
Ibra senang, karena beberapa hari terakhir Audi sudah mau diajak bicara. Gadis itu tak lagi menolak ketika diajak telpon, meski masih jarang membalas pesan, Ibra maklumi mungkin jadwal Audi sama padat seperti dirinya.
Mereka sama-sama dewasa dan punya pekerjaan, tentu Ibra tak serta-merta kekanakan dengan menuntut Audi untuk saling berbalas pesan. Ibra senggang belum tentu Audi juga senggang.
Persis apa yang Ibra pikirkan, Audi memang tengah sibuk-sibuknya menggarap projek baru. Akhir-akhir ini ia tengah mencoba belajar bisnis bersama Ajeng. Rencananya mereka mau membuka retail kosmetik berupa make up dan skincare.
Audi juga meminta beberapa saran dari sang papa yang notabene pebisnis sejati dari lahir. Tak lupa ia juga melakukan riset ke berbagai tempat dan perusahaan kosmetik itu sendiri bersama Ajeng. Hasilnya, mereka semakin mantap untuk memulai usaha tersebut.
Selain itu Audi juga masih menekuni dunia youtube, karena di sanalah tempat Audi bisa memiliki nama sebesar ini sampai sekarang. Memang tak seterkenal bintang film dan sinetron, tapi rata-rata dari mereka yang memiliki brand kecantikan selalu mengundang Audi saat launching produk terbaru.
Detik-detik mendekati Ramadhan mulai mendekat. Suasana juga mulai beda Audi rasakan. Biasa kalau mau puasa pedagang makanan bertambah banyak, apalagi minuman, sudah tak terhitung berapa jenis menu yang ditawarkan para orang-orang kreatif dengan berbagai ide jualan itu.
Mungkin saat bulan Ramadhan, Audi akan mengurangi aktifitasnya seperti biasa. Waktu rekaman diundur menjadi malam, kecuali hal-hal kecil seperti foto endorse masih bisa dilakukan siang hari. Bagaimana pun Audi manusia yang bisa lelah, para timnya pun pasti sama. Makanya setiap puasa ia selalu mengubah jam kerja menjadi malam.
Tapi kalau untuk iklan yang terlanjur kontrak mau tak mau Audi jalani kapan pun jadwalnya meski malas.
Ngomong-ngomong jadwal, sore ini Audi baru saja pulang dari photo shoot di sebuah resort penginapan. Baru-baru ini Audi menerima tawaran untuk menjadi BA sebuah tempat wisata di Lembang.
Lumayan, pamor Audi sebagai mojang Bandung kian meningkat seiring hari. Bahkan Ibu Gubernur saja mengaku kagum dan bangga padanya, padahal Audi sendiri tidak tahu apa yang bisa ia banggakan, secara Audi tak memiliki prestasi apa pun selain lulus S1 dengan nilai yang tidak memalukan.
Si ibu bisa saja membuat Audi terbang melayang. Sebuah kehormatan instagram-nya diikuti seorang pejabat. Bahkan sekelas Najwa Sihab pun turut mengikutinya entah untuk alasan apa. Mungkin Mba Najwa mau cari referensi make up buat syuting, maybe, biar acara debat tak begitu menegangkan karena terintervensi kecantikan Mba Najwa yang berkilau.
Audi mulai ngaco. Alih-alih itu Audi malah terbayang mie ayam sekarang. Sudah lumayan lama Audi tak jajan makanan tersebut, dan kali ini baru kepikiran lagi untuk mencoba.
"Ma, mie ayam bakso dekat toko Purnama itu masih buka gak, sih? Orangnya masih jualan, kan?" Audi yang baru saja bangkit dari rebahan lantas keluar kamar dan langsung menuruni tangga, menghampiri sang mama yang tengah bersantai di ruang keluarga.
__ADS_1
Lalisa menoleh menatap putrinya sekilas, lalu lanjut nonton sekalian menjawab. "Masih kayaknya. Mama juga udah lama gak ke sana. Tapi kemaren Teh Nisa kayaknya beli di sana, deh. Iya bener di sana. Berarti masih."
Teh Nisa adalah salah satu tetangga mereka yang rumahnya bersebelahan dengan Tante Safa.
"Masih, ya. Sukur, deh. Aku kangen banget porsinya yang seabrek, hehe. Ayamnya juga gak pelit." Audi sudah seperti food vloger yang mereview tempat makan.
Mendengar itu Lalisa langsung mendelik. "Kenapa kamu gak beli mie ayam frozen punya papa kamu aja? Sekalian iklan, kek, di instagram."
"Beda, Mama. Aku maunya yang deket toko Purnama. Nanti, deh, kapan-kapan aku promoin lagi produk-produknya Papa."
"Pelit banget kamu sama orang tua. Kalo masuk supermarket, minimarket tuh ya beli produk sendiri! Itung-itung memperkaya diri!"
