Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 19


__ADS_3

Lagi-lagi pesan Ibra ia abaikan. Audi hanya membaca tanpa sekalipun berniat membalas gurauan pria itu.


Benar, menurutnya Ibra tengah melucu. Pria itu terang-terangan berusaha merebut perhatian Audi dengan segala cara. Sayangnya Audi sudah malas dan berharap Ibra menyerah saja.


Audi merasa Ibra seperti halnya pria tak tahu diri yang tak berkaca pada kesalahan. Mereka sama-sama tahu kerenggangan yang menyita, tapi Ibra seolah buta dan bersikap layaknya tak terjadi apa-apa.


Apa yang sebenarnya Ibra inginkan? Hubungan mereka yang kembali dekat layaknya adik dan kakak? Hubungan yang senantiasa membuat Audi kerap merasa perih sendiri lantaran terlalu tinggi menaruh harapan.


Mungkin Ibra senang dengan kedekatan mereka yang seperti itu. Tapi Audi, tanpa lelaki itu sadari ia sering kali menguatkan hati. Mati-matian menjaga raut wajah setiap kali Ibra mulai menunjukkan ketertarikan pada wanita lain, setiap kali Ibra bercerita mengenai gadis yang disukainya, Audi seolah dituntut untuk mari rasa.


Ia dituntut diam demi kerekatan dua keluarga. Ia tak berani melangkah melewati batas dan harus puas saat menyadari kedewasaan semakin merenggut kebersamaan mereka.


Audi sadar betul hal seperti ini pasti terjadi. Ia dan Ibra tak akan terus bersama. Mereka sama-sama memiliki jalan hidup yang berbeda.


Namun tetap saja, terkadang kenyataan itu membuat hati Audi luar biasa perih. Mengingat dirinya dan Ibra suatu saat takkan lagi berdampingan. Ibra dengan keluarganya, begitu pula sebaliknya.


Lalu sekarang apa?


Fakta tentang lelaki itu yang sudah bercerai sangat mengejutkan, namun sikapnya yang seolah tanpa dosa mendekati Audi membuat Audi seakan dipermainkan.


Apa Ibra pikir ia masih bisa memperlakukan Audi seperti adik kesayangan setelah semua yang terjadi? Apa kabar lelaki itu yang mengabaikannya selama 3 tahun? Sangat lucu jika tiba-tiba Ibra gencar mencari perhatian seperti sekarang.

__ADS_1


"Di, turun yuk. Cari makan." Mbak Tian muncul dari kamar mandi dengan membawa ponselnya.


Audi yang sejak tadi malas-malasan di atas sofa sambil menonton TV pun menyahut enggan. "Gak bisa pesan aja gitu?"


Tian berdecak. "Yee ... si Neng. Dari tadi ngedekem mulu di kamar. Gak bosen apa? Mbak bahkan udah bolak-balik naik turun, dan kamu masih selonjoran di sana. Ck, ck ... hebat."


"Malas ..." lenguh Audi. Ia lalu merebahkan tubuhnya di sofa dan memejamkan mata.


Tian berdecak mendekatinya, menarik lengan Audi agar gadis itu segera bangun. "Gak boleh dibiasain lewat makan! Ayo bangun! Besok kamu pemotretan, meski sebentar kamu harus tetap fit, salah satunya makan tepat waktu!"


Dengan wajah cemberut Audi bangkit mengikuti tarikan Mbak Tian. Ia mengambil ponsel sebelum mengekori wanita itu keluar kamar.


Sementara di lain tempat, Ibra dan beberapa rekannya ditugaskan mengawal presiden ke sebuah hotel bersama keluarganya. Mereka hendak menghadiri acara nikahan salah satu kerabat di sebuah hotel mewah Jakarta Pusat.


Mengikuti situasi, malam ini Ibra dan rekan paspampres lain mengenakan batik untuk bertugas. Mengingat pakaian mereka memang bebas dan fleksibel karena tinggal mengikuti objek. Ini yang Ibra suka, mereka tak dituntut untuk selalu berpakaian formal.


Semua tergantung pemimpin negara. Setiap pimpinan memiliki peraturan yang berbeda-beda. Tapi untuk era ini Ibra akui semua paspampres terasa lebih kasual dan merakyat.


Mereka tak lagi mengintimidasi, momok menakutkan yang selama ini melekat dalam kesan utama siluman hitam kini mulai pudar dengan sendirinya.


Meski begitu mereka tetap tak lepas dari senjata untuk berjaga-jaga.

__ADS_1


"Sedia monitor, eagle one."


Ibra menyentuh telinganya ketika mendengar suara dari salah satu rekan sniper. "Eagle one is here."


Ia dan rombongan presiden tengah berjalan memasuki lobi hotel. Sementara tim sniper sudah stanby di salah satu atap gedung.


"Tes posisi, semua aman?"


"Siap, semua aman."


Ibra melihat sebagian pasukan elite lain yang sudah mengamankan situasi lobi. Mereka menyisir jalan untuk presiden serta keluarga dan mengarahkan menuju lift khusus yang sebelumnya sudah disiapkan pihak pengelola hotel.


Saat itulah, tepat sebelum Ibra ikut masuk bersama presiden ia melihat Audi yang juga keluar dari salah satu lift di sana.


Sejenak tubuh Ibra serasa terhenyak ketika mata mereka bertemu. Audi juga terpaku menatapnya. Berbeda dengan keinginannya yang ingin langsung menghampiri gadis itu, Ibra dan segala tuntutan pekerjaannya harus puas hanya dengan melihat sang pujaan dari jauh.


Ibra terus memaku tatapannya seiring pintu lift menutup dan menelan keberadaan Audi yang sempat membuat fokusnya terbagi. Ia membuang nafas samar, mengedarkan pandangan pada seisi lift yang mulai ramai oleh obrolan keluarga presiden, termasuk celotehan lucu para cucunya yang sesaat membuat Ibra mampu mengenyahkan Audi dari pikiran.


Muatan lift yang terbatas membuat hanya Ibra dan satu rekannya yang bisa mengikuti presiden hingga ke lantai yang dituju, yang lainnya menggunakan lift berbeda. Begitu pula sejumlah paspampres lain ditugaskan berjaga di lobi.


Mengingat itu, mendadak Ibra ingin bertukar tempat dengan teman-temannya. Dengan begitu mungkin Ibra bisa lebih leluasa melihat Audi yang ternyata menginap di hotel ini.

__ADS_1


Ya Tuhan, baru kali ini Ibra merasa tak sabaran dalam bekerja.


__ADS_2