
Bandar Udara Internasional Tokyo / Hanedakuko, Ota City, Tokyo.
Setelah menempuh perjalanan selama 7 jam lebih dari Jakarta Internasional Airport, Audi dan Ibra pun kini tiba di Tokyo, Jepang, kota tujuan mereka sebelumnya.
Saat ini mereka masih di terminal tiga, terminal penerbangan internasional. Terminal tersebut terhubung langsung ke layanan kereta api dan monorel menuju Tokyo.
Sebelumnya Ibra sudah memesan kamar hotel melalui layanan online. Mereka tinggal menaiki bus atau kereta untuk menuju penginapan tersebut. Di Jepang, transportasi umum lebih sering digunakan ketimbang transportasi pribadi, turis atau wisatawan asing seperti mereka jarang sekali menggunakan taksi karena harganya sangat mahal.
Namun sebelum itu, satu yang penting dan tak boleh terlewatkan adalah prepaid card. Sebelum memulai perjalanan yang lain, mereka wajib membuat dulu kartu tersebut untuk pembayaran ketika berjalan di mana saja.
Ibra menggenggam tangan Audi sebentar, ia lalu merapatkan mantel sang istri sambil tersenyum teduh. "Capek, gak? Mau langsung ke hotel atau jalan-jalan dulu?"
Audi nampak bimbang. "Ke hotel aja, Mas. Capek banget. Lagian kita belum sholat, lho. Magrib nya juga udah kelewat."
Ibra mengangguk paham. Waktu di Tokyo memang lebih cepat 2 jam dari Jakarta. Jika menurut perhitungan waktu Indonesia mereka sampai di Jepang pukul setengah 7 malam, maka lain di tempat yang mereka pijak sekarang, jam digital yang terpampang di bandara menunjuk pada angka setengah 9 malam.
"Dijamak sholatnya, Sayang. Gak papa, posisinya kita kan abis perjalanan jauh. Ya memang Mas sempat sholat di pesawat tadi, tapi untuk jaga-jaga Mas akan sholat lagi."
"Ya udah, ayo kita ke stasiun?" Ibra tak menggandeng Audi, ia membawakan semua koper dan barang bawaan mereka dalam sebuah troli.
Audi pun mengangguk, mengekori Ibra yang berjalan sedikit di depan. Ibra sampai harus menoleh dan menyuruh Audi untuk berpindah ke sampingnya. Tanpa sadar Audi pun berdecak, namun tetap menurut dan memajukan langkahnya hingga sejajar dengan Ibra.
"Mas Ibra kebiasaan, deh, kalau jalan gak gandeng aku pasti suka gak nyadar diri kakinya panjang," sungut Audi. "Pelanin dikit gitu, lho, jalannya. Atau kurangin itu lebar jaraknya. Capek tahu ngikutinnya!"
Mendengar keluhan Audi, sontak Ibra langsung memelankan langkah, bahkan hampir berhenti guna menyesuaikan jarak yang Audi maksud. Sembari meringis dan menggaruk kepala, Ibra pun menatap Audi bersalah. "Maaf, Sayang."
Ibra menunduk memandang kakinya sendiri. Memang jauh lebih panjang jika dibandingkan dengan Audi. Otomatis jalannya lebih cepat, persis yang barusan Audi keluhkan. Ibra sering kebablasan jalan jika sedang tak menggandeng wanita itu. Tapi kalau tangannya menggandeng Audi, Ibra jadi punya patokan seberapa cepat dan lambat ia harus berjalan.
Ibra segera merangkul Audi menggunakan sebelah tangannya, lalu lekas memandu Audi ke Tokyo monorail. Monorail tersebut menghubungkan ketiga terminal dengan Stasiun Hamamatsucho dalam waktu sekitar 20 menit.
__ADS_1
Dari Stasiun Hamamatsucho berpindah ke Yamanote Line menuju berbagai destinasi di pusat kota Tokyo dan beberapa stasiun lainnya.
Di stasiun mereka bisa mendapatkan Suica, prepaid card dari sebuah mesin yang ada di sana. Bisa juga menuliskan nama masing-masing.
Selanjutnya, Ibra menuntun Audi menaiki kereta untuk menuju penginapan. Ibra sengaja memesan penginapan di tempat yang strategis dan dekat pada fasilitas - fasilitas wisata terkenal di ibu kota Jepang tersebut.
Oya, satu lagi, untuk menaiki kereta diperlukan Japan Rail Pass. Tadi Ibra sempat membeli tiket kereta api ** di pusat layanan perjalanan ** East, di sebelah gerbang tiket Tokyo Monorail di area kedatangan terminal tiga.
"Mas?" panggil Audi.
"Hm?" Ibra menyahut, menoleh pada sang istri yang duduk di kursi sebelahnya. Ia menyandar memeluk lengan Ibra mesra.
"Kira-kira ... kapan aku hamil, ya?"
