
Ibra tak berhenti melipat bibirnya guna menahan tawa. Sementara Audi, ia duduk di samping Ibra sambil merengut lucu. Mereka baru saja usai sholat magrib bersama, dan kini tengah duduk di ruang tamu.
Ibra berdehem sebelum bicara. "Mau makan?" ucapnya memecah keheningan.
Sebelum Audi menjawab, seseorang muncul dari arah luar rumah. Tubuhnya setengah menyembul di ambang pintu utama. "Sudah selesai, Pak. Kalau begitu saya permisi pulang?"
Adalah pria paruh baya yang merupakan salah satu tukang di rumah Ibra, dia baru saja selesai memperbaiki saluran air di taman, yang siang tadi lupa ia rampungkan.
Tubuh Ibra sedikit menegak ketika menoleh. "Oh, iya, Pak. Silakan, makasih bela-belain datang, padahal besok juga bisa." Ia berdiri, beranjak menghampiri si bapak yang kini mengangguk dengan senyum polos, seolah lupa kalau kedatangannya tadi sempat membuat Audi serangan jantung.
"Sama-sama, Pak. Kalau dibiarin sampai besok, takut semennya keburu kering."
Ibra tersenyum. Ia mengeluarkan dompet dan mengambil uang seratus ribu untuk si bapak. "Buat bensin, Pak."
"Lho, lho, jangan, Pak. Bapak kan udah bayar saya, jadi saya emang wajib selesaikan pekerjaan saya meski malam-malam."
"Gak papa, ini buat jajan aja, buat rokok apa pun itu terserah. Diterima, ya, Pak?"
"Masya Allah ... Alhamdulillah ... Bapak baik banget," ucap si tukang terharu, sambil mengambil selembar uang tersebut dari tangan Ibra. "Terima kasih, Pak."
"Sama-sama," balas Ibra ramah.
"Kalau begitu saya pulang ya, Pak. Jika ada apa-apa, jangan sungkan panggil saya, hehe. Permisi, Pak, assalamualaikum? Bu, mari?"
"Wa'alaikumussalam," sahut Ibra damai.
"Wa'alaikumsalam." Audi masih dalam mode juteknya.
Si bapak akhirnya beranjak dari sana dan segera pergi menaiki motornya. Ibra berbalik kembali pada Audi. Ia mendekat dan duduk lagi di sebelah gadis itu.
Ibra menyentuh tangan Audi yang saling bertaut di atas paha. "Masih kesal, ya?"
Audi manyun, membuang nafasnya kasar. "Kaget, tau. Jantung aku udah kayak mau copot tadi," gerutunya pada Ibra.
Ibra terkekeh halus. Ia mengusap jari jemari Audi yang kini sudah berpindah ke pangkuannya. "Lucu banget kamu. Segitu takutnya dengan hantu?"
"Emang Mas gak takut?"
Ibra menggeleng. "Enggak. Mas malah udah sering naik gunung, masuk hutan, ke kuburan malem-malem, alhamdulilah belum nemu apa pun. Eh, pernah sih, tapi ya kita santai aja, doa. Gimana pun kita sebagai muslim harus percaya sama yang ghaib, karena sejatinya mereka hidup berdampingan sama kita. Tapi, kita sebagai hamba yang beriman pada Allah, jangan kalah sama rasa takut. Mereka sama-sama makhluk Allah. Kalau kita takut, mereka malah senang karena tahu iman kita lemah. Setan itu suka kalau lihat iman manusia yang lemah."
Ibra terkekeh lagi. Ia sampai memijat pangkal hidungnya saking merasa lucu dengan sang kekasih. "Lagian kamu ada-ada aja. Masa Pak Basar kamu bilang setan? Hahaha ..."
"Iiihh~ Mas Ibra jahat banget ngetawain terus! Tadi itu beneran kayak bukan manusia! Si bapak juga kenapa harus pake sarung dikerubunin ke kepala gitu? Mana sarungnya putih pula. Udah kayak penampakan tau! Wajar kalo aku kaget lah!" rengut Audi, setengah merengek.
Ia berusaha menarik tangannya dari genggaman Ibra, namun Ibra menahan dan memberi usapan serta kecupan halus di sana. "Iya, maaf. Habisnya kamu lucu, Sayang."
Ibra menyandarkan tubuhnya menyamping di sofa, matanya menatap Audi teduh penuh cinta. "Kamu imut banget kalau cemberut. Jujur Mas suka banget. Gemes, bibir kamu makin kelihatan seksi. Kalau begini terus, Mas jadi pengen percepat pernikahan kita. Ijab qobul dulu boleh gak sih?"
