
"Hiks, sakit bangeeet ..."
"Sabar, Cla. Kata dokter, pembukaannya masih lama."
Sejak Ibra mendapat telepon dari maminya, ia sudah sekitar lima ratus meter dari rumah. Beruntung masih terbilang dekat hingga Ibra mampu kembali dengan cepat.
Kondisi Audi sungguh di luar dugaan. Menurut prediksi dokter, waktu melahirkan Audi masih sekitar 2 minggu lebih 3 hari lagi. Makanya Ibra bisa sedikit leluasa karena di rumah pun ada Mami Safa dan Mama Lisa yang turut siaga.
"Sakit banget, Maaaass. Mas Ibra gak ngerasain, sih!" sewot Audi, sambil terus meringis dan merengek tak bisa diam.
Ibra hanya bisa menemani Audi, memegangi tangannya seraya memijat punggung hingga pinggul wanita itu. Hati Ibra turut resah. Siapa yang tidak akan cemas melihat raut kesakitan dari orang yang disayang? Kalau bisa meminta, Ibra ingin meminta agar Tuhan membagi sedikit saja rasa sakit yang Audi rasakan padanya.
Berjam - jam Ibra setia menunggui Audi, di sana juga ada keluarga mereka yang turut menemani. Audi sendiri sudah dipasangi infus dan selang oksigen sejak sampai di rumah sakit guna membantu pernafasan juga stamina yang perlahan melemah.
Ibra khawatir, tapi yang lebih heboh adalah maminya. Bisa Ibra bilang, Mami Safa bahkan jauh lebih berisik dari Audi sendiri yang hendak melahirkan. Tapi syukurlah, setelah Papi Edzar datang wanita itu bisa jauh lebih tenang dan tak menguar kebisingan.
Pembukaan demi pembukaan Audi lewati dengan penuh kesabaran. Ibra tak sekalipun meninggalkannya dan terus berada di sampingnya kecuali ketika waktu sholat tiba. Ibra mengusap peluh Audi, memijat bagian - bagian yang Audi bilang sakit, menciumnya lembut, dan membisiki Audi kata - kata menenangkan.
Hingga tiba di mana waktu persalinan tiba, dokter memindahkan Audi ke ruang bersalin dengan diikuti oleh Ibra. Sementara keluarga menunggu di luar, Ibra turut masuk menemani Audi yang hendak melahirkan.
Rasa cemas menghantui wajah Ibra yang tak lepas memegangi tangan Audi. Tanpa siapa pun tahu, sebenarnya Ibra merasa sangat tegang. Ia takut seandainya Audi tak kuat melewati masa persalinan. Ibra sudah tahu cerita masa lalu sang mami saat melahirkan dirinya yang sampai koma, Ibra juga takut Audi mengalami hal yang sama.
Mami Safa bilang, itu adalah perjuangan terberatnya selama hidup. Memang benar, wanita butuh berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan seorang anak. Hal yang membuat Ibra tidak berani melawan sang ibu, maupun ibu lainnya di luar sana. Dalam slogan militer pun pantang bagi seorang TNI menyakiti wanita dan anak - anak, jika ada oknum yang berani melakukannya, mereka wajib ditindak dan diberi sanksi sebagaimana mestinya.
Kembali pada Audi yang melahirkan, wanita itu begitu pucat dengan nafas terengah dalam. Audi mengikuti instruksi dokter yang memintanya berkali - kali melakukan respirasi sebelum mengedan.
Ini pengalaman pertama bagi Ibra, menemani seorang istri yang bersalin, dan menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan beratnya setelah mengandung selama berbulan - bulan. Hati Ibra membuncah tak karuan. Audinya kini semakin sempurna sebagai seorang wanita. Ia telah menjadi ibu, belum, tapi beberapa saat lagi hingga tiba di mana anak mereka resmi keluar dari dalam perutnya.
Ibra menggenggam erat tangan Audi, ia membisikkan sholawat nabi di telinga sang istri yang tengah berjuang melawan rasa sakit. Hingga tiba beberapa saat kemudian, erangan terakhir wanita itu menggema diiringi suara tangisan yang melengking membuat seluruh sudut hati Ibra terasa bergetar.
