Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 129


__ADS_3

Hari ini jadwal Audi dan Ibra foto prewedding. Audi tengah bersiap ketika Lalisa memberitahunya bahwa Ibra sudah menunggu di bawah.


"Di, Ibra udah nungguin, tuh. Udah belum?" tanya Lalisa yang menyembul di ambang pintu kamar.


Audi memoles lipstiknya cepat sebelum menjawab. "Iya, bentar. Ini udah selesai, tinggal ambil tas."


Selesai dengan make up, Audi lekas berlari ke walk in closet, membuka lemari tas dan terdiam sejenak memilih. Ia pun mengambil salah satu yang berukuran kecil, lalu dengan cepat memasukkan ponsel, dompet, serta sedikit perintilan make up untuk tuch up.


Ia mematut lagi dirinya sesaat saat melewati cermin. Oke, sudah perfect. Audi pun lekas berlari keluar kamar setelah mengambil sepatu di rak.


Ibra yang melihat Audi berlari menuruni tangga kontan berdiri dengan raut khawatir. Entahlah, sejak Audi sembuh dari kelumpuhan sementara, pasca kecelakaan dan koma, Ibra selalu waswas jika gadis itu berlari atau berjalan terlalu cepat. Mungkin Ibra masih terbawa disforia ketika menemani Audi terapi.


"Cla, berapa kali Mas bilang jangan lari? Apalagi saat di tangga," kata Ibra ketika Audi sampai di bawah dan berdiri di hadapannya.


Namun Audi hanya nyengir lalu duduk di sofa untuk memasang sepatu. "Lari kan juga olahraga, Mas. Mas Ibra juga setiap hari lari pagi, masa aku gak boleh lari?" Audi mengangkat alis jenaka. "Lagian biar cepat. Kalau aku jalan terus kayak siput, kapan kita berangkatnya?"


Ibra hanya mampu menghela nafas menyerah, mungkin memang ia yang terlalu cemas berlebihan. Ibra trauma saja, takut Audi jatuh dan tidak bisa berjalan lagi. Itu sangat mengerikan.


Melihat Audi yang tengah memasang sneaker yang Ibra belikan kemarin, Ibra pun tersenyum dan turut berlutut di depan Audi, membantu gadis itu mengikatnya dengan benar.


"Biar Mas yang ikatkan," katanya sambil mengambil alih tali sepatu dari tangan Audi.


Audi membiarkan dan menatap Ibra dari atas. Ibra sudah dicukur lagi setelah sebelumnya Audi sempat protes karena rambutnya yang memanjang. Audi sudah terlalu nyaman melihat Ibra dengan rambut rapi dan pendek. Menurutnya lebih enak dilihat.


"Mas Ibra bahkan gak percaya aku bisa mengikat sepatu dengan benar?"


Karena Ibra selalu saja begini. Kalau Audi mengenakan sepatu bertali, meski Audi sudah mengikatnya sekalipun, Ibra akan tetap mengulang ikatan itu oleh dirinya sendiri.


"Bukan gak percaya, kita hanya jaga-jaga tidak ada salahnya, kan? Siapa tahu ikatan kamu kurang kencang. Bahaya, nanti kamu bisa jatuh."


Persis! Jawaban yang selalu Audi dapat ketika mereka mempermasalahkan perkara sepatu. Kadang Audi sedikit risih, menurutnya Ibra terlalu berlebihan dalam kecemasannya. Tapi, itu juga bukan masalah besar hingga Audi harus mengungkit-ungkitnya sampai mereka bertengkar.


"Sudah selesai. Yuk, berangkat?" Ibra mendongak, menatap Audi disertai senyum menawan.


Kapan, sih, Ibra bisa terlihat jelek? Lama-lama Audi khawatir karena banyak sekali wanita yang tertarik pada Ibra.

__ADS_1


Ibra berdiri seraya menarik pelan jemari Audi hingga Audi turut berdiri. Lelaki itu menyentuh pinggiran hijabnya tepat di bagian telinga. Audi tentu berjengit kerena terkejut.


