Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 125


__ADS_3

Usai memilih cincin, kini Ibra mengajak Audi makan siang. Namun sebelum itu mereka sholat dulu di mushola terdekat.


"Mau makan apa, Yang?" Ibra fokus memutar kemudinya memasuki pelataran cafe. Mereka baru saja selesai sholat dan berniat mengisi perut.


"Mas Ibra nanya?" sindir Audi. "Nanya tapi kita udah sampe di depan cafe."


Ibra menggaruk hidung mancungnya seraya meringis samar. "Ya ... kita bisa pindah lagi kalau kamu ada pilihan?"


"Udah di sini aja. Lain kali kalau nanya, tuh, sebelum kita masuk tempat makan orang. Pertanyaannya kayak gak guna aja," cetus Audi seraya mulai mencangklong tas dan topi di dashboard. Topi dengan logo New York itu Audi beli couple sama Ibra. Ibra juga pakai sekarang.


Ibra mengangguk, melepas sabuk pengaman. "Oke. Jadi kita makan di sini aja?"


"Kamu nanyeaa ...? Kamu bertanya-tanyeaa ...? Mas Ibra nanya terus kenapa, sih? Kerjaannya nanya mulu?" kesal Audi.


Ibra sedikit tersentak dan menoleh agak bingung. "Malu bertanya sesat di jalan, kan, Yang? Kalau Mas gak tanya, nanti kamu kesal?"


Meski sekarang pun Audi sudah terlihat kesal.


"Siapa bilang? Tau, ah! Ayo, aku udah laper!"


Ibra berkedip memegangi seat belt-nya yang belum sepenuhnya terlepas. "Kamu kenapa, sih, marah-marah terus? Jangan-jangan mau datang bulan?"


Mulut Ibra segera terbungkam ketika Audi menolehkan kepalanya pelan, dengan mata menghunus siap menusuk. Ibra segera tersenyum, berusaha mencairkan suasana yang entah kenapa hari ini lebih sering terjadi ketegangan di antara mereka. "Udah, ayo turun, Yang."


Ia segera melepas sabuk pengaman dan mengambil jam tangan yang sempat dilepas. Audi masih memperhatikan pria itu dengan matanya yang menyipit. "Emang kenapa kalau aku mau datang bulan?" tanyanya ketus.


Ibra menoleh sesaat, melempar senyum teduh khasnya. "Gak papa, Sayang. Asal datang bulannya jangan pas kita nikah nanti," ucapnya santai, disertai satu kedipan yang membuat Ibra seketika berubah seperti pemain wanita.


Sebelum Audi marah lagi, Ibra segera membuka pintu dan keluar. Ia berputar membuka pintu di samping Audi supaya gadis itu juga lekas turun. "Ayo, ah, jangan cemberut terus. Mas pernah bilang, kan, kamu gemesin kalau marah? Bikin pengen cepet-cepet."


Audi menatap pria itu datar, tahu apa yang sedang Ibra pikirkan. "Apa mesem-mesem begitu?"


Ibra melipat bibir. "Enggak."


"Pengen cepet-cepet apa?" todong Audi.


"Pengen cepet-cepet nikah. Udah, ayo makan. Katanya lapar?" Ibra menarik halus tangan Audi, menggandengnya mesra memasuki cafe.


Mereka tidak sadar, satu dari sekian pengunjung di sana sempat memotret keduanya menggunakan ponsel, lalu mengunggahnya di sosial media akun gosip.


Nyatanya, meski sudah berhenti dari dunia YouTube dan Instagram, nama Audi belum sepenuhnya dilupakan. Sebagian dari mereka masih banyak yang mengenali wajahnya, meski kini penampilannya berbeda karena sudah berhijab.

__ADS_1


***


"Udang baladonya enak, lho. Kamu mau?" Ibra menawarkan pada Audi yang juga sedang makan di hadapannya.


Lagi dan lagi Audi menghela nafas sabar. Ia mendongak menatap Ibra yang terlihat polos seakan ucapan Audi kemarin lalu hanya lewat di telinganya saja. "Mas Ibra akhir-akhir ini jadi pelupa, ya? Aku kan udah bilang mau diet! Pernikahan kita empat bulan lagi, aku gak mau penampilanku buruk saat hari H."


Ibra mengunyah dengan raut tampak berpikir. Pasti beneran lupa, dengus Audi dalam hati.


"Harusnya Mas juga jaga, dong, makannya. Sekarang kan udah bukan Paspampres lagi, udah jarang olahraga. Aku gak mau, ya, perut Mas Ibra buncit kayak bapak-bapak. Pokoknya gak mau!"


"Mas masih sering nge-gym, kok. Di rumah juga masih suka latihan fisik. Kamu gak usah khawatir soal itu. Kalau penasaran, kamu boleh lihat ada berapa kotak dalam perut Mas," balas Ibra sebelum kembali menyuap. "Yang harusnya kamu khawatirkan itu kesehatan. Kuat gak nanti kamu pas hari H. Resepsi itu melelahkan, jangan anggap enteng. Kita undang banyak tamu, teman kamu, teman Mas, belum lagi tamu-tamu orang tua kita. Seribu aja bisa lebih."


