
"Eeehh ... Bu Sofia, mau ambil baju, ya?"
Bude Gita, begitu orang sini memanggilnya. Beliau adalah penjahit yang cukup profesional menurut Oma. Oma sering berlangganan padanya setiap kali ada acara atau sayang melihat kain tak terpakai.
Bude Gita asli orang Laweyan, Surakarta, tapi sudah lama menetap di Bandung lantaran ikut suaminya yang seorang Pegawai Negeri Sipil.
"Iya, Nyi." Oma Halim menyahut ramah.
Ibra mengangguk, seraya tersenyum sopan menyalami wanita baya itu, hal yang membuat Bude Gita menatapnya penasaran.
"Ini siapa, Bu? Ganteng tenan ..." Bude Gita menerima uluran tangan Ibra seraya memuji. Lama tinggal di Bandung tak lantas membuat logat Jawa nya hilang sempurna.
Oma Halim seketika tersenyum, senyum seorang nenek yang bersiap memperkenalkan dan memamerkan sang cucu yang potensial. "Ini, lho, salah satu cucu yang pernah saya ceritakan. Namanya Ibrahim, dia anggota Paspampres, hehe."
"Owalah ... ini to yang namanya Ibrahim? Pantas Bu Sofia sering memuji-mujinya, lha, anaknya beneran ganteng begini, ck ck ck."
"Ini ... anak dari ... Dava? Eh, atau adiknya?" lanjut Bude Gita bertanya.
"Ini anaknya Safa sama suaminya Edzar." Oma Halim menjelaskan.
"Ooh ... menantu Ibu yang jaksa itu, ya?" Bude Gita mengangguk paham, begitu pula Oma Halim yang hanya tersenyum bersahaja.
"Anak sama papanya jadi abdi negara semua, ya? Hebat banget. Salut sama keluarga Bu Sofia. Pengusaha ada, jaksa ada, tentara ada, dokter juga ada. Makin lengkap kalo nanti ada penerus lainnya yang jadi pilot mungkin? Hahaha ... seru itu, kalau lagi kumpul pembicaraan bisa beragam."
Oma Halim turut terkekeh. Meski semua yang disebutkan Bude Gita terdengar sangat wah di telinga, ia tak serta merta merasa tinggi hati. Baginya semua pencapaian anak serta cucu adalah berkah yang harus disyukuri.
"Ya sudah, Bu, ayo lihat bajunya. Dicoba dulu, siapa tahu ada yang belum pas." Bude Gita beralih mengajak Oma Halim menuju suatu ruangan yang di dalamnya terdapat banyak sekali pakaian yang baru selesai dijahit.
Sebuah setelan batik tenun dengan warna dan desain simple namun elegan terpampang membuat mata Oma Halim berbinar. Ibra cukup mengakui perkataan sang oma sebelumnya adalah benar, Bude Gita sepertinya penjahit yang sangat bisa diandalkan.
"Gimana, Bu Sofia, suka?" tanya Bude Gita, tersenyum penuh harap.
Oma Halim mengangguk. "Ini bagus banget. Saya suka. Jahitan kamu memang tak pernah mengecewakan."
"Syukur alhamdulilah ... senang dengarnya. Kalau gitu Bu Sofia mau coba langsung di sini? Biar nanti kalau ada yang terasa kurang bisa tak perbaiki sama saya. Saya lihat kayaknya Bu Sofia bobotnya nambah, ya?" tutur Bude Gita mengamati.
"Masa, sih?" Oma Halim menoleh pada Ibra. "Emang Oma gendutan, ya?"
Ibra mengerjap. Ia menatap sang oma dari atas ke bawah dan menyadari bahwa tubuh wanita itu memang tak sekurus yang terakhir Ibra lihat. "Kayaknya, sih, iya, Oma. Bagus berarti."
"Bagus apanya kalau Oma gendut?" Oma Halim memberengut.
__ADS_1
"Sejak kapan Oma gendut? Oma itu kurus, Ibra belum pernah lihat Oma gendut, sekarang pun enggak gendut, jatuhnya malah bagus kalau Oma nambah berat badan, jadi lebih ideal."
"Nah!" Bude Gita setuju dengan Ibra. Ia berpikir anak itu pintar mengurai suasana. Terlihat sekali suasana hati Oma Halim tadi sempat akan memburuk.
"Gitu, ya?"
"Iya. Oma coba aja dulu bajunya. Persis kata Bude tadi, kalau kekecilan bisa langsung dibenerin."
"Oohh ... ya udah, deh."
Ibra tersenyum, ia melihat kepergian sang oma yang kini memasuki ruang ganti. Bude Gita mengangguk sekilas pada Ibra sebelum kemudian mengikuti Oma Halim guna membantunya berpakaian.
