
"Kamu gak benci sama Tante." Audi bertanya sambil memakan eskrimnya.
Kenan juga duduk di sebelahnya, mereka sama-sama habis dibelikan eskrim oleh Ibra, namun lelaki itu tengah ke toilet sekarang. Keduanya mengamati lalu lalang mall yang mulai sepi. Wajar, malam terus beranjak dan waktu menunjuk hampir setengah sembilan.
Kenan menoleh, mendongak menatap Audi. "Kenapa Ken harus benci Tante?"
Audi berkedip. "Karena ... Tante ambil Ayah kamu? Karena ... Tante juga cubit kamu waktu itu?"
"Ooh ...." Kenan kembali fokus memakan eskrim. "Ayah bilang, Tante cubit Kenan karena gemas, karena Kenan lucu. Hm." Ia menoleh sekilas sambil tersenyum menyentuh pipinya dengan satu jari, lalu lanjut mencolek eskrim dan menjilatnya hingga belepotan.
"Apa?" sahut Audi aneh.
"Dan untuk Ayah, Tante gak ambil Ayah, kok. Kata Ayah, Tante Audi itu cita-citanya Ayah, impiannya Ayah, sama kayak cita-cita Kenan."
Audi menoleh, ia mengerjap dengan bibir sedikit mengerucut. Analogi macam apa itu? Dan lagi, siapa yang bilang Audi gemas terhadap Kenan? Ini pasti akal-akalan Ibra.
Mengendik, Audi pun lanjut memakan eskrim. "Emang cita-cita kamu apa?" tanya Audi tak acuh.
"Dokter," jawab anak itu pendek.
"Dokter?"
"Hum. Kenan mau sembuhin orang-orang yang sering sakit kayak Kenan."
Nyess. Hati Audi serasa disiram air es, Audi lupa Kenan punya riwayat yang cukup berat bagi anak-anak.
Audi berdehem gugup. "Semangat," ujarnya singkat.
Kenan menoleh lagi dan tersenyum hingga deretan giginya terlihat. "Iya, Tante, makasih. Makasih juga, lho, udah jajanin Kenan tadi. Hehe."
"Hm. Sama-sama."
"Waktu Ken kunci Tante di kamar mandi, Tante ngapain aja? Pup? Pipis?"
Audi mengernyit. "Apaan, sih, kamu?"
Yang begitu saja ditanya. Dasar anak kecil.
"Tante pasti kedinginan waktu Kenan kunci. Kenan minta maaf, ya, Tante."
Audi membuang napas. "Kan tadi kamu udah bilang?"
"Hehe, kata Ayah, selagi masih banyak waktu minta maaf saja sepuasnya, sampai kita lega."
Audi terdiam. Ia menatap Kenan dengan pandangan yang sudah mulai luluh. "Itu bukan sepenuhnya salah kamu, jadi gak usah minta maaf terus sampai segitunya. Tante juga salah udah cubit kamu. Pasti sakit." Suara Audi masih terdengar menahan gengsi.
Kenan kembali mengemut eskrim di tangannya, sementara dua kaki anak itu berayun karena tak mencapai lantai. "Kan Kenan udah bilang, Kenan maafin Tante, karena Tante cubit Kenan karena gemas."
"Whatever."
Lama mereka terdiam sampai eskrim di tangan keduanya sudah habis. Tiba-tiba Kenan buka suara lagi. "Tante beneran sayang sama Ayah?"
"Hm?" Audi menoleh.
__ADS_1
"Tante sayang kan sama Ayah?"
Audi tak langsung menjawab. Ia menatap Kenan lekat, meneliti wajah halus anak itu dengan dalam.
"Kenapa memangnya?" tanya Audi.
Kenan mengulas senyum. "Kalau Tante beneran sayang sama Ayah, Kenan kan jadi lega."
"Lega kenapa?"
"Ya lega, karena Kenan juga sayang Ayah."
"Ohh." Audi hanya mampu bergumam sebagai tanggapan.
"Kenan sayang Ayah dan juga Papa Rega."
Audi menatap anak itu simpatik. Mendadak Audi merasa jadi orang paling beruntung karena lahir dari keluarga yang berkecukupan, sudah gitu orang tuanya masih lengkap. Beda dengan Kenan yang mungkin kehidupannya jauh beda dengan Audi. Anak itu sudah memikul cukup banyak kesedihan di umurnya yang belum seberapa.
"Tante?"
"Hm?" Audi kembali menoleh pada Kenan.
"Tante harus bersikap baik sama Ayah."
Audi sedikit mematung, sementara Kenan berlari ke arah tong sampah, membuang wadah eskrim yang isinya sudah tandas. Audi masih terdiam sampai Ibra kembali dari kamar mandi.
"Pulang, yuk. Udah malem, mau jam sembilan. Beberapa toko juga udah pada tutup."
"Ken! Pulang!"
"Oke, Ayah!"