"Eeeeuungghhh ...."
"Oeek ... Oeek ... Oeek ..."
Rasa haru yang melimpah seketika meruah memenuhi segenap jiwa raga Ibra. Ia menunduk di samping kepala Audi yang terkulai lemah. Ibra menangis, ia tak mampu membendung kebahagiaan hingga menghujani sang istri dengan kecupan.
__ADS_1
Potret mengharukan itu berhasil diabadikan oleh kamera paramedis. Ibra lalu menggendong sang putra untuk pertama kali. Benar, anaknya dan Audi berjenis kelamin laki - laki. Di tampan, lahir dengan keadaan sehat dan sempurna.
"Allahu akbar ... allahu akbar!" Ibra mengadzani telinga putranya dengan getaran yang menjalar dari hati hingga suara.
Air mata tak mampu ia tahan hingga kecupan demi kecupan ia labuhkan ringan di pipi sang anak yang masih terlihat merah itu. Ia membawanya mendekati Audi yang masih terbaring kelelahan, memperlihatkan betapa sempurna makhluk kecil yang sudah wanita itu lahirkan.
"Lihat, Sayang, dia sangat tampan," bisik Ibra, dipenuhi rasa bahagia. Pun raut Audi yang sama menguar senyum haru. Ia tersenyum sekaligus menangis secara bersamaan.
"Terima kasih, Sayang. Kamu adalah istri dan ibu yang sempurna bagi Mas dan anak kita," tambah Ibra, sebelum membungkuk mencium kening dan bibir Audi sekilas.
Audi tak hentinya menangis sampai dokter melanjutkan prosedur pemeriksaan terhadapnya. Sang putra pun harus mendapat perawatan lanjutan supaya ia bersih dan steril dari segala macam kotoran.
Ibra keluar menemui keluarganya, ia kembali menangis saat kedua orang tuanya dan Audi berdiri menghampiri, terlebih saat sang mami mendekapnya memberi usapan, berusaha menyalurkan kekuatan pada Ibra yang masih diliputi euforia ruang bersalin.
Rasa cemas, bahagia dan haru bercampur menjadi satu di wajah Ibra. Lelaki itu baru saja melewati masa - masa paling menegangkan dalam hidupnya. Ia bersyukur istri dan anaknya dalam keadaan sehat tanpa kekurangan apa pun.
Terima kasih, Tuhan. Betapa ia tidak tahu harus berapa kali lagi mengucap rasa syukur, yang pasti Ibra tak akan pernah melupakan momen bersejarah ini selama ia masih bernafas. Tak akan pernah. Hal ini juga sekaligus menjadi pengingat bahwa Audi adalah wanita paling sempurna yang ia miliki.
"Bagaimana, Ibra?" Pertanyaan itu keluar dari benak semua orang.
"Alhamdulillah ..." Ucapan hamdalah tak pelak keluar begitu saja.
Semuanya bersyukur atas keselamatan Audi dan anaknya. Padahal di awal Safa sempat begitu panik karena kondisi Audi tak diprediksi sebelumnya. Waktu persalinan yang meleset dari perkiraan membuat semua orang menjadi cemas, terutama Dava dan Lalisa selaku orang tua kandung Audi yang tak berhenti memanjatkan do'a selama Audi melewati masa pembukaan hingga masuk ruang melahirkan.
"Kalian sudah menentukan nama?" Papi Edzar bertanya pada Ibra.
Ibra mengangguk disertai senyum bahagia. "Sudah, Pi. Nanti Audi dan Ibra umumkan saat acara tasyakur putra kami."
***
"Sayang?" Ibra tersenyum, menatap Audi yang baru saja membuka matanya dengan teduh. "Minum dulu." Ia mengulurkan segelas air pada sang istri setelah mengatur ketinggian punggung ranjang hingga sedikit menegak.