Yang dibilang Ibra ada benarnya, sih.


"Tapi kan aku juga mau cantik."


Ibra membuang nafas, menghentikan sejenak kegiatan makannya. "Kamu udah cantik banget, mau secantik apa? Tubuh kamu udah ideal, sempurna, masih mau dikecilin lagi? Mas ingat kamu itu meski makan banyak, berat badan tetap segitu-segitu aja. Kamu itu susah gendut, apa yang harus dikhawatirkan?"


"Ya ... aku kan jaga-jaga. Siapa tahu metabolisme tubuh aku mendadak berubah, terus pas nikah jadi gendut. Detik-detik mau hari H kan biasanya banyak ujian, katanya."


"Katanya," sindir Ibra sembari menekan. "Udah, kamu makan, makan aja yang enak. Gak usah maksa-maksa diri makan sayur kalau sendirinya aja gak suka."


Audi merengut. Ibra mencomot nasi dan udang balado menggunakan tangannya, laku menyodorkannya pada mulut Audi. "Aaa ..."


"Makan, Sayang. Mas gak mau kamu sakit. Mama bilang akhir-akhir ini kamu sering lemas."


"Ck, Mama comel banget sampe bilang ke Mas Ibra," rengut Audi.


"Bukan comel, tapi khawatir. Ayo makan?"


Mau tak mau Audi membuka mulut menerima suapan Ibra. Ia mengunyah pelan nasi dan udang itu. Dirasa-rasa, kenapa sangat enak? Apa karena sudah seminggu Audi makan makanan hambar terus?


"Gimana? Enak, kan?" Ibra mengangkat alis. "Kita pesan nasi buat kamu, ya?"


Lama Audi tak menjawab hingga akhirnya ia mengangguk. Ibra tersenyum puas, mengusap dagu Audi dengan tangan kirinya. Ibra melambai memanggil pramusaji yang dengan cepat menghampiri mereka.


"Kenapa, Pak?"


"Saya pesan nasi sama udang balado lagi, ya? Atau kamu mau menu lain, Cla?" tanya Ibra pada Audi.


Audi menggeleng. "Sama aja kayak Mas Ibra."

__ADS_1


Ibra mengangguk. "Samain katanya, Mba. Ini, ini, yang ini sama yang ini," ucapnya menunjuk satu persatu menu miliknya.


Si Mba pramusaji mengangguk paham, mencatat semua yang Ibra tunjuk lalu segera berlalu guna mengantar catatan pesanan itu pada yang bertugas.


"Baik, mohon ditunggu, Pak, Bu," ucapnya sebelum pergi.


Ibra hanya mengangguk mempersilakan. Tiba-tiba Audi menyeletuk. "Jarang-jarang aku dipanggil Ibu. Geli banget."


Ibra menoleh.


"Apa karena Mas Ibra yang udah kayak bapak-bapak?"


"Masa, sih?" Refleks Ibra menyentuh wajahnya, mengira ada sesuatu yang membuat mukanya terlihat boros.


"Iya, aura Mas udah kayak bapak-bapak. Bapak Dewan tapi, hehe ..."


Ibra yang tengah memeriksa pipinya kontan berhenti. Ia menatap Audi lekat penuh kesabaran. "Pinter banget kamu, ya?"


"Iya, dong," sahut Audi bangga, tersenyum dengan tangan memangku dagu.


"Pinter ngibul," lanjut Ibra kemudian yang langsung membuat senyum Audi luntur dan tergantikan dengan raut kesal.


"Apa? Coba sekali lagi ngomong apa?"


"Bukan apa-apa." Ibra kembali mencomot nasinya lalu makan. Ia juga menawari Audi. "Mau disuapi lagi?"


"Gak mau! Mas Ibra udah berani ya sekarang ngomong kasar!"


Sepertinya Audi memang tengah memasuki tanggal-tanggal tertentu dalam setiap bulan. Buktinya dia begitu sensitif pada hal-hal kecil.


"Emang ngibul kasar, ya? Kita juga udah lumrah ngomong pakai kata itu?"


"Ya pokoknya kasar buat aku."


"Terus, Mas harus bicara gimana supaya gak kedengaran kasar?"


"Tau, ah! Pikir aja sendiri!"


Ibra melipat bibir. Benar dugaannya, Audi memang mau datang bulan, karena detik berikutnya ia mengeluh sakit perut bagian bawah. Belum lagi sesuatu keluar dari celah dalam celananya.


"Mas Ibra, kayaknya aku mens, deh. Boleh minta tolong beliin pembalut, gak?"

__ADS_1


Sabar ... Kata Papi kita memang harus sabar menghadapi pasangan.


__ADS_2