
Berita tentang kejadian di Istana Kepresidenan Bogor sudah menyebar luas di media. Video amatir yang menampilkan truk ugal-ugalan yang hendak menerobos barisan tentara seketika viral di sosial media.
Tak hanya itu, sosok Ibra yang menjadi penembak hingga berhasil menghentikan truk gila tersebut turut disorot habis-habisan. Banyak yang penasaran akan sosok Ibra karena menurut mereka aksinya itu sangat keren.
Sayangnya akun Instagram Ibra dikunci, hal itu sangat disayangkan oleh para kaum kepo yang sebagian besar terdiri dari kaum hawa.
Tak jauh beda dengan mereka yang menyanjung Ibra, sang ibu, Safana Halim juga turut bersorak gembira melihat keberanian putranya.
"Ya ampun, ya ampuuun ... anakku ini, Jeng, anakku ... hahaha, gagah banget, kan? Apa aku bilang?" Safa yang saat itu memang tengah berkumpul dengan teman-teman sosialitanya, dengan bangga memamerkan Ibra di hadapan para ibu-ibu kelas atas itu.
Beberapa dari mereka sampai mengajukan diri ingin berbesanan, tapi karena Safa masih baik hati menyimpan posisi tersebut untuk abangnya, ia dengan tegas mengatakan bahwa Ibra sudah memiliki calon.
Mereka tahu Ibra duda dan sudah bercerai, makanya bisa berani memintanya menjadi menantu.
Lain Safa lain Dava, lelaki itu juga baru menonton berita di rumahnya. Dava baru saja pulang dari Solo pagi tadi, dan langsung menggarap sang istri di kamar. Sekarang wanita itu tengah sibuk di dapur menyiapkan makan siang.
Lalisa muncul dengan daster kebesarannya sambil membawakan Dava jus buah, biar staminanya terjaga, kata Lalisa. Padahal tadi saja Dava mampu membuat Lalisa menjerit.
"Berita apa, sih, Mas? Rame banget kayaknya. Tadi aku juga sempat lihat selewat di timeline, tapi belum benar-benar perhatiin beritanya." Lalisa bertanya sembari sibuk membereskan meja dari toples-toples yang sudah kosong.
"Hm, berita di Istana Kepresidenan," jawab Dava, malas.
"Di mana?"
"Bogor lah."
"Oohh." Lalisa bergumam. Ia menoleh sejenak pada televisi, lalu pada sang suami yang wajahnya malah terlihat bete.
__ADS_1
"Terus, Mas kenapa? Lihat berita kok sampai merengut segitunya?" Lalisa masih belum tahu pembahasan apa yang disiarkan, karena begitu ia menoleh beritanya sudah berpindah ke topik lain.
"Enggak papa, kesal aja lihat orang sok keren," ujar Dava ketus.
Lalisa semakin mengernyit heran, namun kemudian ia mengendik masa bodo dan lekas berdiri, berniat kembali ke dapur. "Itu makanannya udah siap. Mau makan kapan? Mumpung masih panas, tuh."
"Sekarang aja, udah lapar banget, nonton tv malah tambah lapar." Dava melenggang ke dapur, mendahului Lalisa yang masih menatapnya terheran-heran.
Aneh, tadi pas pulang semangat banget ngajak tempur, sekarang malah kayak bete. Udah kayak remaja palang merah aja.
Di tempat lain, Audi justru sedang mondar-mandir di ruang tamu rumah lama keluarga Halim. Ia masih saja betah tinggal di Jakarta, apalagi kalau mau ketemuan sama Ibra tak perlu jauh-jauh. Meski Ibra sangat sibuk hingga mereka jarang bertemu.
Tian yang duduk di sofa lelah sendiri melihat kelakuan Audi. Sejak berita di Bogor santer tersiar, Audi tak bisa berhenti merasa cemas. Ia menggigiti kuku jari karena Ibra tak kunjung bisa dihubungi. Oke, Audi mengerti Ibra pasti sangat sibuk dan tak sempat memegang ponsel apalagi membalas pesan dan teleponnya, tapi Audi khawatir dan ingin tahu keadaan pria itu sekarang.
Alih-alih bersorak seperti yang lain, Audi justru merasa tegang melihat video amatir yang tersebar, terutama saat detik-detik truk melaju kencang ke arah para tentara, di mana dalam barisan tersebut ada Ibra.
"Mas Ibra kapan bisa dihubungi, ya, Mba?"
Beberapa waktu lalu mereka memang sempat memesan makanan tersebut, itu sebelum berita tentang kejadian di Bogor tersiar di televisi. Setelah melihat berita, mendadak rasa lapar Audi hilang begitu saja.
"Kita sendiri tahu Mas mu itu baik-baik aja, malah dia sendiri pahlawannya. Kamu harusnya bangga, bukan malah cemas begini."
"Tapi aku cemas," balas Audi.
"Terserah lah, Mba lapar pengen makan. Kamu makan juga, kalau Mas Ibra tahu kamu gak makan karena sibuk cemasin dia, pasti ujung-ujungnya kamu diomeli."
***
__ADS_1
Tepat usai magrib rombongan Presiden dan para Menteri Kabinet kembali bertolak ke Jakarta. Tak sampai satu setengah jam mereka tiba di Istana Negara Jakarta Pusat. Beberapa Menteri sudah pulang ke rumah masing-masing, sementara Presiden sendiri masih ada kunjungan tamu di Istana.
Oleh karena itu para pasukan elite paspampres masih setia berdinas, meski konteksnya tak seformal tadi pagi. Di sana mereka sudah bisa lebih santai dan luang, karena sebetulnya Presiden sendiri sudah memerintah mereka untuk istirahat dan makan malam.
Ibra melipir sesaat untuk mengecek ponselnya. Sudah ia duga banyak sekali pesan dan panggilan tak terjawab yang masuk. Salah satunya Mami Safa, Papi Edzar, Oma Halim, dan masih banyak lagi pesan yang menunggu balasan.
Tepat saat itu pesan baru muncul, dari Audi. Ibra mengulum senyum melihat pesan gadis itu yang hampir mencapai angka seratus. Apa Audi memantau ponselnya sejak tadi, hingga ia langsung mengirim chat begitu Ibra online?
Ah, percaya diri sekali, tapi hal ini membuat hati Ibra berbunga dan terasa meletup-letup.
|Mas Ibra udah pulang?|
Dengan cepat Ibra mengetik balasan. |Belum. Masih di Istana.|
|Bogor?|
|Jakarta. Baru aja sampai. Kamu lagi apa? Udah makan?|
|Udah. Aku nungguin Mas Ibra dari tadi.|
Tuh, kan. Senyum Ibra kontan melebar, namun ia buru-buru menormalkan ekspresinya karena takut ketahuan orang. Baru juga berpikir begitu, seseorang sudah menyeletuk di depannya.
"Ih, Om Ibra senyum-senyum sendiri! Uti! Bapak! Om Ibra ketawa sendiri!" seru seorang anak kecil yang tak lain cucu Pak Pres.
Rupanya ia dan keluarganya tengah berkunjung. Jadi, tamu yang dimaksud Presiden tadi adalah keluarganya sendiri?
Ibra yang ditunjuk kontan kelabakan sendiri, terlebih semua mata mulai mengarah padanya. Rekan-rekannya sesama paspampres bahkan menahan tawa dengan pandangan berseloroh.
__ADS_1
Malam itu Ibra dibuat malu dan mati kutu oleh seorang anak kecil.
Astaga, Cla, kenapa kamu harus buat Mas senyum-senyum sendiri, sih?