Audi menerima gelas tersebut dan meneguk isinya hingga tandas. Ibra menyimpan lagi gelasnya ke atas meja. Ia lalu duduk di bibir ranjang, mengusapi kening Audi yang tersemat beberapa anak rambut.
Audi balas tersenyum mengusap tangan Ibra. Matanya lalu beralih pada Papa Dava dan Mama Lisa yang juga berdiri di samping ranjangnya. Begitu pula Mami Safa dan Papi Edzar. Ada Oma Halim juga yang duduk di sofa sambil menatap hangat ke arahnya.
__ADS_1
Audi benar - benar terenyuh. Ia menatap Ibra lagi dan bertanya tentang anak mereka. "Anak kita mana, Mas?"
Ibra tersenyum, kali ini ia mengusap sisi wajah Audi dengan halus. "Ada, lagi jalan ke sini sama perawat. Tadi mereka siapin ranjangnya dulu."
Tak lama pintu ruangan Audi terbuka, seorang perawat masuk bersama bayi mereka yang bergelung hangat di balik selimut tebal. Perawat itu menghampiri Audi dan menyerahkan sang putra ke pelukannya. Audi bukan main senangnya. Ia terkekeh lirih memandang wajah kecil di pangkuannya tersebut.
Bayi mungil dengan berat 2900 gram itu berhasil menarik perhatian semua orang. Oma Halim bangkit dari duduknya di sofa, Papa Dava, Mama Lisa dan Mami Safa berebut ingin mendekat. Hanya Papi Edzar yang tampak tenang di samping Ibra.
"Bayinya tampan, sehat dan sempurna," ucap perawat tadi yamg mengantarkan bayi Ibra dan Audi.
Ia lalu menjelaskan dan mengajarkan Audi beberapa cara dalam merawat dan menyusui bayi. Entah berapa lama wanita itu bicara sampai akhirnya pamit undur diri ketika Audi berhasil menyusukan ASI pertamanya pada sang anak.
"Ih ganteng banget," celetuk Mami Safa. "Ini, sih, gen anak kita yang unggul, Pi," ucapnya pada Papi Edzar, bangga.
"Enak aja. Sekilas aja mukanya mirip Audi, kok." Mama Lisa seakan tak terima.
"Sudah - sudah, bayi baru lahir masih belum bisa ditebak mirip siapa - siapanya. Sekarang mirip bapaknya, bisa aja beberapa bulan kemudian mirip mamanya," ujar Oma Halim menengahi. "Yang penting itu sehat dan sempurna, dia lahir tanpa kekurangan satu apa pun," lanjutnya, yang lantas diangguki semuanya.
"Untuk tasyakuran akikah, mau diadakan di 7 hari setelah lahir, atau 40 hari?"
"Kayaknya 7 hari aja, Oma. Biar cepat dan kita bisa fokus merawat baby ke depannya," sahut Ibra.
Audi mengangguk setuju. Hal ini memang sudah ia dan Ibra rundingkan sebelumnya.
Semuanya setuju. Dan seperti biasa Mami Safa dan Mama Lisa yang paling heboh dengan segala persiapannya. Sementara untuk kambing, Ibra lebih memilih minta usulan pada Papi dan Papa mertuanya yang jauh lebih paham dan tahu mengenai peternakan yang bagus.
"Alhamdulillah, ya. Semuanya berjalan tanpa terasa. Oma masih merasa kalian baru menikah kemarin hari, eh, sekarang cicit Oma udah lahir aja ..." tutur Oma Halim menyusut air mata.
Safa dan Lalisa yang berdiri mengapit dirinya, kontan mengusap kedua bahu wanita baya itu. "Iya, Oma. Alhamdulillah banget, sekarang Oma udah jadi buyut."
"Hiks, berarti Oma semakin tua, ya~"
Melihat Oma Halim yang merengek meratapi usia senjanya, semuanya hanya bisa terdiam tanpa berani bersuara, yang ujung - ujungnya pasti terdengar serba salah.
Bagaimana pun, Oma Halim dan Mami Safa adalah kesatuan dengan sifat yang hampir sama.
__ADS_1