Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 12


__ADS_3

Mas Ibra : Cla, Mas lagi tugas di Surabaya, nih.


Audi menghela nafas lelah. Ini hari kedua sejak Ibra rutin mengiriminya pesan. Maksud lelaki itu apa, sih? Hampir setiap saat memberitahukan aktivitasnya pada Audi.


Memangnya dia siapa?


Mas Ibra : Kamu lagi apa? Udah sarapan belum?


Decakan pelan keluar dari mulut Audi. Ia biarkan saja ponselnya sementara dirinya berlalu ke kamar mandi. Membaca chat Ibra membuat Audi mulas ingin buang air.


Kemarin sore paket produk dari Ajeng sudah sampai di rumah. Rencananya hari ini Audi akan me-review lipstik-lipstik tersebut di kanal YouTube-nya.


Audi selesai mandi dan mengeringkan rambut. Ia juga sudah memakai skincare dan siap membuat konten saat tiba-tiba saja bel pintu rumahnya berbunyi.


Audi mengernyit. Mamanya sedang keluar, papanya juga sudah berangkat kerja. Jujur saja Audi sedikit malas menerima tamu apalagi asisten rumahnya sedang belanja ke pasar.


Audi keluar kamar dan turun ke lantai bawah, lalu membuka pintu hanya untuk mendapati Tante Safa berdiri dengan senyum ramahnya yang membuat mata silau.


Audi heran, sudah umur lima puluhan tapi kecantikan Tante Safa tak kalah dari wanita-wanita usia tiga puluh. Audi jadi serasa bertemu aktris Korea yang awet muda.


"Tante?"


"Audi, Tante bawa sarapan buat kamu." Dengan senyum lebar Tante Safa mengangkat rantang di tangannya.


Audi mengerjap. Kebetulan macam apa ini? Tadi anaknya yang bertanya mengenai sarapan, sekarang ibunya tiba-tiba antar makanan.


"Ah, haha. Tante kenapa repot-repot. Bukannya Tante baru sembuh, ya? Audi jadi gak enak."


"Tante udah sehat, kok. Nih, buktinya udah bisa masak."


Audi meringis. Ia menerima rantang yang Tante Safa terus sodorkan. Tidak mungkin juga Audi menolak di saat wanita itu mungkin sudah bersusah payah mengantarinya makanan. Ini pertama kali Audi melihat Tante Safa keluar rumah sejak pulang dari rumah sakit. Jadi Audi pikir sang tante masih tak enak badan.


"Makasih banget, lho, Tante. Tapi Audi beneran gak enak."


"Sungkan banget kamu sama Tante sendiri. Setahu Tante Mama kamu lagi gak ada, terus ART juga lagi ke pasar dan belum sempat masak, kan?"


Audi mengangguk.


"Makanya itu Tante bawain aja dari pada kamu lama nunggu pesan antar. Lagi pula itu bukan Tante yang masak, hehe, tapi Bibi." Tante Safa tampak meringis malu.


Tapi Audi malah lega karena ternyata Tante Safa tidak serepot yang ia pikir.


"Sekali lagi makasih, Tante."


"Sama-sama." Mami Ibra itu tampak tersenyum hangat. Lalu tiba-tiba ia berkata. "Tante merasa sikap kamu berbeda setelah Ibra menikah."

__ADS_1


Audi mengerjap. "Maksud Tante?"


Sorot mata itu sedikit sendu. "Kamu ..." Tante Safa tertawa lirih. "Entahlah, kamu jadi kayak jaga jarak gitu sama keluarga Tante. Mungkin ini perasaan Tante aja, lho. Maaf, ya?"


"Tapi kamu emang gak pernah lagi main ke rumah Tante, Audi."


Audi terdiam, tak menyangka Tante Safa akan sebegitu peka terhadap sikapnya. Audi mengulas senyum bersalah. "Maaf jika Tante merasa begitu. Jujur Audi tidak bermaksud menjauh apalagi menghindar. Mungkin Audi terlalu larut dalam pekerjaan. Audi jadi tidak sempat main ke rumah Tante seperti dulu. Maaf, ya, Tante?"


"Iya gak papa. Tante yang mungkin egois gak lihat kesibukan kamu. Habisnya sejak Ibra masuk militer, hanya kamu yang bisa mengusir rasa bosan Tante."


"Apalagi setelah menjadi anggota Pasukan Pengamanan Presiden, masmu itu semakin jarang pulang. Terbang ke sana sini, dari satu kota ke kota lainnya. Bahkan lebaran bersama pun sekarang sudah jarang dilakukan."


