
"Udah makan?" Ibra bertanya dari balik layar ponsel.
Mereka tengah melalukan panggilan video. Berbanding terbalik dengan kamar hotel Audi yang sepi lantaran Tian tengah beli pembalut, sekitar Ibra justru tampak ramai dan gaduh.
Audi mengangguk lesu menjawab pertanyaan Ibra. "Udah."
Menyadari raut tak semangat Audi, kening Ibra pun berkerut. "Kenapa? Muka kamu kayaknya pucat. Kamu sakit?"
Kini Audi menjatuhkan dirinya meringkuk di sofa. "Sakit perut. Datang bulan."
"Kamu datang bulan?" Ibra terlihat khawatir. Karena bagaimana pun ia tahu kebiasaan Audi yang sering sakit jika tengah kedatangan tamu. "Udah dikompres belum?"
"Udah, tadi Mbak Tian bikin."
"Syukurlah," gumam Ibra lega. "Rebahnya jangan di sana, pindah kasur saja biar kakinya bisa dilurusin."
"Gak bisa banguuun ..."
"Paksain bentar. Ayo pindah dulu."
Audi merengut lalu beranjak perlahan meninggalkan sofa. Ia berjalan tertatih setengah membungkuk memegangi perut.
Setelah sekian usaha akhirnya Audi bisa menjatuhkan dirinya di kasur. Ia langsung meringkuk bak janin kedinginan sambil terus meringis.
"Hapenya senderin aja di bantal, Cla. Biar kamu gak capek pegangin terus."
"Ini juga lagi ..." sahut Audi parau. Rupanya ia memang tengah mengatur posisi poselnya sebelum Ibra ingatkan.
"Mas Ibra gak nugas? Kok bisa VC Audi?"
__ADS_1
"Lagi istirahat pergantian jaga, jadi Mas bisa hubungi kamu. Ini mas lagi makan sama teman-teman." Ibra sedikit memutarkan layarnya memperlihatkan suasana ramai cafe dan beberapa rekannya yang tengah mengobrol satu sama lain.
Ibra tersenyum. Teman-temannya yang melihat Audi pun ikut tersenyum dan melambaikan tangan. Mereka sangat ramah, berbanding terbalik dengan julukannya sebagai siluman hitam pengawal presiden.
Audi balas tersenyum segan. Untungnya Ibra segera mengalihkan layar saat Audi meringis. Perutnya terasa sakit lagi dan itu sangat disadari Ibra.
Pria itu menatap Audi prihatin. Dulu, Ibra lah yang selalu berada di samping Audi saat gadis itu menghadapi hari pertama haid. Mau itu di rumah atau di luar.
Tak jarang Audi mengalaminya di sekolah. Kebetulan mereka mengenyam pendidikan di satu yayasan yang sama. Hal itu memudahkan Ibra setiap kali Audi sakit dan membutuhkan dirinya.
Ibra bahkan pernah membolos demi menemani Audi yang kewalahan dengan sakit datang bulannya.
"Sakit banget, ya? Tidurin coba. Biasanya kalo udah tidur suka ilang sakitnya, kan?"
"Mas kan tahu aku susah tidur kalau lagi begini."
Ibra menggaruk alis. "Ya terus gimana? Mas gak bisa pijitin kamu. Manager kamu mana, sih? Beli pembalut lama banget." Lama-lama ia pun ikut menggerutu.
Audi yang kesakitan tapi wajah Ibra yang terlihat parah. Pria itu nampak pias tak berhenti mengerutkan kening. Ia bahkan ikut meringis karena refleks.
"Aduuh ... bisa minum obat tidur aja gak, sih?" keluh Audi tak tahan.
"Jangan, efeknya gak baik."
"Ya abisnya sakit, Maaass ..."
"Obat paling manjur cuma tidur. Makanya cepat merem. Kalo gak bisa, paksain."
"Mas gampang banget ngomong gitu, gak tahu gimana menderitanya," sungut Audi kesal.
__ADS_1
Lagi-lagi Ibra hanya bisa menggaruk kepala. Ia jadi tak selera makan. Sudah gitu teman-temannya sejak tadi cekikikan menertawakannya. Bikin kesal saja.
Untung Ibra pakai headset. Malu juga jika percakapan mereka didengar.
Tepat saat itu pintu kamar hotel Audi terbuka. Terdengar suara Tian yang bicara sambil mendekati gadis itu di ranjang. "Ini Mbak beli pembalutnya yang 35 cm. Mau pake sekarang?"
Tadi Audi pakai pembalut dari hotel karena darurat, tapi ukurannya tak sesuai seperti yang biasa ia pakai.
"Nanti aja, Mba. Aku gak bisa bangun ..." Audi menyahut parau.
Ia menatap Ibra sejenak, memberi isyarat untuk memutus hubungan. Ibra pun menghela nafas dan mengucap salam sebelum mematikan sambungan.
"Ya sudah, kamu cepat tidur, ya? Assalamualaikum."
Audi membalas salam tanpa suara. Sepertinya dia takut ketahuan tengah video call dengan Ibra. Meski sedikit heran kenapa gadis itu tampak merahasiakan hubungan mereka, tapi Ibra oke-oke saja selama itu membuat Audi nyaman.
Lagi pula ... Audi belum menjawab pertanyaannya. Hubungan mereka masih gantung tanpa kepastian. Hal yang sejak dulu Ibra takutkan adalah kesiapan Audi. Audi terbiasa dimanja dan hidup mewah. Ibra takut tak bisa sepenuhnya memenuhi keinginan gadis itu.
"Calon, ya?"
Ibra menoleh pada rekannya yang baru saja bertanya. Ia tersenyum kecil. "Insya Allah, do'akan saja."
Teman Ibra menepuk bahunya. "Pasti, dong. Kapan pengajuan?"
Untuk pertanyaan itu Ibra hanya bisa mengendik tak tahu.
"Semoga lancar. Hebat kamu, belum lama cerai udah dapat lagi."
Ibra tersenyum kecut. Ia paling tidak nyaman kalau orang-orang mengingatkannya pada perceraian.
__ADS_1
Baginya itu masa lalu. Sekarang Ibra ingin fokus meneruskan niatnya yang sempat tertunda pada Audi.
Semoga Tuhan menghendaki mereka berdua.