Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 80


__ADS_3

"Mas gatel banget pengen upload foto kamu yang ini." Ibra bergumam seraya menggeser-geser jarinya di layar ponsel. Ia sedikit menunjukkan hasil foto saat fashion show tadi pada Audi


Saat ini mereka tengah berada di sebuah tempat makan untuk makan siang yang sebenarnya sudah telat. Karena Ibra yang tetap ingin makan makanan Indonesia, Audi mengurungkan keinginannya untuk mampir di restoran Korea.


"Jangan, nanti orang-orang tahu. Apalagi kalau Mas Ibra ngetag aku, pengikut aku pada penasaran dan kepoin akun Mas."


"Akun Mas dikunci, kok."


"Nanti teman-teman Mas yang tahu."


Ibra membuang nafas berusaha sabar. "Ya udah."


Padahal di akun Ibra juga banyak foto Audi jaman dulu. Tapi karena Audi enggan mengumbar, ya sudah. Ibra mulai kembali fokus pada piring di depannya. Ia melirik pada Audi yang sedari tadi sangat sibuk memisahkan seledri dari sop buntut miliknya.


"Belum selesai juga?"


"Belom, ini seledrinya banyak banget, sih?" keluh Audi.


Ibra yang kasihan akhirnya mengambil mangkok Audi. "Mana, sini Mas aja yang pisahin."


Dengan cepat namun teliti, Ibra berusaha membuang potongan-potongan seledri itu dari rendaman kuah. Ia melebarkan selembar tisu sebagai wadah.


"Mas bilang kamu pesan bakso aja. Kan bisa tuh request gak pake seledri," tutur Ibra sembari fokus.


"Bosen. Kemarin aku udah ngebakso sama Mba Tian."


Ibra hanya mendongak sesaat tanpa menyahut. Tak lama kemudian ia menggeser kembali mangkuk Audi ke hadapan gadis itu. "Nah, udah."


"Makasiiih ..."


Ibra tersenyum. "Sama-sama."


Mereka makan dengan tenang, sesekali Ibra melirik Audi dengan pandangan teduh. Dalam hal ini Ibra mau tak mau mengingat kembali pertemuannya dengan Oma dan Uwa Dava tempo hari.


Ibra tampak melamun sesaat, rautnya seolah memikirkan hal berat. Terlepas dari obrolannya bersama Dava, ada sesuatu yang beberapa hari terakhir menjerat Ibra dalam kebimbangan.


Sebuah permintaan yang Dava cetuskan sebagai syarat untuk Ibra meminang Audi. Entah apakah Ibra bisa melakukannya atau tidak. Jika tidak, maka Ibra pun harus merelakan Audi dipinang lelaki lain.

__ADS_1


Ibra tak menyangka Dava akan memberi tantangan sebesar itu. Apa Ibra siap? Apa Ibra mampu kehilangan Audi?


Jawabannya pasti tidak. Ibra mencintai Audi, itu sudah jelas. Ia tak akan sanggup jika gadis itu diperistri pria lain. Tapi syarat yang diajukan sang uwa sungguh membuat Ibra serasa dipukul mundur.


Ibra memang bukan pengusaha seperti papa Audi, atau bahkan papinya yang juga seorang pebisnis handal. Tapi Ibra tentu sudah memikirkan dan menyiapkan secara matang ekonominya untuk masa mendatang. Selain gaji, tabungan dan deposito bank, Ibra juga memupuk modal hingga ia bisa mendapat penghasilan lain dari deviden saham.


Ibra tahu ia masih jauh jika harus disamakan dengan papi dan uwanya yang kaya raya, tapi bisa Ibra pastikan ia mampu membeli rumah paling mewah sekalipun di kawasan Kelapa Gading. Ibra juga bisa menanggung resiko Audi yang sering belanja barang baru setiap minggunya. Sesusah apa pun, Ibra tak akan membiarkan Audi ikut merasa sulit.


Audi yang mendongak tanpa sengaja mendapati Ibra yang melamun sambil menatap dirinya dengan pandangan menerawang. Audi mengunyah supnya dengan perasaan heran, ia melirik piring Ibra yang sebagian besar makanannya masih utuh. Tumben, di saat punya Audi sudah mau habis, pria itu malah terkesan tak makan sesuap pun. Biasanya Ibra paling cepat kalau makan.


