Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 93


__ADS_3

Ibra terdiam ketika mendapati wajah sembab Audi di balik layar. Seperti biasa mereka akan menyempatkan melakukan panggilan video jika Ibra tak ada jadwal malam. Niat hati mau melempar rayuan, Ibra malah dibuat terpaku dengan mata bengkak dan hidung merah milik Audi.


"Kamu kenapa, Cla? Habis nangis, ya?"


Audi menggeleng, akan tetapi raut wajahnya tak bisa berbohong. Audi berbaring menyamping, menempelkan sebelah wajahnya di bantal, matanya menatap Ibra yang diliputi rasa cemas juga penasaran.


"Kenapa, Sayang?" Ibra kembali bertanya dengan halus.


Wajar wajah Audi sembab dan bengkak, sedari siang usai berdebat dengan Dava, Audi tak berhenti menangis di kamar. Ia baru berani menelepon Ibra setelah dirasa air matanya berhenti keluar, meski percuma saja karena Audi tetap tak bisa menyembunyikan fakta bahwa ia habis menangis dari Ibra.


Ibra yang dibekali ilmu psikologi di kesatuan tentu bisa dengan cepat menyadari suasana hati Audi yang kacau. Audi tidak mau Ibra tahu, tapi dia tak tahu bagaimana cara melegakan hatinya yang tak karuan selain dengan melihat wajah teduh Ibra.


"Hm?" Ibra mengangkat alis mendapati Audi hanya diam. "Kamu butuh teman curhat, kan?" tebaknya kemudian. "Mas siap dengarkan. Anggap aja Mas teman kamu."


Audi tak lekas menjawab, ia membersit hidung yang rupanya masih berair. "Mas Ibra lagi ngapain?"


Ibra sedikit menoleh ke belakang saat ada satu temannya yang menyapa, ia lalu kembali melihat pada Audi. "Kenapa, Sayang?"


"Mas Ibra lagi di mana, sih? Itu kok lampunya kayak club malam?" Suara Audi terdengar sedikit tak senang.


Ibra tersenyum. "Bukan, ini ada ultah teman SMA, Mas cuman bentaran, kok, habis acara inti langsung pulang."


"Beneran? Aku gak suka, lho, Mas Ibra main ke tempat-tempat begitu, pasti banyak cewek genit," rengut Audi.


Memang dasar keadaan hatinya belum membaik, saat mengetahui Ibra menghadiri acara ulang tahun temannya, Audi jadi semakin resah. Masalahnya tempat yang Ibra datangi seperti diskotik, memang tema acara seperti itu sudah lumrah di kota-kota besar, tapi karena sudah lumrah itulah Audi jadi tahu bagaimana suasana pesta yang sebenarnya.


"Iya, Sayang. Kamu jangan khawatirin Mas, justru Mas yang khawatir kamu kenapa."


"Audi malas ngomong kalau Mas Ibra masih di sana," ucap Audi datar. "Mending tutup aja."


Ibra terdiam sebentar. "Ya udah, Mas pamitan dulu sama teman Mas, ya? Kamu jangan tutup dulu, kita bicara kalau Mas udah di mobil."


Ibra tampak beranjak dari tempatnya. Audi tak begitu jelas melihat Ibra ke mana, tapi sepertinya dia menghampiri teman yang dimaksud, tak lain si pemilik acara. Terdengar percakapan kecil antara beberapa orang, juga tawa akrab antar sesama pria.

__ADS_1


Tak lama setelah itu Ibra kembali menghadapkan ponselnya di wajah, pria itu kini sedang berjalan keluar ruangan. Rupanya acara tersebut diadakan di salah satu hotel.


"Bentar, mobil Mas di parkiran. Kamu udah makan belum?" Ibra membuka suara.


Audi menjawab dengan gelengan. Hal itu kontan membuat Ibra mengernyit dalam. "Kok, belum? Terakhir makan kapan?" tanya Ibra sembari terus berjalan.