Ibra mengambil alih cangkang eskrim di tangan Audi, lalu membuangnya di tong tempat Kenan membuang sampah tadi.
"Yuk." Ibra merangkul Kenan supaya anak itu tak terlalu lincah berjalan.
"Tante, ayo!"
Audi tersentak. Ia beranjak dan mengikuti dua lelaki itu sambil terus merenung.
Di mobil, Ibra melirik Audi yang masih betah terdiam. Ia menoleh sebentar ke belakang, mendapati Kenan yang sudah tertidur.
"Kamu ... gak suka sama jalan-jalan kita, ya?" tanya Ibra setengah berbisik. "Apa Mas terlalu maksa kamu? Maaf, Kenan pengen banget ketemu kamu soalnya."
Audi menoleh sekilas. "Iya, gak papa. Kenan asik, kok."
Kening Ibra berkerut. Ia sampai menoleh sebentar pada Audi. "Serius kamu bilang gitu?"
"Ada yang salah?"
"Ya ... enggak, sih. Cuman, tumben aja kamu bilang anak kecil asik. Biasanya merepotkan."
Audi hanya mengendik. Tak lama mereka sampai di depan rumah Shireen. Wanita itu langsung membuka pintu begitu mobil Ibra tiba di halamannya.
__ADS_1
Audi tidak turun, sementara Ibra beralih membuka pintu penumpang belakang, menggendong Kenan yang rupanya tidur begitu lelap.
Melihat Ibra yang sepertinya mau masuk ke rumah Shireen, Audi pun lekas turun dan mengekori pria itu di belakang. Bukan parno, Audi hanya berusaha menjaga apa yang menjadi miliknya.
Bagaimana pun ia dan Ibra masih berstatus pacar, itu berarti Ibra miliknya.
Ibra menidurkan Kenan di kamarnya, ia mengusap sebentar kening anak itu sebelum keluar, diikuti Shireen dan Audi yang sedari tadi membuntuti. Terlebih Audi, ia seakan tak mau jauh-jauh dari punggung Ibra.
"Makasih, Mas, Audi. Kenan pasti merepotkan kalian." Shireen berucap ketika mereka sudah berada di luar.
Ibra mengangguk. "Sama-sama. Harusnya saya yang berterimakasih, karena kamu sudah izinkan Kenan keluar bareng kami."
Shireen tersenyum. "Kalian gak mau mampir lebih lama? Minum dulu, mungkin?"
"Gak usah, Mba. Nanti Kenan malah kebangun lagi. Oh ya, tadi Kenan habis makan eskrim, nanti tolong dilap lagi pipinya, ya? Bajunya juga, siapa tahu belepotan," sahut Audi yang berhasil membuat Ibra dan Shireen menatap serentak padanya.
Audi mungkin tak sadar ucapannya barusan terdengar aneh. Terutama bagi Shireen. Sejak kapan Audi yang katanya tidak suka anak kecil, mendadak ia begitu memperhatikan anaknya.
Meski begitu Shireen tetap tersenyum, berterimakasih pada Audi. "Iya, Di. Makasih, ya. Kenan nakal, gak?"
"Enggak, biasa aja."
"Oh, sukurlah. Saya udah khawatir tadi."
"Udah malam. Kalian mau langsung pulang?" lanjut Shireen.
"Iya. Ya udah. Ayo, Yang. Ren, mari?" Ibra merangkul Audi untuk kembali ke mobil.
Shireen mengangguk. "Hati-hati."
"Mba, kita pulang," ujar Audi. Ia masih terlihat gugup berhadapan dengan Shireen.
Shireen tersenyum dan kembali mengangguk. "Iya, Di. Kalian hati-hati di jalan."
Ibra membantu Audi memasuki mobil, selepas itu ia beralih ke pintu kemudi. Ibra membunyikan klakson sebagai perpisahan terakhir. Shireen melambai menatap keduanya pergi.
"Jadi, Mas Ibra sudah selesai dengan Kenan dan Mba Shireen?" tanya Audi ketika mereka di perjalanan.
Ibra menoleh sekilas. Ia meraih tangan Audi untuk ia genggam. "Mas udah bilang ke mereka, Mas gak bisa sering-sering lagi berkunjung."
"Kenan?"
"Kenan? Seperti yang kamu tahu, dia terima keputusan Mas."
Ibra menoleh lagi pada Audi. "Kenapa? Kok, diam? Kamu ... masih belum puas, ya? Atau kamu mau Mas gimana lagi sama mereka?" tanya Ibra hati-hati.
Audi menggeleng. "Enggak. Begini sudah oke."
Ibra tersenyum. Ia membawa tangan Audi, mengecupnya, lalu menggenggamnya di atas kemudi.
"Jadi, Mas udah boleh lamar kamu?"
"Apa?" kejut Audi, menatap Ibra kaget.
__ADS_1
Ibra, ia malah tersenyum dan balas menatapnya penuh arti.