Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 59


__ADS_3

"Apa, Tante?" tanya Audi hati-hati.


Tante Safa malah tersenyum. "Masa kamu gak tahu? Tante harus lebih jelas lagi, ya?" selorohnya dengan nada menggoda.


"Maksud Tante?" Audi tak ingin menduga-duga sendirian.


"Kamu pacaran, kan, sama Ibra?"


Uhuk! Hampir Audi tersedak. Ia memang sudah menduga pertanyaan ini, tapi tetap saja tubuhnya menegang ketika kalimat itu keluar langsung dari mulut Tante Safa.


"Itu ... Audi ..."


"Apa Tante salah? Kamu dan Ibra ada hubungan lebih dari saudara?"


Hening. Entah Audi harus merespon bagaimana. Apa Tante Safa akan marah jika Audi mengaku bahwa ia dan Ibra pacaran?


Audi terlihat kebingungan untuk menjawab. Safa tak henti menatapnya tanpa sekalipun mengintimidasi. Ia sabar menanti jawaban Audi meski gadis itu terlihat sangat enggan.


Audi melarikan mata dengan tangan saling meremas. Ya Tuhan, apa yang harus ia katakan? Perasaan gugup melingkupi penuh hingga Audi lupa narasi yang sudah dihafalnya beberapa saat lalu untuk rekaman.


Audi tidak menyangka akan ada saat di mana ia semati kutu ini di hadapan tantenya sendiri. Jelas kasusnya sudah beda, kali ini Audi menghadapi Tante Safa sebagai pacar dari putranya.


"Anu, Tante, Audi sama Mas Ibra ..."


"Kalian bahkan camping dan nginap bareng di Jakarta," cetus Safa seolah tak ada habisnya.


Hal tersebut membuat Audi semakin ketar-ketir. Mendadak AC di ruangan itu seperti kehilangan fungsi. Audi panas dan deg-degan. Mungkin sebentar lagi keringat sebesar biji jagung akan hinggap di keningnya.


"Soal itu ... Audi minta maaf, Tante," cicit Audi pada akhirnya. Ia menunduk tak berani menatap Safa yang sedari tadi tak lepas memandangnya.


"Berarti benar kalian pacaran?"


Lama Audi terdiam hingga kemudian ia mengangguk pelan, namun sesaat setelah itu Audi kembali menggeleng. Audi benar-benar dilema sekarang.

__ADS_1


Terdengar suara decakan dari Tante Safa yang membuat Audi kian membatu. Wanita itu menghela nafas panjang.


"Bisa-bisanya Ibra gak bilang kalau kalian sudah pacaran. Padahal Tante sudah curiga sejak jauh-jauh hari. Apalagi saat kalian liburan bareng, dalam pikiran Tante itu udah pasti kalian ada sesuatu. Dan ternyata tebakan Tante terbukti benar."


"Tapi kita gak ngapa-ngapain, kok, Tante. Beneran, Audi dan Mas Ibra gak macem-macem," sanggah Audi, panik bercampur takut.


Tanpa diduga Safa justru terkekeh. "Kamu kok kayak takut gitu, sih? Emang Tante ada nakutin kamu, ya?"


"Ya?"


"Santai aja, Tante gak akan gigit kamu cuman karena kamu pacaran sama anak Tante. Lucu banget, sih, kamu."


"Itu ..."


"Tante senang, akhirnya kamu dan Ibra bisa dekat lagi."


Audi terdiam.


"Dulu Ibra sering banget nanyain kamu ke Tante. Misal kamu lagi apa lah, lagi di mana lah, pokoknya dia tiap hari kepoin kamu ke Tante. Makanya Tante udah kayak penguntit yang sering ngawasin kamu kalau kamu lagi di rumah."


Bungkamnya Audi cukup memberitahu Safa bahwa semua pernyataannya adalah benar.


Safa tersenyum menatap keponakannya dengan teduh. Ia bangkit dan beranjak ke sisi Audi, melesakkan diri di samping gadis itu guna meraih tangannya yang Safa tahu sedikit bergetar.


Apa barusan Safa terkesan menekan Audi?


"Audi," panggilnya halus. "Mungkin Ibra adalah pria menyebalkan. Bukan hanya kamu yang kesal, Tante lebih sering dibuat kesal oleh anak itu."


"Tante juga sama kayak kamu, waktu Ibra tiba-tiba telpon dan bilang mau nikah, perasaan Tante waktu itu udah gak enak banget. Tante udah gak bisa berpikir positif, soalnya dia ngabarinnya mendadak banget."


