Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 158


__ADS_3

"Enak?" Ibra memperhatikan Audi yang begitu lahap memakan asinan kedondong.


Maunya pakai boncabe supaya pedas, tapi Ibra berpikir lagi bahwa Audi masih menyusui Farzan. Kasihan putranya kalau Audi nekat makan pedas. Ibra ingat petuah - petuah orang tua yang melarang Audi menyantap beberapa jenis makanan selama dalam masa memberi ASI, karena itu akan berdampak pada sang anak yang menyusu.


Audi mengangguk. "Enak, walaupun gak pedes," rengutnya di akhir.


Ibra menatap sang istri iba. Audi baru bisa menyantap kedondong tersebut setelah malam agak larut, karena Farzan mendadak rewel dan susah tidur. Ibra sudah bergantian menimang Farzan bersama Audi, tapi anak itu tetap rewel tanpa tahu penyebabnya apa.


Baru setelah jam sembilan lebih, Farzan mau terlelap usai disusui. Namun yang membuat Ibra kasihan tentu saja Audi. Sang istri terlihat sangat lelah, wajahnya pun sudah merengut sana sini tak bisa ditanya.


Ibra tahu Audi capek. Semua orang pasti capek mengurus anak, apalagi kalau sang anak sedang dalam masa aktif seperti Farzan. Ibra kembali terpikir untuk menggunakan jasa suster untuk membantu Audi mendampingi Farzan dalam masa tumbuh kembangnya.


Ibra berdehem kecil, menyampirkan beberapa helai rambut Audi yang keluar dari ikatan. Sang istri masih lahap menyantap kedondong saat Ibra mulai bicara. "Cla?"


"Hmm." Audi hanya bergumam. Ibra lihat jari jemari Audi sedikit tremor saat mengambil potongan kedondong. Itu tandanya Audi sedang dalam keadaan sangat capek.


"Mas punya rekomendasi jasa rawat anak dari teman," ucap Ibra memulai pembicaraan, dengan nada hati - hati.


Audi berhenti bersantap dan menoleh pada Ibra. Ibra begitu waswas melihat tatapan Audi saat ini.


"Mas mau serahin anak kita ke suster, gitu? Terus gunanya aku di rumah itu apa?"


Ibra tergagap. "B-bukan gitu, Cla. Maksud Mas biar kamu gak terlalu capek aja. Apalagi sekarang kamu kan lagi hamil, tentu energi kamu lebih terkuras dari biasanya."


"Gak mau. Farzan tetap aku yang rawat sepenuhnya," kekeh Audi.


"Ya kamu emang rawat dia sepenuhnya, Sayang, tapi dengan sedikit bantuan orang, biar kamu juga bisa punya waktu untuk diri kamu sendiri."


Nafsu makan Audi seketika hilang. Ia menatap lurus meja bar di hadapannya. Potongan kedondong segar yang tadi begitu menggugah kini tampak tak lezat lagi di matanya.

__ADS_1


"Apa Mas Ibra gak lihat berita - berita di luar sana? Banyak sekali kasus penganiayaan anak yang dilakukan oleh baby sitter pada anak klien mereka. Bukan itu aja, yang berujung selingkuh sama suami bosnya juga banyak," tutur Audi sengit, sambil menoleh dengan mata memicing pada Ibra.


Ibra terperangah, ia sedikit tak menyangka bahwa Audi memiliki pemikiran seperti itu. Jadi ini alasan Audi selalu menolak banyak pekerja yang datang ke rumah mereka, terutama perempuan? Secara tidak langsung Audi tengah bersikap posesif terhadap Ibra, nalurinya sebagai seorang wanita yang mudah cemburu tanpa sadar membawanya berpikir demikian.


"Kamu gak percaya sama Mas, Cla?"


"Bukan gak percaya, cuman bersikap jaga - jaga tidak ada salahnya, kan?"


Ibra mengangguk paham. "Iya, Sayang. Tidak ada yang salah dari cara berpikir kamu. Tapi seharusnya kamu tidak langsung menyimpulkan ke sana, harusnya kamu lihat dulu calon pekerjanya bagaimana. Mas juga pasti gak akan semena - mena memilih orang. Mas tentu seleksi mereka dulu dalam berbagai hal. Lagipula ... calon suster yang Mas maksud itu tidak seperti yang ada dalam pikiran kamu. Mereka sudah cukup berumur, bukan gadis kinyis - kinyis yang mencoba mengadu nasib ke kota besar. Mereka para ibu yang terpelajar dan terlatih. Pelatihannya juga tidak main - main. Mereka menguasai ilmu parenting, Sayang."


"Mau, ya?" lanjut Ibra membujuk.


Audi diam. Ia kembali menyantap kedondong guna mengalihkan semua perhatiannya dari Ibra. Ia masih belum siap seandainya Farzan diasuh oleh orang lain. Audi ingin anak itu sepenuhnya mengenal Audi sebagai ibu, tanpa harus membagi kasih sayang pada siapa pun.


"Sayang?" panggil Ibra lembut, seraya meraih punggung tangan Audi untuk ia elus sepelan mungkin. "Kita bukan mau mencari ibu, tapi pengasuh. Mereka gak sepenuhnya mengasuh Farzan full time, kok. Mereka hanya membantu kamu dalam urusan menjaga dan merawat, bukan berarti kamu boleh lepas tangan begitu aja terhadap anak kita. Kamu yang memiliki kendali sepenuhnya pada anak kita, kamu berhak memberi peraturan apa pun pada mereka. Ini semua demi kenyamanan kita bersama. Kamu nyaman karena gak terlalu lelah, dan Mas pun nyaman karena bisa sedikit mengurangi kekhawatiran."