Audi mendelik sambil menarik kasar tangannya hingga terlepas. "Mas Ibra lama-lama bikin aku takut, deh. Sabar, kenapa? Dua bulan lagi juga sah," ketusnya, padahal dalam hati deg-degan.
"Iya, Mas sabar, kok, Cla. Udah, yuk, kita pulang? Makan?"
"Mau makan di mana?"
"Di mana aja, nanti juga nemu di perjalanan," ucap Ibra seraya bangkit. Ia melihat Audi yang masih duduk. "Ayo? Atau kamu mau di sini aja? Rumah ini belum di adzanin, lho."
"Mas Ibra, ih! Ngeselin!"
Ibra tertawa karena berhasil menggoda Audi yang penakut. Akhirnya mereka pun pergi dari rumah itu dan memutuskan makan dulu sebelum pulang.
***
Waktu bergulir cepat. Tak terasa pernikahan pun sudah di depan mata. Terhitung kurang lebih seminggu lagi menuju akad Audi dan Ibra.
__ADS_1
Para orang tua semakin repot mengurusi ini itu. Belum lagi baju seragaman yang sebagian masih proses jahit. Syukurlah, tim desainer dari brand tersebut menjanjikan selesai dalam dua hari mendatang.
Audi sendiri hanya sibuk berkutat di rumah. Ia dilarang keras bepergian oleh keluarga besar, katanya pamali calon pengantin keluar-keluar saat akan mendekati hari H. Sudah dari sejak lima belas hari, Audi bahkan tidak diperbolehkan bertemu Ibra, kendati rumah mereka bertetangga.
Parah! Ini sudah zaman modern, tapi nyatanya keluarga Halim masih kolot dan fanatik pada mitos-mitos jaman dulu. Apa kabar Ibra yang setiap hari pergi kerja? Sampai saat ini lelaki itu masih beraktivitas seperti biasa. Entah kalau Ibra yang keras kepala, sudah dibilangi tetap ngeyel.
"Huaaaa ... boseeenn ... pengen jalan - jalan, pengen jajan, pengen shoping, pengen healing, huaaa ..." Audi menjerit menendang - nendang udara di atasnya. Saat ini ia tengah berbaring di kamar, nonton drakor, movie, scroll-scroll aplikasi belanja, dan check out barang-barang random secara tidak jelas.
Audi juga sesekali membuat konten kecil dan mengunggahnya di story Instagram, meski setelahnya ia tak pernah menengok postingan tersebut atau sekedar membaca komentar. Audi masih takut, Ibra bahkan pernah mau mematikan kolom komentar di Instagram-nya, tapi Audi larang karena menurutnya itu terlalu berlebihan. Lagi pula ini hanya masalah takut yang dirasakan Audi. Audi jadi takut membaca komentar jelek sekarang.
Karena bosan, akhirnya Audi memutuskan untuk menelepon Ibra saja. Tak peduli pria itu tengah bekerja atau tidak saat ini.
Dalam dering kelima pria itu baru mengangkatnya. "Assalamualaikum. Kenapa, Sayang?"
Terdengar suara grasak-grusuk kertas di seberang sana, mungkin benar Ibra sedang bekerja. Suaranya juga setengah tak fokus. Hebatnya ia masih mau menerima panggilan Audi.
"Kangeeeenn~" rengek Audi panjang.
Ibra tampak terdiam beberapa saat sebelum buka suara. "Jawab dulu salamnya, Cantik."
"Ish! Wa'alaikumsalam!" rengut Audi sewot. "Gak jadi kangen," ketusnya.
Ibra terkekeh. "Masa? Tadi bilang kangen?"
"Bosen di rumah teruuus. Kapan aku bisa jalan-jalan lagi?"
Ibra tersenyum meski Audi tak bisa melihatnya, matanya tetap fokus pada berkas yang ia pegang, berusaha membagi perhatian antara sang kekasih dan pekerjaan. "Sabar, Sayang. Nanti habis nikah kamu bebas mau jalan-jalan ke mana."
Audi manyun. "Tapi kok Mas Ibra masih bisa, tuh, berangkat kerja? Mas gak dilarang sama Mami?" Ia memang memutuskan mulai memanggil orang tua Ibra persis seperti Ibra memanggil mereka. Tentu hal ini atas permintaan Tante Safa.