"Tante bahkan sampai drop saking kerasnya berpikir apa yang sebenarnya terjadi sama Ibra. Ibra gak bilang apa-apa sampai dia pulang bawa Shireen ke rumah."


"Tante udah mau maki-maki Ibra karena sebelumnya dia sempat bilang mau lamar kamu usai wisuda. Tante sama Om kamu bingung banget waktu itu. Di mata kami Ibra terkesan main-main, itu sebelum Ibra berkata alasan sebenarnya dia harus nikahin Shireen."

__ADS_1


"Ibra terikat sebuah janji dengan temannya. Kamu mungkin udah tahu?" Safa menatap Audi memastikan. Dan Audi pun mengangguk membenarkan.


"Berarti Tante gak perlu jelasin yang satu itu. Ternyata Ibra cukup pintar untuk berani cerita sama kamu."


Dalam hati Audi meringis, Safa tidak tahu saja sebesar apa drama yang dibutuhkan untuk Ibra bisa jujur padanya.


"Tante waktu itu kurang setuju, karena menurut Tante amanah Rega itu terkesan terlalu berlebihan. Tante bisa terima kalau Ibra memang harus jaga anaknya. Tapi menikahi Shireen? Tante pernah minta Ibra untuk berpikir lagi sematang mungkin, tapi rupanya sifat keras kepala Ibra masih mendarah daging dan sulit hilang, buktinya gak sampai 4 tahun dia udah bilang mau cerai. Tante benar-benar gak ngerti sama pikiran anak itu."


"Cuman Om kamu yang tahan menghadapi sikap Ibra. Tante udah angkat tangan."


"Tapi meski begitu kamu harus tahu, Ibra selalu sayang sama kamu. Dari semenjak kamu lahir, Ibra sudah memperlihatkan ketertarikan, bahkan yang menurut Tante terkesan berlebihan."


"Apa kamu tahu Ibra suka cemburu kalau kamu punya teman main baru?"


Audi menatap tantenya penasaran. Melihat itu Safa pun melanjutkan.


"Tetangga baru kita dulu, Tante lupa siapa namanya karena mereka udah pindah lama. Dia pernah datang ke Tante, ngaduin bahwa anaknya nangis dipelototin Ibra saat kalian main bersama. Tante waktu itu heran sekaligus gak percaya, karena yang Tante tahu Ibra gak pernah nakal lagi sejak masuk SD."


"Ternyata bukan hanya itu saja, masih banyak hal lain yang Ibra lakukan untuk jauhin kamu dari orang-orang yang gak dia suka. Kamu pasti baru tahu soal ini, kan?"


Audi tak menggeleng maupun mengangguk. Fakta ini cukup mengejutkan. Kini Audi menemukan alasan yang jelas kenapa sejak dulu ada saja teman-temannya yang mendadak menjauh, terutama teman laki-laki. Ternyata Ibra dalangnya?


"Tante ke sini bukan mau baik-baikin Ibra di depan kamu, atau ikut campur permasalahan kalian. Tante tahu hubungan kalian sedang tidak baik sekarang, karena Ibra jadi sering nanyain kamu lagi. Padahal belum lama ini dia berhenti nanyain kamu, Tante tebak waktu itu kalian sudah intens berhubungan. Tante benar, kan?"


"Itu ..." Audi bingung harus menjawab apa.


"Sekarang bisa Tante tandain, kalau Ibra tanya-tanya soal kamu itu berarti hubungan kalian sedang tidak baik."


"Tolong kamu jangan berpikiran macam-macam soal kedatangan Tante ke sini. Tante murni ke sini karena inisiatif sendiri, bukan karena hal lain apalagi disuruh Ibra. Enggak, Ibra bahkan gak pernah cerita masalah-masalah kalian."


Tante Safa tiba-tiba meringis. "Cuman Tante lama-lama bosan juga menghadapi kerewelan Ibra. Dia udah kayak gak ada kerjaan lain nanyain kamu terus."


"Karena Ibra kayaknya gak akan berhenti ... Tante boleh, kan, minta foto kamu sekarang? Maksud Tante, Kamu selfie sama Tante, nanti fotonya akan Tante kirim ke Ibra biar dia percaya kalau kamu masih di Bandung dan gak ke mana-mana. Gimana, boleh, kan?"

__ADS_1


Apa ini? Audi dibuat bengong seketika. Jadi sedari tadi Tante Safa bicara panjang lebar cuman mau minta foto? Seriously?


Apa yang sudah Ibra lakukan sampai-sampai ibunya kerepotan seperti ini? Dasar pria itu. Bukan hanya Audi yang direcoki, Tante Safa sampai dibuat tak tenang karena kelakuannya.


__ADS_2