"Sama Tante," jawab Audi.


"Siang?" Ibra melotot tak percaya.


"Ya kan aku belum keluar kamar dari tadi!" seru Audi kesal. Ia hampir kembali terisak namun ditahan.


Raut Ibra berubah lebih serius. "Kamu sebenarnya kenapa sampai mengunci diri di kamar begitu?" Ia sudah sampai di mobil dan masuk di kursi kemudi.


Ibra tak langsung menyalakan mobilnya, ia justru diam menunggu Audi bersuara.


"Kesal sama Papa," sahut Audi parau.


"Papa? Kenapa sama Papa kamu?"


"Cla?"


"Aku udah tahu Mas Ibra sempat datang ke rumah waktu itu."


Pengakuan Audi membuat Ibra terpaku. Terlebih kini mata Audi seakan menusuknya, padahal gadis itu tidak melotot atau menatap tajam.


"Papa nolak Mas, kan?"


Ibra mengerjap. "Itu—"


"Kenapa Mas Ibra gak bilang sama aku? Mas selalu saja main rahasia kalau ada masalah. Mas Ibra suka banget nyimpan masalah sendiri."


Ibra membuang nafas. "Mas cuman gak mau kamu bertengkar sama Uwa."

__ADS_1


"Terus kalau aku gak tahu, Mas bisa gitu sembunyiin ini terus dari aku? Meski Mas gak bilang, aku tetap bakal tahu, dari siapa pun itu."


"Kamu tahu dari siapa?"


"Tadi Tante Safa keceplosan. Pas aku tanya dia diam."


Lagi-lagi Ibra menghela nafas. Memang kalau maminya sudah tahu, pasti ada saja informasi yang tidak aman. Alasan kenapa Ibra lebih sering mengajak sang papi ketika berdiskusi.


"Jadi benar, Papa nolak Mas?"


"Bukan nolak, Cla. Papa kamu cuman kasih beberapa syarat," tutur Ibra.


"Syarat? Syaratnya apa?" Audi mengernyit penasaran.


Ibra melipat bibir penuh pertimbangan. Ia memandang Audi dengan perasaan ragu. "Syartanya mudah, kok. Kamu gak perlu tahu. Pokoknya jangan khawatir, Mas pasti bisa nikahin kamu."


"Mas janji," lanjut Ibra. "Lagipula kamu belum siap nikah, kan?"


"Aku siap, kok, kalau sama Mas Ibra."


Ibra mematung. Ia cukup terkesiap dengan pengakuan Audi barusan. "Kamu bilang apa, Cla? Kamu ... siap nikah sama Mas?"


Audi mengangguk. "Aku cuman gugup, karena katanya pengajuan nikah TNI itu ribet, ditanyai ini itu, aku takut gak bisa jawab."


Senyum Ibra terbit seketika, matanya menatap Audi haru. "Serius, Sayang? Kamu gak lagi bercanda, kan?"


Audi merengut. "Emang sejak tadi kita ada bercanda?"


Ibra terkekeh, ia menyandarkan punggungnya di kursi, kedua tangannya terangkat menutup wajah. Saat terbuka, yang Audi lihat adalah wajah Ibra yang berbunga dengan kilau mata penuh bahagia.


"Makanya Mas Ibra cepat bujuk Papa," ucap Audi.


Tante Safa bilang Audi harus menyemangati Ibra. Jadi mungkin ini salah satu solusinya agar hubungan mereka tidak kandas.

__ADS_1


Ibra mengangguk antusias. "Pasti, Cla. Mas pasti akan bujuk Uwa supaya mau menerima Mas. Kamu tunggu saja sampai Mas lamar kamu secara resmi, setelah itu kita langsung pengajuan."


Audi tersenyum, ia merasa tersentuh walau sebenarnya masih penasaran dengan syarat yang diberikan sang papa pada Ibra.


__ADS_2