Terdengar ringisan yang keluar dari mulut Ibra. "Ya ... dilarang, sih. Tapi Mas juga harus kerja, kan? Masa iya mau cuti dua minggu sebelum nikah? Paling nanti 3 hari sebelum hari H Mas akan mulai libur."
Wajah Audi semakin kusut. Tuh, kan, Ibra saja dikasih toleransi, masa dirinya tidak.
Di seberang sana, Ibra menyimpan bolpoinnya ke atas meja, dengan sabar ia menyahuti Audi yang kondisi hatinya sedang tidak baik. "Kalau Mas serahin semua sama Papi, kasihan. Mas udah ambil tanggung jawab ini sama beliau, jadi harus amanah. Dan lagi, kamu kan tahu Mas lagi aktif sebagai anggota partai, tentu Mas tidak bisa semena-mena kalau mau dipercaya jadi perwakilan rakyat?"
Audi menghela nafas, lalu menghembuskannya panjang. "Tapi aku bosaaan ..." keluhnya lagi.
"Sabar, dong, Yang. Tinggal seminggu lagi."
"Seminggu itu lama!" greget Audi.
"Ya terus gimana? Kamu mau pernikahannya dipercepat aja?" kekeh Ibra.
"Mas Ibra, ih, malah becanda!" kesal Audi.
Ibra pun berhenti tertawa dan mulai bicara dengan serius. "Ya udah, nanti malam kita ketemu, ya?"
Audi mengerjap. "Ketemu?"
"Heem." Audi tebak Ibra sedang mengangguk.
"Caranya gimana? Bukannya ... keluarga kita melarang?"
Ibra tak langsung menjawab, mungkin pria itu kembali fokus pada pekerjaannya.
"Lihat aja nanti."
Setelah berucap demikian, Ibra meminta izin untuk menutup panggilan karena ada tamu yang datang. Audi pun dengan sukarela mengakhiri percakapan mereka meski ia masih rindu dengan lelaki itu. Selama beberapa hari ini mereka hanya bisa bicara lewat telepon. Sungguh, ini terlalu kejam baginya!
Malam pun tiba, seperti biasa Audi akan menghabiskan waktu bersama Lalisa atau Dava di ruang tengah, menonton televisi bersama atau sekedar mengobrol hangat dan saling berbagi pikiran.
Ada kalanya Audi bertanya-tanya dalam hati, apa Ibra serius dengan janji temunya? Ia bahkan sesekali melihat ke arah pintu guna memastikan kedatangan pria itu. Namun hasilnya nihil, sampai jam sembilan lebih pun Audi tak kunjung mendapati batang hidungnya.
__ADS_1
Padahal Audi sudah bela-belain ngetem di ruang keluarga sampai berjam-jam. Bolak-balik dapur, ruang keluarga, kamar, lalu ruang keluarga lagi. Tapi tetap saja belum ada tanda-tanda Ibra bertamu. Apa jangan-jangan pria itu ketahuan mau bertemu Audi, lalu dimarahi? Oma Halim kan ada di rumah Mami Safa. Haih, Audi lupa dengan sesepuh satu itu.
Membuang nafas, Audi pun duduk lemas. Bahunya meluruh tak semangat. Suara televisi masih setia menemani, sementara orang tuanya? Jangan tanya mereka, sejak tadi Audi dicuekin hingga mati bosan.
Dunia seakan milik berdua. Keduanya sedang berbincang mengenai hal-hal menyangkut circle mereka saja. Seperti halnya arisan berlian yang aktif sang mama ikuti sampai sekarang, tender besar yang papanya dapatkan, proyek, dan segala macam menyangkut bisnis dan saham. Audi sudah layaknya lumut yang tak sengaja tumbuh di dinding, menjadi pendengar layaknya cicak di atas atap.
"Hhhh ...." Audi membuang nafas kasar. Kali ini berhasil membuat mamanya menoleh.
"Kamu kenapa, Di? Mukanya kusut banget? Ibra gak ada telepon?"
Kenapa, katanya? Bisa-bisanya! Haih, sudahlah.
Sudah dilarang keluar, dilarang bertemu calon suami, tidak boleh ini, tidak boleh itu, sekarang giliran Audi mencari pembunuh bosan dengan nyempil di antara keduanya, malah tak diperhatikan sama sekali. Diajak ngobrol pun hanya tadi.
"Gak papa. Audi ngantuk, mau bobo," cetus Audi pada akhirnya.
"Kamu ngantuk? Pindah ke kamar, sana. Nanti ketiduran di sini siapa yang mau gendong? Papa lagi sakit pinggang," ucap Dava.