"Mas Ibra?"


Ibra tak menyahut.


"Mas?"


Masih tak ada sahutan. Ibra kenapa, sih?


"Mas Ibra!" Akhirnya dengan terpaksa Audi memanggil pria itu sedikit keras. Ia meringis saat tahu sebagian pengunjung lain melirik ke arah mereka.


Di samping itu Ibra langsung terperanjat dari lamunannya. Ia mengerjap dan tergagap menatap Audi. "K-kenapa?" Ia melirik sup Audi yang sudah mau habis. "Udah habis, ya? Kamu mau pesan lagi?"


Kini giliran Ibra yang menggeleng pelan. "Enak, kok. Ini Mas makan," ucapnya sambil memakan cepat nasinya.


Audi masih memandang lelaki itu dengan tatapan heran. "Mas Ibra kayak ngelamun. Ngelamunin apa, sih?"


"Hm?" Ibra mendongak, mengangkat kedua alis. Kunyahan di mulutnya memelan ketika berpikir.


"Enggak. Siapa yang melamun?"


"Mas Ibra," cetus Audi.


"Mas lagi makan," elak Ibra.


"Itu sekarang, tadi enggak." Audi masih kekeh.


Ditodong seperti itu Ibra hanya mampu terdiam. Ia seperti enggan berlama-lama melihat Audi. Atau itu hanya perasaan Audi? Mungkin benar, Audi memang selalu overthinking.

__ADS_1


Audi membuang nafas pelan, membereskan bekas makan miliknya untuk dipinggirkan ke sisi meja. Ia minum sambil sesekali melirik Ibra yang tengah menyelesaikan makan.


"Mas, pinjam ponsel Mas, dong?"


Ibra mendongak heran. "Buat apa?"


"Lihat foto tadi."


"Ooh." Ibra mengambil ponselnya di atas meja, menekan sidik jari di layar guna membuka kunci, lalu menyerahkan benda pipih itu pada Audi. "Ada di folder kamera, belum Mas pindahin."


Audi mengangguk-angguk. Ia mulai melihat-lihat album foto di ponsel Ibra. Audi beberapa kali berdecak ketika mendapati begitu banyak foto dirinya di sana.


Ibra membuat folder khusus yang semuanya berisi foto Audi sejak kecil, remaja, bahkan hingga sekarang. "Ih, Mas Ibra suka nyolong foto aku di IG, ya?"


"Hm." Ibra bergumam sembari mengunyah.


"Banyak banget foto aku waktu kecil. Mana yang ompong juga ada. Ini waktu aku pertama tanggal gigi, ya? Hebat banget Mas masih nyimpan."


"Iya. Tiap ganti ponsel, Mas gak hapus." Ibra menyahut sambil lalu.


"Ooh ... Emang gak menuhin memori?"


Ibra menggeleng. "Gak semuanya Mas simpan di sana, kok. Sebagian besar ada di flashdisk dan memori eksternal."


"Gitu?" Audi tak tahu harus bilang bagaimana lagi.


Foto Audi di ponsel Ibra saja jumlahnya hampir lima ribu, apalagi di tempat-tempat lain yang Ibra sebutkan. Entah berapa banyak foto yang Ibra punya.


Tiba-tiba saja mata Audi tertarik dengan aplikasi warna hijau. Mendadak ia penasaran dan ingin lihat, Ibra sering chat dengan siapa saja.


Hasilnya hanya ada beberapa grup para TNI, kesatuan paspampres, chat teman, komandan, dan beberapa orang berpangkat yang tak Audi kenal. Audi geleng-geleng melihatnya. Isi WhatsApp Ibra sudah seperti batalyon versi maya. Kelihatan sekali hidup Ibra sekaku itu.


Audi menggeser terus ke bawah dan menemukan nama Uwa Dava, yang tak lain Papa Audi sendiri. Ia membuka laman percakapan itu dan terdiam. Audi mendongak pada Ibra yang tengah makan.


"Mas Ibra sering chatan sama Papa?"


Hening. Audi tidak tahu apakah pertanyaannya membuat Ibra terkejut. Pria itu seketika terdiam menghentikan sejenak kegiatan menyuapnya. Ia melirik ponselnya di tangan Audi. Mereka saling tatap dengan pandangan rumit.

__ADS_1


"Enggak sering. Cuman beberapa kali."


__ADS_2