"Astaga, Mama beneran mantan manager perusahaan Singapur, kan? Kalo Audi beli produk sendiri, nanti rezekinya berputar di situ-situ aja, dong. Kita produksi itu buat dinikmati orang lain, biar orang lain yang beli dengan uang mereka. Kalau Audi yang beli nanti rezeki Papa jatuhnya dari Audi, dong?"
"Ya gak gitu juga. Tau, ah, capek ngomong sama anak yang maunya benar sendiri." Lalisa melipat dada lanjut menonton drama.
"Sembarangan kamu kalo ngomong. Mentang-mentang cantik, belum tentu juga bisa akting sehebat dia. Dan lagi, ini tuh bukan jamet, ini preman yang lebih keren dari polisi! Kebetulan aja ini aktor penampilannya lagi heboh. Kalo kamu tahu penampilannya yang biasa, Mama jamin kamu jatuh cinta. Kamu tahu apa sih tentang drama? Paling yang kamu tahu drama-drama jadul tahun lalu, mana sempat kamu nonton, kan? Kerja terus, sih."
Seketika Audi berdecak. "Orang lain tuh seneng liat anaknya sukses, ini malah diomelin," rengutnya kesal. "Bentar lagi toko Audi dan Ajeng launching, Ma. Mama nanti bantu promosiin ke teman-teman sosialita Mama, ya. Di sana juga banyak produk-produk make up kelas atas kualitas internasional. Pokoknya gak bakal malu-maluin kalo datang ke sana."
Lalisa menjawab sambil lalu. "Kamu senang banget cari uang, kapan mau nikah?" celetuknya tak terkira.
Seumur-umur ini pertama kali Lalisa menanyakan hal ini pada Audi. Audi terperangah menatap mamanya. "Mama udah mulai berubah jadi ibu-ibu kolot yang suka rempong nanyain anak perawan kapan nikah, ya?" Ia mengernyit jijik. "Ih, jangan, deh, Ma. Norak banget tahu."
Lalisa mendelik tajam. "Norak kamu bilang? Apa menurut kamu Mama gak boleh khawatir sama anak sendiri yang belum kawin-kawin sampe sekarang? Umur kamu udah dua tujuh, lho. Bentar lagi juga tiga puluh, waktu gak kerasa berputarnya. Sampai kapan kamu mau sibuk dengan kehidupan lajang kamu itu?"
__ADS_1
"Memangnya apa yang Mama khawatirin? Toh, Audi baik-baik aja."
Mendengarnya Lalisa pun membuang nafas. "Baik gimana? Kamu tuh sering banget digosipin sama pria, tapi gak ada satupun yang kamu bawa ke depan keluarga. Sebenernya kamu itu punya pacar apa enggak? Heran, punya anak cantik jatuhnya kayak gak laku."
"Enak aja gak laku! Kalo gak laku, gak mungkin Mas ..." Audi hampir keceplosan menyebut nama Ibra. "Ah, udahlah. Pokoknya Audi itu bukan gak laku, cuman belum nemu yang cocok aja. Lagian kenapa mesti khawatir, sih? Kalau umur Audi udah mau empat puluh, baru Mama mesti khawatir."
"Ya khawatir, lah. Seenggaknya kalau kamu udah nikah, gak ada tuh gosip-gosip gak bener tentang kamu yang suka jadi simpanan om-om."
Mengibas tangan, Audi pun berkata santai. "Harus banget Mama dengerin begituan? Udah tahu itu berita palsu, ngapain dipeduliin?"
"Kamu itu keras kepala banget, sih?"
Di tengah perdebatan mereka, tiba-tiba suara ketukan mengalihkan segala perhatian. Tante Safa muncul dengan sebuah buku serupa majalah di tangannya. Ia tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Maaf, tadi ketuk pintu depan kayaknya gak ada yang dengar, hehe, jadi Tante masuk aja. Tante ganggu, ya? Mba lagi bicara penting sama Audi?"
Audi dan mamanya sempat saling pandang sebelum menggeleng serentak. "Enggak, kok."
"Tante ada perlu sama Audi?" Audi bertanya pada Safa.
"Eh, iya. Kamu bisa bantu Tante sebentar, gak?"
Kening Audi berkerut. "Bantu apa, Tante?"
Tanpa pikir panjang Safa pun mendekat, ia memperlihatkan tabloid yang ternyata berupa brosur produk perhiasan berlian dari brand ternama.
"Ini, Tante bingung mau beli perhiasan. Kamu bisa bantu pilihin yang bagus, gak?"
__ADS_1
Audi maupun Lalisa sontak mengernyitkan dahi. Betapa tidak, seorang Safana Halim yang notabene adalah penggiat fashion dan mode kenapa tiba-tiba minta pendapat orang hanya untuk membeli perhiasan?