Selama keduanya pergi, Ibra berkeliling melihat-lihat. Banyak sekali kain-kain khas yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara. Tak lama Oma keluar bersama Bude Gita, wanita itu telah berganti memakai setelan tenun hasil karya penjahit profesional tersebut.
"Naah ... Mas Ibra, gimana? Omanya cantik, kan?" Bude Gita dengan semangat meminta pendapat Ibra.
Ibra mengangguk disertai senyum. "Cantik, Oma. Bajunya pas."
Oma Halim tampak senang, begitu pula Bude Gita yang jelas adalah pembuatnya.
"Tapi kayaknya di pinggang agak sesak," tutur Oma Halim, mengutarakan keluhan.
"Iya. Ini kayak lebih ngepas dari biasanya."
"Tuh, kan, apa saya bilang. Bobot Bu Sofi itu nambah. Ya sudah kita buka dulu bajunya, ya, Bu, biar tak perbaiki dulu. Gak akan lama, kok, ini bisa ditunggu."
Oma Halim tampak ragu. "Tapi habis ini saya ada acara lain, kayaknya bakal lama, Bu."
"Oma ada acara apa?" Ibra tampak penasaran. Begitu pula Bude Gita.
"Itu, lho, deres Al-Qur'an di pesantren Kyai Munir. Kan mulainya tanggal satu Ramadhan."
"Owalah ... Saya baru ingat, Bu Sofi," ringis Bude Gita. "Tapi kayaknya saya gak bisa ikut hari ini, mungkin hari-hari lain. Hehe."
"Iya, gak papa. Terus itu baju saya gimana? Kalau harus nunggu, saya enggak bisa."
Bude Gita hendak berkata bahwa bajunya bisa diambil kapan saja, akan tetapi tiba-tiba Ibra menyanggah. "Biar Ibra saja yang nunggu bajunya, Oma. Oma pergi sama siapa ke sana? Dianter, kan?"
Pasalnya kalau Oma Halim pergi sendiri, hati Ibra tak tenang.
"Oma dianter Audi, sekalian bawa dia pengajian, hehehe."
__ADS_1
Ibra mengerjap. "Audi, Oma? Audi ... mau ngaji bareng Oma? Emang dia mau?"
"Ya Oma paksa lah, daripada dia nengokin kebun strawberry terus, entar lama kelamaan puasa dia batal," rengut Oma Halim.
Ibra terkekeh lucu. Ia menggeleng geli karena rupanya bukan hanya sekali dua kali Audi mengamati kebun Oma. Ibra berasa menemukan anak kecil yang hendak diam-diam mencuri. Audi ... Audi, ada-ada saja gadis itu.
Bude Gita yang sedari tadi memperhtikan pun ikut menimbrung. "Audi itu cucu perempuan Bu Sofi?"
Oma Halim menyahut. "Iya, dia anak uwaknya Ibra."
Bude Gita mengangguk-angguk. "Oohh, saya beberapa kali lihat cucu-cucu Oma tapi belum pernah ketemu langsung. Tapi saya ada ngikutin instagram Audi Halim itu, deh. Selebgram, kan, dia?"
"Iya, Bude, youtuber sama model juga." Ibra menyahut.
"Model? Waahh ... saya jadi kepikiran mau endorse dia. Kira-kira Audi nya mau gak, ya?"
Ibra tersenyum. "Kalau Audi pasti mau-mau saja. Dia jarang menolak klien kalau sekiranya gak merugikan. Apalagi Bude ini tetangga Oma, temannya Oma, sudah pasti Audi mau."
"Oh gitu? Ya udah nanti tak bilangin Audi bisa tidak? Atau saya DM dia langsung, ya?"
"Bisa Bude. Nanti saya bilang dia langsung juga bisa," tutur Ibra.
"Makasih, ya?"
"Sama-sama," balas Ibra sopan. "Oma mau berangkat sekarang?" Ia beralih menatap sang oma.
"Sekarang. Kamu yakin mau nunggu di sini. Pulang aja gak papa, nanti biar Bude yang anterin bajunya ke rumah," usul Oma Halim.
"Gak papa, Oma. Ibra sekalian mau sharing sesuatu sama Bude."
Oma Halim mengernyit, pun begitu dengan Bude Gita.
"Sharing apa?"
"Sharing soal apa, Mas Ibra?"
Yang ditanya malah mengulum senyum enggan memberitahu. Ia malah meringis menggaruk pipinya gugup. "Ada, deh, Oma. Ya udah, Oma kalau mau pergi, pergi saja. Audi pasti nungguin."
Mendengar itu Oma Halim sedikit mendelik. Ibra seolah mengusirnya agar cepat pergi. Sebenarnya anak itu mau apa, sih? Mau bikin seragam baru?
"Kamu mencurigakan, deh. Benar - benar membuat Oma penasaran."
__ADS_1