Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 86


__ADS_3

Audi menuruti sang papa untuk duduk. Ia melesakkan diri di samping Dava dengan penuh kebingungan. Apalagi tujuan Dava ingin mengenalkan Audi pada seseorang, tak lain pria di hadapannya yang sedari tadi memandang Audi ramah.


Pria itu tampak humanis dan murah senyum. Sesekali ia mengangguk sopan, pertanda bahwa ia lelaki baik dan tahu aturan. Sayangnya Audi hanya bisa membalas canggung karena ia masih bertanya-tanya kenapa Dava memintanya duduk di sini dan berkenalan dengan pria asing tersebut.


"Nah, Arga, ini Audi, anak perempuan yang kemarin Om maksud. Audi, ini Arga, dia ini kenalan Papa, kita ketemu waktu ada bisnis bareng di Solo. Dia masih orang deket ternyata, kita tetanggaan, lho."


Arga tersenyum sembari mengulurkan tangan pada Audi. "Arga," ucapnya mengajak berkenalan.


Audi diam sesaat, ia baru tersadar ketika Dava menepuk lututnya, santai namun secara tidak langsung memberi isyarat.


Audi pun membalas uluran tangan Arga dan turut mengucapkan nama. "Audi."


Dava tampak puas melihat keduanya. Sementara Audi sudah berkutat dengan perasaan tak enak. Ia baru saja pulang, tapi Dava sudah mengenalkannya pada seseorang, entah dengan tujuan apa.


Audi bukan anak kecil yang tidak mengerti niatan sang papa. Saat orang tua mengenalkan anak gadisnya pada seorang pria single, hal itu hanya ada dua kemungkinan. Yang pertama sang papa ingin Audi mengenal lebih banyak rekan bisnis, yang kedua tentu saja untuk urusan personal.


Untuk opsi pertama rasanya agak mustahil, karena Audi bukan pebisnis dan bidang mereka tak berkesinambungan. Tentu Audi lebih percaya dengan alasan lain yang menjurus pada hal pribadi.

__ADS_1


Yang menjadi pertanyaan Audi, kenapa sang papa mendadak ingin mengenalkan Audi pada pria single? Bukannya selama ini dia tak masalah Audi betah melajang sampai umur segini?


Mereka banyak mengobrol tentang beberapa hal. Misalnya, tempat tinggal Arga yang ternyata tak begitu jauh dari rumah Audi, hanya berbeda desa dan kecamatan, ruko bisnis Arga yang rupanya sering mereka lewati, dan masih banyak lagi. Kebanyakan Dava yang mendominasi obrolan. Audi lebih banyak diam, sementara Arga mengikuti alur sang papa.


"Gak nyangka, lho, waktu itu Om bisa ketemu tetangga di sana. Kalau kamu gak ikut diundang mungkin selamanya Om gak bakal tahu di sini ada anak muda berbakat seperti kamu. Om kaget waktu tahu kita tetanggaan."


Arga tertawa renyah. "Iya, Om. Saya juga kaget banget, dan rasanya kayak wah banget, kayak dapet jackpot waktu ketemu Om. Biasanya saya cuma lihat Om di majalah atau koran-koran bisnis. Bangga sekali bisa ketemu Om secara langsung seperti sekarang," balasnya ramah.


Dava terkekeh, matanya menyipit saat ia tertawa. Audi melihat jelas hal itu, bahwa sang papa tengah mengagumi Arga sebagai anak muda yang potensial. Kenyataan tersebut membuat Audi semakin galau, ia yakin setelah ini sang papa akan terang-terangan memuji Arga di depan Audi, dengan tujuan semacam promosi.


Dalam keresahan itu denting notifikasi masuk di ponsel Audi. Audi segera merogoh tasnya dan meraih benda pipih berlogo Apple tersebut. Ia mendapati pesan balasan dari Ibra.


Cih, Audi berdecak. Ibra masih saja mau main rahasia. Menyebalkan. Pokoknya nanti Audi harus tanya, apa yang Oma bicarakan pada Ibra.


Audi masih belum tahu Ibra pernah menemui papanya. Entah bagaimana reaksinya jika tahu Ibra mendapat tantangan berat dari seorang Davandra Halim.


Suara deheman terdengar dari arah samping. Dava melirik Audi hingga membuat gadis itu terdiam ketika menoleh.

__ADS_1


"Audi, Arga ini punya berbagai bisnis retail. Bukannya kamu juga baru mau mulai buka retail kosmetik? Mungkin kamu bisa banyak belajar dari Arga?"


Papa apaan, sih?


Ingin Audi menyela seperti itu, tapi ia tahan karena tak ingin memancing ketegangan. Audi bahkan belum sempat membalas pesan Ibra ketika Dava kembali berkata. "Kamu ajak Arga ke calon toko kamu, kalau bisa minta saran apa saja, Arga pasti punya solusi terbaik untuk kendala bisnis kamu nanti."


Audi meringis. "Pa, tapi Audi gak bisnis sendiri, ada Ajeng yang seorang wirausaha juga."


"Ajeng, kan, belum lama jadi pengusaha. Kalau dibandingkan Arga, tentu Arga lebih berpengalaman. Lagipula sharing itu tidak harus dari satu orang, semakin banyak orang yang kamu ajak diskusi, semakin banyak pula wawasan kamu nanti."


"Udah, jangan banyak alasan karena malas. Cepat ajak Arga ke lokasi biar persiapan toko kamu semakin matang," lanjut Dava, terkesan memaksa.


"Tapi Ajeng lagi gak di Bandung, Pa. Gimana pun dia termasuk owner selain Audi."


"Urusan Ajeng mudah, kan? Kamu tinggal kasih tahu dia lewat pesan atau telepon, beres."


Audi tak punya alasan lagi. Jika ia terus membantah tentu tak enak juga pada Arga. Akhirnya dengan membuang nafas samar, Audi pun mengangguk setuju. "Ya udah."

__ADS_1


Dava tersenyum puas. "Nah, gitu, dong. Ini baru anak Papa yang mau terus belajar. Arga, Om titip Audi, ya?"


Arga tersenyum sopan. "Insya Allah, Om."


__ADS_2