"Ada apa?"


"Hem? Enggak, ini tadi ada semut," ucapnya setelah menepuk pelan bagian tersebut.


"Ooh ..."


Tak lama Lalisa keluar menghampiri mereka. Sang mama juga sudah rapi karena katanya ada acara di luar dengan Tante Safa.


"Kalian sudah mau berangkat?"


Ibra mengangguk. "Iya, Uwa. Ibra pinjam Audi nya dulu sebentar ya?"


"Iya, bawa aja sana. Kasihan dari kemarin dia uring-uringan karena kamu sibuk terus," ucap Lalisa sembari meledek.


"Mamaaa~" Audi merengek sambil menghentak kaki.


Ibra terkekeh menatap calon istrinya yang kini merengut memandang Wa Lisa. "Beneran gitu, Cla? Kamu kok gak pernah bilang, kamu kesal sama Mas karena sibuk?"


Ibra melipat bibir mengulum senyum. Ia mengangguk saja meski tahu Audi lah yang berbohong. "Gitu, ya?"


"Iya gitu!"


"Bener?"


"Bener!"


"Kamu enggak galau karena Mas sibuk?"


"Enggak!"


"Ooh ... ya udah. Tadinya setelah ini Mas mau ajak kamu jalan, tapi kayaknya gak bisa, deh. Mas ada kerjaan."


Refleks Audi menoleh. "Kok gitu?" tanyanya keras.

__ADS_1


Ingin rasanya Ibra tertawa. Tapi melihat raut Audi malah membuatnya semakin ingin mengerjai. "Ya emang karena Mas sibuk? Lagian, kayaknya kamu juga gak papa kalau Mas kerja terus."


"Iiihh ... katanya mau jalan? Gak bisa! Pokoknya harus jadi! Aku tuh udah belepotan nungguin Mas Ibra senggang, tau!"


Seketika Ibra tertawa renyah, begitu pula Mama Audi yang sedari tadi menggeleng melihat raut gengsi putrinya. "Kamu itu, kalau kangen ya jujur aja. Gak usah sok tegar padahal hati ingin dimanja."


"Mama apaan, sih?" Audi terlihat malu sekaligus kesal.


Ibra terkekeh. "Bohong, Cla. Mas udah siapin hari ini cuman buat kamu. Prewedding aja mungkin memakan waktu yang gak sebentar, gimana Mas mau sambil kerja coba?"


Audi terdiam. Ibra mengusap kepalanya sekilas lalu menoleh pada Lalisa yang masih setia menemani mereka. "Kalau begitu, kita berangkat, ya, Wa? Takutnya tim fotografer yang mau foto kita udah nungguin. Kita janjian jam 9 soalnya."


Lalisa mengangguk. "Iya, udah sana berangkat. Kalian hati-hati di jalan."


Kini giliran Ibra yang mengangguk. "Pasti, Wa. Assalamualaikum?" Ia meraih tangan Mama Audi untuk salim.


"Wa'alaikumsalam," balas Lalisa.


Audi turut mencium tangan mamanya dan mengucap salam seperti Ibra.


"Jangan suka kekanakan, apalagi bentar lagi kamu nikah. Kurang-kurangi sifat ngambekannya," celetuk Lalisa saat Audi mencium tangannya.


Audi meringis panjang. "Iyaaa ..." balasnya paksa.


Lalisa menggeleng sabar. Sementara Ibra tersenyum melihat mereka berdua, menanti Audi di dekat pintu, bersiap untuk keluar.


Mereka pun berangkat dengan menggunakan mobil Ibra. Lelaki itu tak berhenti tersenyum sambil sesekali melihat Audi yang duduk di samping kemudi.


"Selesai photo shoot nanti, Mas mau nunjukin sesuatu sama kamu," ucap Ibra.


Audi menoleh. "Nunjukin apa?"


Namun Ibra malah tersenyum misterius. "Nanti, ya."


Ish, kalau begitu kenapa bilangnya sekarang? Audi kan jadi penasaran.

__ADS_1


__ADS_2