Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 17


__ADS_3

Tian melirik Audi yang sedari tadi terdiam dengan wajah menekuk. Ia melirik barang titipan di kursi belakang, sesuatu yang Tian yakin menjadi sumber kekisruhan raut Audi.


"Mas Ibra itu ... sepupu kamu yang jadi TNI?" Tian pernah mendengar nama Ibra, namun agak lupa.


"Hm, dia udah naik jadi paspampres," sahut Audi malas.


"Wah, hebat," ucap Tian menggeleng. "Keluarga kamu orang hebat semua. Mbak benar-benar kagum. Rasanya masih mimpi Mbak bisa kenal kamu."


"Apa sih? Biasa aja. Aku juga manusia," rengut Audi. Ia selalu tak suka jika Mbak Tian sudah menyanjung-nyanjung kasta.


Mereka dalam perjalanan melintasi jalan tol. Audi yang kepanasan lantas menutup gorden kecil di sampingnya. "Padahal aku lagi males banget bepergian. Cuacanya panas gini," dengus Audi.


Jangankan Jakarta, Bandung saja kini cuacanya tak kalah panas. Mungkin karena sudah terlalu banyak gedung dan bangunan. Tapi syukurnya komplek tempat tinggal Audi masih asri dan sejuk.


Di dalam mobil memang dingin karena AC, tapi nanti saat keluar jangan harap. Audi harus siap sunscreen banyak-banyak. Ia harus rutin oles setiap 2 jam sekali.


Tian yang mendapati itu hanya meringis merasa bersalah. Padahal semalam mereka kurang tidur lantaran kerja sampai malam.


Menyebalkannya lagi konten yang kemarin dibuat seharusnya masih dua minggu lagi. Hal yang membuat para anggotanya merajuk lantaran ia yang salah melihat jadwal.


"Hehe, sorry." Sekali lagi Tian meminta maaf.


Audi menghela nafas. Ia bukannya marah. Entahlah, Audi kesal karena harus ke kota yang ada Ibra. Kenapa harus Jakarta? Tidak bisakah perusahaan kosmetik itu pindah kantor saja? Surabaya misalnya.


Sebentar, tiba-tiba Audi ingat sesuatu. Cepat-cepat ia mengobrak-abrik tasnya hingga memancing pandangan heran dari Tian.


"Nyari apa?"


"Hape." Audi mengotak-atik ponselnya serius.


Kalau bukan sedang menyetir, Tian pasti sudah menjulurkan badannya kepo. Tiba-tiba saja gadis itu bertanya. "Mbak, Pak Presiden udah balik dari Surabaya belum, sih?"


Audi menggeser-geser layar ponselnya yang ternyata menampilkan halaman google.

__ADS_1


Tian semakin mengernyit dalam. "Ya mana Mbak tahu. Emang Mbak asistennya? Kenapa gak tanya sepupumu aja? Siapa tadi? Mas Ibra? Dia tigas ngawal presiden, kan?"


Audi memutar mata. Justru ia bertanya hal demikian karena tak ingin bersinggungan dengan Ibra. Terakhir kali lelaki itu bilang sedang bertugas di Surabaya. Makanya Audi cari-cari berita terbaru tentang presiden.


Sayangnya tak ada artikel yang menjelaskan secara detail tentang kunjungan presiden tersebut. Lebih tepatnya tak ada yang memuat kapan waktu kepulangan bapak nomor satu itu ke ibu kota.


"Emang kenapa, sih? Kok kamu tiba-tiba tanya presiden?"


"Enggak. Tanya aja. Siapa tahu kita ketemu si bapak tanpa disengaja," cetusnya asal.


Pupus sudah ketenangan Audi yang sempat singgah beberapa saat lalu. Semoga saja Ibra belum balik dari Surabaya, atau semoga saja Pak Presiden saat ini tengah di luar kota. Masalahnya Audi juga hendak ke Jakarta Pusat, tempat di mana presiden dan jajarannya bekerja.


Mereka sampai di Jakarta tepat saat jam makan siang. Memang agak telat dari perjanjian awal yang tertulis yaitu jam sepuluh. Namun syukurnya pihak perusahaan bisa mengerti dan memaklumi.


"Terima kasih, Mbak Audi. Semoga ke depannya kita bisa bekerjasama dengan baik."


Audi tersenyum menerima jabatan tangan tersebut. "Sama-sama."


