
Terhitung sudah 5 hari Audi di Jakarta. Sisa sekitar 2 hari lagi untuk Audi pulang ke Bandung. Dan setelah mengunjungi Ibra kemarin Audi belum menjenguk pria itu lagi. Padahal Ibra berkali-kali menelpon dan mengiriminya pesan.
Banyak alasan yang membuat Audi enggan menemui Ibra, salah satunya masa lalu pria itu. Sekarang Audi mengerti apa yang diresahkan hatinya. Sebelum Ibra menjelaskan secara detail masalah pernikahannya yang dahulu, masa lalu pria itu dengan Shireen, Audi tak akan merasa lega sampai kapan pun.
Jadi, sebelum semuanya semakin jauh, Audi akan membatasi diri dan tidak terlalu berharap pada eksistensi Ibra. Audi sadar ia sudah keluar dari zona amannya, dan ia harus kembali ke dalam lingkup sebelum dekat dengan Ibra.
Persis seperti 3 tahun ini, Audi juga berhasil melepas bayang-bayang Ibra dengan kesibukannya. Berbeda dengan Audi yang masih lajang, pria itu justru pernah menikah dan menjalin kasih dengan seseorang.
Tentu Audi harus berpikir ulang mengenai resiko yang akan terjadi di masa depan, seandainya Ibra masih menutup diri darinya. Audi tidak mau masa lalu Ibra berakar pada hubungan mereka kelak. Audi mau Ibra benar-benar terlepas dari semua kisah lamanya, termasuk menutup akses pertemuannya dengan Shireen, sang mantan istri.
Audi egois? Iya. Suatu hal yang wajar karena ia juga wanita biasa yang selalu meninggikan perasaan. Audi tipe wanita yang mudah merasa tersinggung dan tak enak hati. Ia tak ingin mencari penyakit dengan nekat menjalin hubungan bersama Ibra yang belum jelas statusnya bagaimana.
Ibra memang duda, tapi bagaimana dengan hubungan pria itu dan mantan istrinya? Setelah melihatnya kemarin Audi bisa langsung menyimpulkan bahwa itu bukan kali pertama Ibra dan Shireen bertemu setelah bercerai.
__ADS_1
"Di, ini fotonya disatuin aja apa pisah-pisah permerk gitu?" Tian yang sedari tadi sibuk memotret produk lipstik di atas kasur pun menoleh dan bertanya pada Audi yang tengah ongkang-ongkang kaki di sofa.
Tian berdecak karena sudah 2 jam lebih gadis itu diam di sana sambil main ponsel. Mentang-mentang tak ada jadwal dan kerjaan.
"Satuin aja, Mba. Ya masa nanti aku postingnya sebiji sebiji? Kagok amat."
"Ya siapa tahu, kan cuman tanya," ujar Tian mengendik. Ia lanjut memfokuskan matanya pada kamera dan objek.
"Oya, nanti Mba aja deh yang posting. Captionnya cukup gini aja, lip produk favorit 2023 terus kasih bintang blink-blink gitu. Pokoknya terserah Mba, deh. Mba Tian juga jago bikin caption estetik. Nanti aku tinggal bikin reels testimoni."
Tumben sekali, setelah berhari-hari mager akhirnya jiwa hunting Audi bangkit lagi. Hunting di mall, bukan hutan.
"Eh, Mba, Mba." Audi menepuk-nepuk lengan Tian seraya menunjukkan sesuatu.
__ADS_1
Tian menoleh. "Apaan?"
"Lihat, tuh, banner segede gaban. Itu foto akuuu ..." Audi melonjak - lonjak seperti anak kecil, yang malah membuat Tian aneh melihatnya.
"Apaan sih kamu norak banget. Kayak baru ngalamin aja nemu poster sendiri di jalan."
Audi memutar mata. "Ya elah, Mba ... Ini tuh sebenarnya momen banget buat pamer sama mantan ..."
"Audi?"
"Mantan ..." Audi menggantung kalimatnya seraya menoleh ke sumber suara.
"Audi kan, ya?"
__ADS_1
"E-eh ... Mba Shireen?" bisik Audi panjang.
Kebetulan macam apa ini?