Mendengar pertanyaan Audi yang lagi-lagi membahas kehamilan, Ibra hanya bisa membuang nafas samar. "Sabar, Sayang. Kan baru sebulan?"
"Iya, ya," angguk Audi. "Tapi ada, lho, yang sebulan langsung hamil," lanjutnya.
Namun Audi menggeleng. "Enggak, beneran sebulan, kok."
Mau tak mau Ibra mengernyit. "Masa? Rata-rata pasangan yang baru nikah, kedengaran ada kabar hamil, kalau tidak 2 bulan ya 3 bulan seterusnya?"
"Itu karena suaminya tokcer," celetuk Audi. Ia tidak sadar kalimatnya sedikit menyinggung bagi Ibra.
"Maksud kamu benih Mas gak bagus gitu? Gak tokcer?" Ibra masih berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar sewot. Ia pun mengambil nafas dalam dan kembali bicara. "Kemungkinan kamu sedang tidak berada dalam masa subur pas kita berhubungan. Belum lagi kamu sempat haid, kan? Itu berarti kita harus menunggu sedikit lebih sabar lagi, Sayang."
"Perasaan yang pertama semangat mau punya anak itu, Mas. Tapi kenapa sekarang malah kamu yang selalu galau?"
"Jadi aku gak boleh berharap punya anak gitu?" Audi si paling sensitif mulai.
__ADS_1
Di sini Ibra harus pintar-pintar memilih kata. Salah sedikit, habis sudah nasibnya di bulan madu mereka. Bisa-bisa ia tak dapat jatah yang sudah seminggu ini ia tahan. Jangan sampai mereka menempuh perjalanan yang sia-sia gara-gara pertengkaran kecil.
"Enggak. Bukan gitu, Sayang. Maksud Mas, kamu jangan terlalu effort memikirkan kehamilan, toh kalau sudah waktunya, Allah pasti beri kesempatan pada kita. Ini masih sebulan awal, wajarlah kalau kamu belum hamil. Hamil itu butuh beberapa proses. Dari benih sampai ke jabang bayi itu perlu proses sampai bisa diketahui dan terdeteksi keberadaannya."
"Sekarang fokus aja nikmati liburan kita. Siapa yang tahu kalau sudah punya anak, apa kita masih punya kesempatan jalan-jalan ke luar negeri. Tentu tak segampang itu. Makanya dari sekarang jangan pusing memikirkan kehamilan dulu, kita fokus habiskan waktu kita berdua, ya?"
Audi mengangguk pelan. "Aku cuman takut, kalau terlalu lama, orang-orang akan bertanya hal-hal menyeramkan yang sering diceritakan orang. Kapan punya anak? Nyesek banget tahu, Mas, apalagi kalo yang nikahnya udah lama."
Ibra tersenyum lembut mengecup kepala Audi. "Kita baru sebulan, ingat itu."
Audi mengangguk. Sesampainya di penginapan, mereka lekas beres-beres sebentar lalu melaksanakan sholat yang tertinggal. Mengangkat panggilan video dari Mami Safa dan Mama Lisa yang heboh seperti biasa, lalu keluar mencari makan di salah satu restoran halal yang jaraknya lumayan dekat dari hotel.
Sepanjang berjalan, Ibra tak lepas menggenggam tangan Audi, bahkan memasukkannya ke dalam saku mantel yang ia pakai. Audi sendiri menikmati kebersamaan mereka. Ia berharap, liburan kali ini bisa lebih merekatkan hubungannya bersama Ibra yang seminggu lalu sempat terkecoh.
Bersama Ibra, Audi merasa nyaman. Bersama Ibra pula Audi merasa aman. Laki-laki itu sudah seperti nikotin yang membuat Audi ketergantungan. Audi sangat bergantung pada kehadiran Ibra.
"Mau ke Tokyo Tower?" tanya Ibra. Ia melirik Audi yang berjalan di sampingnya. Udara Tokyo malam ini semakin dingin. Beruntung mereka kemari saat musim semi, di mana bunga-bunga sedang bermekaran, terutama sakura.
Audi berpikir sesaat. "Apa gak capek? Kita makan dulu aja, setelah itu terserah mau ke sana apa enggak."
Ibra terkekeh menjawil hidung Audi yang terasa dingin. "Atau mau langsung ke kamar? Udaranya dingin banget, pas buat—"
"Syuuutt ..." Audi segera menghentikan Ibra. "Heran, deh, itu mulut kenapa gak pernah bisa dijaga? Malu, tahu, ini negara orang."
"Mereka gak ngerti bahasa kita, Sayang."
"Ya tetap aja, yang sopan, dong."
"Iya. Tapi ... malam ini boleh, kan? Mas udah puasa lama, Sayang ..." keluh Ibra.
__ADS_1
Audi mencibir. Sebenarnya ia mau bertanya pada mamanya atau Mami Safa, apa setiap laki-laki selalu demikian, ingin bercinta setiap ada kesempatan?