Mereka baru saja usai menandatangani kontrak. Mulai saat ini Audi resmi jadi brand ambassador produk kosmetik milik artis yang kata Mbak Tian sayang untuk dilewatkan.


Audi dan Tian dijamu makan siang oleh pihak founder. Kebetulan Audi memang cukup mengenal baik artis pemilik brand tersebut. Bisa dibilang circle Audi dengan kalangan selebriti cukup luas. Hal yang memudahkan Audi juga lantaran rezeki yang bisa datang dari mana saja.


Selanjutnya Mbak Tian membawa Audi ke hotel yang sudah dipesan. Mengingat Audi tak ingin tidur sendiri, Tian pun memutuskan memesan satu kamar saja untuk mereka berdua.


"Haaahh ... capeknya ..." Audi melempar dirinya ke atas kasur sembari terpejam merentangkan tangan.


Tian sendiri sibuk membawa koper mereka ke dalam kamar. Ia menggeleng melihat Audi yang langsung tepar di atas ranjang. Apa kabar dirinya yang menyetir dari Bandung hingga Jakarta, berputar-putar sampai akhirnya mereka tiba di hotel ini.


"Mbak, pemotretannya mulai besok, ya?"


Tian meletakkan koper dan barang-barang mereka di sudut dekat sofa, dibantu room servis yang turut membantu membawakan. Pegawai hotel itu kemudian berpamitan pergi meninggalkan kamar.


"Heem," sahut Tian yang kini mendudukkan diri di sofa, melepas alas kaki dan melepas hijab. "Duh, gerah amat astaga. Mana belum sholat."

__ADS_1


Audi menoleh jam lalu menyeletuk. "Udah setengah 3, Mbak."


"Masih keburu, lah." Buru-buru Tian memasuki kamar mandi dan keluar dengan cepat sehabis wudhu. Wanita itu kini menjalankan sholatnya dengan khusu di bawah tatapan Audi yang tercenung.


Audi menggigit bibir. Melihat betapa taatnya Mbak Tian, yang tak pernah meninggalkan sholat meski terlambat sekalipun, Audi jadi berkaca pada dirinya yang kerap meninggalkan kewajiban seolah tanpa beban, seperti sekarang misalnya.


Audi kembali melirik jam. Ia bangkit secepat kilat dari kasur dan berlari ke kamar mandi.


Tian yang kebetulan baru selesai salam kontan mengernyit melihat tingkah anak itu. Tak lama kemudian Audi keluar dengan wajah basah dan berdiri di depan Tian.


"Ada apa?"


"Pinjam mukena," cetus Audi semata-mata.


Tian berkedip sebentar sambil memberikan mukenanya pada Audi. Gadis itu meraup dan langsung memakainya dengan cepat. Audi sholat di tempat Tian sebelumnya melakukan ibadah.


"Assalamualaikum warahmatullah ..." Audi menoleh ke kanan. "Assalamualaikum warahmatullah ..." Kemudian ke kiri.


Ia lalu mengusap wajahnya yang masih setengah basah dan menoleh pada Tian yang sedari tadi duduk di pinggir ranjang memperhatikan Audi.


Audi melempar cengiran karena Tian memasang wajah datar. "Hehe, pinjam lah Mbak ..."


Ia mengira managernya itu kesal lataran ia memakai barangnya. Namun tiba-tiba saja Tian menyeletuk. "Kamu sholat?"


Audi berkedip. "Hm? Iya. Hehe, mumpung lagi pengen," ucapnya melipat kain putih tersebut.


"Tapi kayaknya gak sah," ujar Tian menghentikan gerakan Audi.


Gadis itu mendongak menatapnya. "Apa?"


"Kamu wudhu make up aja gak dibilas. Terus itu kutek apa kabar?"


Seakan suara jam berdenting nyaring, Audi lagi-lagi mengerjap sebelum menunduk meneliti apa yang barusan Tian bilang. Kutek biru muda masih setia menempeli kukunya, Audi juga menyentuh wajahnya yang masih terbalut make up. Ia lupa riasan tersebut waterproof. Astaga, jadi benaran tidak sah?

__ADS_1


Mengetahui hal itu Audi hanya bisa tertawa garing menggaruk rambutnya. "Terus, sholatku gak jadi dong, Mbak?"


Sia-sia sudah barusan ia mengejar waktu, apalagi sekarang kumandang adzan kembali terdengar, menandakan waktu dzuhur sudah berganti ashar. Astaga, semoga malaikat mencatat sedikit saja ketulusannya dalam beribadah.


__ADS_2