Audi manyun. "Iya iya ..."
Ia pun bangkit mulai beranjak dari duduk malasnya. Lalu dengan lesu berjalan meninggalkan Dava dan Lalisa, menaiki tangga menuju lantai dua guna kembali ke kamar.
Namun sebelum itu Audi masih sempat-sempatnya menyeletuk. "Papa sakit pinggang, tapi tadi ngomongin gaya anu sama Mama."
Dava dan Lalisa melongo seketika. Dengan mata masih menatap kepergian Audi, keduanya saling sikut menyalahkan. "Papa, sih, terlalu keras ngomongnya. Jadi kedengeran, kan?"
Dava membalas tak mau kalah. "Kok Papa, sih? Tadi Mama juga malu-malu mau pas Papa ajak."
"Ya tetap aja Papa salah karena ngomongnya di sini. Udah tahu ada Audi juga."
Dava menghela nafas. "Ya udah, sih. Kan bentar lagi dia juga nikah."
Sementara di kamar, Audi tengah uring-uringan sendiri. Ia melesakkan diri di kasur, berguling ke sana kemari mencari posisi yang mendadak sulit menemukan rasa nyaman. Audi benar-benar berada dalam fase suntuk luar biasa. Ia benar-benar bosan tak tahu harus melakukan apa.
Nonton pun bukan lagi menjadi sesuatu yang menarik. Dengar musik apalagi. Cukup lama Audi berbaring dengan posisi tengkurap pasrah, sampai kemud ia mendengar suara ketukan kecil di jendela.
Tentu saja Audi terperanjat hingga seketika duduk dengan wajah tegang. Ia menoleh pada jendela kamarnya yang tertutup gorden. Ini belum terlalu malam, lampu kamar dan rumah juga masih menyala. Tidak mungkin ada setan atau maling, kan?
"Cla, ini Mas," ucap seseorang di luar sana.
Audi yang semula hendak bersikap abai, kontan meloncat dari atas ranjang. "Mas Ibra?" ujarnya sambil mendekati jendela. Ia lalu membuka gorden dengan cepat, dan nampaklah Ibra dengan pakaian santainya, berdiri di luar sambil celingukan ke sana kemari.
Buru-buru Audi membuka kunci pintu geser yang menjadi penghubung kamar dan balkon, lalu membuka celah supaya Ibra bisa masuk. "Sini, Mas, cepet!"
Ibra sempat terkejut ketika Audi menariknya ke dalam kamar. Gadis itu langsung menutup lagi pintu dan gorden guna menutupi pandangan dari luar.
"Cla, ini kita gak apa-apa di kamar?" tanya Ibra dengan raut bodoh.
Audi berdecak. "Terus Mas Ibra ngapain ke sini kalau bukan mau ke kamar aku? Kan tadi udah janji mau ketemu! Kenapa lama banget! Aku udah nungguin dari abis magrib tau!"
Rasa kesal yang terpendam sejak siang tadi kini tumpah di hadapan Ibra. Audi terisak sambil menggasak matanya yang berair.
Melihat itu wajah Ibra pun berangsur menghangat. Ia mendekat, meraih bahu Audi untuk kemudian menariknya dalam pelukan. Audi tak memakai hijab hingga rambut pendeknya bisa Ibra elus secara langsung. Ia mengecup kepala Audi dalam-dalam sambil terus mendekapnya erat.
"Hiks, kangeeen ..." rengek Audi.
Ibra tersenyum seraya membaui rambut wangi sang kekasih. "Sama, Mas lebih kangen. Tapi mau gimana lagi, kan? Sekali-kali kita nurut sama keluarga, meski ujung-ujungnya Mas tetap nekat temui kamu," bisiknya lembut.
Mata Ibra terpejam damai. Betapa ia merindukan Audinya yang sudah seminggu ini tak ia temui raut wajahnya. Padahal rumah mereka saling berseberangan, tapi karena Oma Halim dan keluarga mengawasi ketat, mau tak mau Ibra dan Audi harus sabar sampai pernikahan mereka digelar seminggu lagi.
Ini pun Ibra modal nekat manjat ke lantai dua rumah uwaknya. Bersyukur kemampuan militernya masih melekat hingga bukan hal sulit untuk Ibra sampai di sini tanpa ketahuan.
"Audi, sayangnya Mas, sabarlah, tunggulah nanti sampai Mas mengucap janji dan menjadikan kamu seseorang yang halal."
__ADS_1