Tentang reaksi Abang, Uda gak tahu. Tapi kalau dilihat dari pertemuan kita sore tadi, kayaknya Abang ragu sama Ibra."


Kini giliran Safa yang berdecak. "Tuh, kan, apa aku bilang. Coba aja waktu itu Ibra biarin kita ikut, bantuin dia ngobrol, pasti gak akan kayak gini. Dia ngeyel pengen ngomong sendiri sama uwanya." Safa mendumel.


"Apa, sih, kok jadi nyalahin aku?"


"Enggak. Uda gak nyalahin kamu."


"Itu tadi kalau bukan nyalahin, terus apa?"


Edzar memilih diam daripada semakin runyam.


"Lagian, ya, kalau waktu itu kita gak bantu, Ibra pasti gak bakalan bisa cerai. Harusnya dia terima kasih sama kita."


"Terus sekarang gimana? Abang gak setuju sama lamaran Ibra?" lanjut Safa bertanya.

__ADS_1


"Dia ragu karena status Ibra," jawab Edzar.


"Karena Ibra duda?"


"Iya, seperti itu."


"Dasar, Abang tuh gak berubah, ya? Dulu dia juga gak setuju aku sama A Uda karena A Uda duda. Padahal dia gak tahu alasan duda cerai, tuh, pasti macam-macam."


"Ya kan Abang gak tahu Ibra cerai karena apa, Ai."


"Apa kita beri tahu aja?" usul Safa.


"Harusnya iya, biar jelas. Tapi tunggu nanti apa kata Ibra. Kita gak bisa berbuat semena-mena tanpa izin dia, yang punya urusan kan dia."


Safa mendesis. "Kalau nurutin apa kata Ibra, selesainya tahun depan. Kayak gak tahu sifatnya gimana. Dia itu nurun sama A Uda, lelet soal cinta."


"Heran, kalian jadi pria kenapa gak bisa sat set sat set kayak lagi kerja gitu, lho. Ini juga sama bisnis, bisnis masa depan. Ya ibaratnya begitu," lanjut Safa geregetan.


Edzar meraih tangan sang istri dan mengusapnya pelan. "Sudah, jangan marah-marah terus, nanti keriputnya tambah banyak."


Safa melotot. "Enak aja, aku gak keriput!"


"Iya, iya ... kamu masih cantik dan seksi banget. Saking seksinya Uda sudah gak tahan lihat kamu." Edzar mengerling, matanya gelap meneliti lekukan tubuh Safa di balik lingerie.


Tangan besarnya terulur meraih salah satu gumpalan kenyal dan meremasnya pelan. "Sshh ... ayo, Ai. Mau, ya? Sekarang udah bisa, kan?"


Safa merengut, namun juga menikmati. "Ya udah, tapi nanti kita bantuin Ibra?"


"Iya." Edzar mengiyakan saja. Daripada hasratnya ditunda.

__ADS_1


Mereka pun menghabiskan malam penuh gelora yang seakan tak ada habisnya meski tak lagi muda.


__ADS_2