"Beda, Sayang. Bibik kan punya tugasnya masing - masing, mereka seharian bersih - bersih rumah, ngurus dapur segala macam, tentu fokusnya udah beda lagi. Mereka gak sepenuhnya ada ketika kamu butuh selingan menjaga Farzan. Benar, kan?"


Benar, batin Audi. Ia juga sebenarnya lelah akhir - akhir ini, mungkin karena efek kehamilan hingga membuat Audi lebih mudah capek dari biasanya.


Audi kembali mengunyah potongan kedondong dengan raut berpikir. Ibra menatap wanita itu sabar sambil terus mengelus punggung tangannya. "Mas cuman khawatir karena kamu lagi hamil, Cla. Sebelumnya pun kamu udah sering drop karena kecapean. Ini masih anak pertama, lho, bagaimana nanti kalau adiknya Farzan lahir?"


"Maka dari itu, lebih baik kita membayar seseorang untuk turut membantu. Kamu juga gak mau Mama dan Mami seharian ngasuh Farzan, karena takut merepotkan, bukan? Mereka sudah berumur, tentu tidak sepantasnya kita manfaatkan mereka dengan dalih mengasuh cucu."


Audi menunduk menatap kilau marmer yang melapisi meja bar, juga tangan mereka yang bertaut di sana. Ia lalu menoleh pada Ibra yang memandangnya teduh sekaligus membujuk, dalam sorotnya terselip kekhawatiran yang membuat Audi mau tak mau ikut luluh.


"Tapi Mas Ibra janji, susternya bukan gadis muda?"


Mendengar nada cemburu Audi, Ibra kembali terkekeh. "Kamu lucu kalau lagi cemburu gini, ya? Gemas, Mas suka banget, karena itu artinya kamu juga mencintai Mas sebesar Mas mencintai kamu."

__ADS_1


Audi merengut ketika Ibra mencubit pucuk hidungnya. Lelaki itu mengecupnya sekilas sebelum turun melabuhkan kecupannya di bibir ranum Audi.


"Sudah Mas bilang, susternya udah tua, hampir seumuran Mami Safa, cuman beda setahun di bawahnya."


"Mami Safa meski udah berumur tetap cantik dan segar, Mas."


"Ya Mami kan emang termasuk wanita langka, Sayang. Dia kelihatan awet muda karena wajahnya imut baby face."


"Kamu masih ragu? Ini, Mas tunjukkin foto-fotonya, nanti kamu juga baca CV mereka, Mas serahin semua sama kamu, biar kamu yang pilih langsung calon susternya."


Audi melihat satu persatu foto calon pegawai di ponsel Ibra. Semuanya memang sudah ibu - ibu dan terlihat berumur. Tidak ada satu pun yang memiliki ciri - ciri kecantikan seperti Mami Safa. Mereka lebih seperti para guru di sekolahan.


"Gimana? Kamu setuju?" tanya Ibra sekali lagi.


Audi menyerahkan lagi ponsel tersebut pada Ibra. Ia memakan kembali kedondong yang masih tersisa beberapa potong dengan malas. "Ya udah, tapi kalau nanti ke depannya terjadi apa - apa, Mas Ibra harus tanggung jawab, mungkin juga aku bakalan gugat cerai Mas seandainya kemungkinan - kemungkinan buruk itu terjadi pada keluarga kita," tegas Audi mengancam.


Ibra cukup tertegun dengan ucapan Audi yang tak main - main. Namun ia tetap berusaha husnudzon dan berpegang pada keputusan awal demi kebaikan Audi, demi supaya sang istri tak terlalu kelelahan dalam menjalani harinya sebagai ibu rumah tangga.


"Iya, Cla. Mas janji semua akan baik - baik saja. Kamu dan Farzan, begitu pula Mas. Tolong tenang, ya, Sayang?" Ibra mengusap rambut Audi penuh perasaan.


Betapa ia mencintai wanita di sampingnya ini, sampai ia merasa tidak tega melihat Audi yang berperan penuh sebagai ibu rumah tangga, yang mengurus anak seorang diri, belum lagi harus melayani suami. Lalu kini ditambah calon anak kedua mereka yang masih dalam kandungan.


Tak pelak hal tersebut menjadi salah satu alasan Ibra mengapa ia bersikeras ingin mempekerjakan suster. Sebelum dinyatakan hamil, Ibra sudah sering memergoki Audi terkulai lemas dengan raut stress. Ia tidak mau kondisi tersebut berlanjut hingga memicu hal - hal negatif yang tak diinginkan.


Tak sedikit kasus seorang ibu yang memilih mengakhiri hidup lantaran stress dan lelah. Bukan hanya karena masalah anak, melainkan banyak hal yang menjadi pemicu, di antaranya permasalahan dalam rumah tangga.


Nyatanya menikah tak sesederhana yang terlihat di luar. Mau itu orang dengan ekonomi cukup atau kekurangan, semua memiliki porsi masalahnya masing-masing.


Intinya, fisik Audi lemah, ia tak begitu kuat mengurus semuanya seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2