"Kadang Tante menyesal mengizinkan Ibra menjadi abdi negara, bukannya pengusaha meneruskan bisnis papanya."


Rasa iba muncul menyergap perasaan Audi. Audi tahu betul, di balik kebanggaannya terhadap Mas Ibra, Tante Safa justru harus kuat menelan rasa rindu karena harus berlama-lama berpisah dengan sang anak.


"Tante ..." Audi memeluk tantenya erat. "Tante yang sabar, ya? Audi juga minta maaf karena sudah tanpa sengaja mengabaikan Tante. Audi benar-benar minta maaf. Audi janji kalau Audi punya waktu senggang, Audi akan sering main ke rumah Tante."


"Janji, ya? Tante tunggu, lho." Tante Safa mengusap punggung Audi.


"Huum, Audi janji."


Kemudian ia teringat sesuatu. "Oh iya, Tante." Audi melepas pelukan. "Hijab dari Tante bagus banget. Audi suka. Makasih, ya."


"Kamu sudah terima hijabnya?"


Tante Safa tampak termenung sebentar. Kemudian ia bergumam sesuatu yang tidak begitu Audi dengar. "Baru tahu, ternyata ada namanya, ya?"


"Tante bilang sesuatu?"


"Ah, tidak. Iya, kerudung itu memang dipesan khusus dari teman Tante. Kebetulan dia produksi hijab dan scarf gitu."


"Oh ... pantas desainnya berbeda."


"Heem. Itu spesial buat kamu."


"Ya udah, Tante pulang dulu, ya? Kamu gak mau sekalian main?"


Audi meringis. "Gak sekarang, ya, Tante? Audi ada review produk, mungkin nanti sorean atau malem?"


"Oh, ya udah gak papa. Yang pasti, kapanpun pintu rumah Tante selalu terbuka untuk kamu."


"Hehe iya, Tante."


"Ya udah, yuk, assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam, Tante."


Audi menutup pintu setelah dilihatnya sang tante memasuki rumah. Ia menghela nafas sebentar sebelum menyimpan rantangnya ke dapur.


Mas Ibra : Sibuk boleh, tapi jangan sekali-kali lewatin makan. Percuma kamu banyak uang kalau ujungnya sakit-sakitan.


Itu pesan Ibra yang baru sempat Audi baca. Dugaan Audi semakin kuat, kedatangan Tante Safa barusan ada hubungannya dengan pria itu.


***


"Dari tadi lihatin ponsel terus. Ketahuan atasan, habis kamu dicecar. Dikiranya lengah dan gak fokus."


Ibra berdecak. "Apa, sih? Cuma lihat sebentar-sebentar," ucapnya memasukkan kembali benda pipih itu ke dalam saku.


"Lagi dekat sama seseorang?"


"Kepo," seloroh Ibra tanpa suara.


"Empat hari lalu Gina ke Bandung."


Sontak Ibra menoleh. "Ngapain?"


Ben mengangkat bahu tak tahu. "Mungkin mencari gebetannya yang mendadak hilang dan susah dihubungi?"


"Gebetan?"


"Jangan bilang kamu gak peka lagi? Gina itu suka sama kamu."


"Tapi, kita hanya pernah sekali kenalan. Kenapa dia harus sampai ke Bandung? Lagi pula dia tahu alamatku dari mana? Jangan bilang kamu yang kasih?" Ibra tampak kesal. Terlihat dari keningnya yang berkerut dalam.


Ben mengusap tengkuknya menghindari tatapan Ibra. "Dia maksa."


"Dan kamu gak bisa jaga privasi," sambung Ibra.


"Ya udah sih, lagian kupikir kalian bakal jadian."


Ibra mendengus. "Jadian? Baru selang beberapa bulan dari sidang perceraian? Memangnya aku pria seperti apa?"


Ben mengangkat bahu, lalu berkata sambil berlalu. "Seperti yang terlihat barusan. Kamu senyum-senyum sendiri berbalas pesan dengan seseorang. Siapa wanita itu? Gadis atau sudah janda?"


Pluk.


Ibra melempar sarung tangan hitamnya tepat mengenai wajah Ben. "Sembarangan. Dia bahkan belum pernah pacaran."


Ben melongo. "Yakin? Apa dia seorang pendeta? Atau anak pemuka agama?"

__ADS_1


"Tidak keduanya." Tatapan Ibra menerawang saat tersenyum. "Tapi dialah yang akan menyempurnakan separuh agamaku."


__ADS_2