
Keesokan harinya, Audi dan Ibra sudah berada di Tokyo station untuk memulai perjalanan dan eksplorasi jalan-jalan di Jepang. Ibra sudah sering berkeliling banyak negara ketika masih menjadi anggota aktif Paspampres, mengawal Presiden dalam setiap pertemuan beliau ke luar negeri.
Pengalaman yang sangat berguna karena sekarang mereka tak perlu pusing atau menyewa tour guide, Ibra sudah lumayan hafal jalanan di Tokyo, bahkan daerah-daerah kecil lainnya di Jepang.
Tujuan mereka kali ini adalah Asakusa. Di sana terdapat Kaminarimon Gate yang sangat iconic di kalangan turis dan wisatawan. Kaminarimon sendiri adalah satu dari dua gerbang yang menuju ke Sensoji Temple atau Kuil Sensoji.
Di sana banyak sekali spot foto yang indah dan khas dengan bangunan kuno serta bunga sakura yang bermekaran.
Ibra mengajak Audi menaiki kereta, ia tak lepas menggenggam tangan sang istri, melingkupinya dalam kehangatan yang menjalar ke hati Audi. Audi senang, akhirnya ia bisa mewujudkan bulan madu mereka yang tertunda. Ibra juga menepati janjinya untuk sejenak melupakan pekerjaan. Pria itu bahkan menggunakan ponsel dan nomor lain yang khusus hanya diketahui orang-orang terdekat.
Sekitar 20 menit perjalanan untuk tiba di Asakusa, Ibra menguar senyum lebar ketika merangkul Audi menuruni kereta. Kini mereka berjalan santai sambil sesekali mengambil gambar dan merekam video. Ibra terkekeh ketika Audi mengarahkan kamera ponsel padanya.
"Kamu masih suka nge-vlog, ya?" Sebenarnya itu bukan pertanyaan, lebih pada pernyataan karena memang benar adanya, bahwa Audi masih senang bermain kamera kendati sudah vakum dari dunia YouTube dan sosial media.
__ADS_1
Maksud vakum di sini tidak menghasilkan uang. Audi hanya sesekali mengunggah postingan pribadi di akun instagramnya untuk bersenang-senang.
Audi sedikit meringis. "Kenapa? Mas Ibra gak suka, ya?"
"Enggak. Bahkan kalaupun kamu mau balik ke YouTube, Mas izinkan, kok. Asal jangan sampai bepergian jauh aja. Background kamu kan make up, ambil shoot-nya di rumah aja. Nanti Mas sediakan ruang khusus untuk kamu syuting."
Audi mengerjap. "Mas serius?"
Audi tersenyum haru. Ia balas merangkul pinggang Ibra ketika berjalan. "Makasih, Mas. Tapi, untuk sekarang aku masih belum ada niatan jadi konten kreator lagi. Aku masih nyaman sama peran aku sebagai istri, dan cita-cita aku selanjutnya adalah menjadi ibu rumah tangga, punya anak, besarin anak sama Mas Ibra," ucapnya sembari mendongak.
Ibra menunduk balas tersenyum. Ia mengecup kening Audi sekilas sebelum melepaskan rangkulannya di bahu wanita itu. Akhirnya mereka sampai di depan Kaminarimon sesuai tujuan awal.
"Mau foto? Mas fotoin, sini?" tawar Ibra, seraya mengulurkan tangan meminta ponsel Audi. "Mumpung gak terlalu rame, orang-orang udah pada masuk, Sayang."
__ADS_1
Audi menoleh melihat sekitar. Benar, hanya ada segelintir orang, dan ini kesempatan untuk mengabadikan gambar.
Audi yang pantang tidak mendapatkan foto saat jalan-jalan kontan berlari kecil, ia segera berdiri dan berpose di depan gerbang kuil itu dengan senyum lebar secerah matahari pagi.
Ibra turut menarik sudut bibirnya melihat sang istri. Ia segera memotret Audi yang terlihat serasi dengan pemandangan di sekitarnya, persis seperti pakaian mereka yang juga memiliki padu padan yang sama.
"Mas Ibra, ayo foto bareng!" seru Audi, sambil meminta salah satu pengunjung untuk memotret mereka berdua.
Pagi itu sangat cerah di Asakusa. Tak berbeda jauh dari sakura yang bermekaran, hati keduanya pun diliputi kebahagiaan.
Tuhan, semoga keinginan Audi bisa segera tercapai untuk memiliki momongan bersama Ibra.
__ADS_1