
"Kalau untuk dipakai di hari biasa kayaknya ini bagus, Tante. Lebih sederhana, berliannya kecil-kecil dan gak mencolok, tapi tetap elegan. Kalau untuk yang lebih formal mungkin yang ini bisa jadi pilihan," tutur Audi menunjuk satu persatu gambar pada brosur.
Kini dirinya tengah duduk di sofa ruang tengah bersama Tante Safa. Sementara sang mama entah ke mana setelah mendapat telepon dari papanya.
Tante Safa mengangguk-angguk menerima saran Audi. "Ohh, gitu, ya? Selera kamu bagus juga. Tante suka. Kalau misal untuk cincin, bagusan yang besar apa biasa aja?"
Audi berpikir sejenak. "Tergantung, sih, Tante pakainya buat apa. Kalau untuk casual yang biasa aja juga oke, kok."
"Kalau cincin tunangan?"
"Ya?" Audi berkedip setengah heran. "Tunangan, ya?"
Tante Safa tertawa garing. "Ah ... itu, Tante tanya aja. Ini opsional, sih, gak jawab juga gak papa, hehe."
Kenapa Audi merasa Tante Safa sedikit aneh? Ah, mungkin ini hanya perasaannya. Audi lanjut melihat-lihat koleksi perhiasan di tangannya.
"Kalau untuk tunangan mungkin ini selera masing-masing orang, Tante. Tapi Audi lebih suka ini, simpel dan mewah. Cocok untuk dipakai lama karena bentuknya yang kecil." Meski begitu Audi tetap menjawab dan mengutarakan pendapatnya.
"Ohhh ... gitu. Oke, oke, ini emang bagus banget, kamu pintar, deh, pilihnya. Selera kita sama, hihi." Tante Safa mengangguk-angguk, lalu terkikik.
Audi meringis, tersenyum garing. Terpaksa ia harus menahan rasa ngilernya terhadap mie ayam. Sejak tahu Tante Safa menyadari hubungannya bersama Ibra, Audi jadi kerap merasa canggung di hadapan wanita itu.
"Omong-omong kamu mau pergi, ya?" tanya Tante Safa tiba-tiba.
Beliau mengamati penampilan Audi yang masih berpakaian rapi sepulang kerja. Audi turut menunduk melihat baju yang ia pakai. "Eh, Audi baru pulang pemotretan, Tante. Iya, sih, tadinya mau keluar cari mie ayam."
"Mie ayam?" raut Safa berubah antusias.
Audi mengangguk.
"Tante boleh ikut? Tante juga mau mie ayam. Iihh ... udah lama banget gak makan mie. Tahu lah Om kamu akhir-akhir ini cerewet banget soal makanan. Dia yang mau mulai hidup sehat, tapi Tante juga yang harus ikut-ikutan," ujar wanita itu merengut.
Sementara Audi mendadak bingung. Kalau Om Edzar saja melarang, apa Audi tak akan kena marah kalau turut membawa wanita ini makan mie ayam? Aduh, ini menyulitkan.
"Boleh aja, sih, Tante. Tapi, nanti kalau Tante dimarahi Om, gimana?"
__ADS_1
Tante Safa mengibas tangannya yang lentik. "Alah, bodo amat. Paling marahnya sebentar. Toh, dikasih jatah juga nanti diam lagi," ujarnya santai.
Namun tidak begitu dengan Audi, ia berkedip mendengar lontaran sang tante yang begitu frontal.
"Oh, ya udah. Hehe," pungkas Audi garing.
Selepas izin pada Lalisa, Audi keluar bersama sang tante yang begitu kegirangan, karena katanya sudah hampir satu bulan ia tak makan mie ayam, bakso dan sejenisnya.
Sepertinya Om Edzar mulai mengatur pola makan sebagai persiapan masa tua. Sayang sekali Tante Safa yang merasa masih sangat muda tak sefrekuensi dengannya.
***
Di sisi lain, Ibra baru saja sampai di Jakarta setelah melewati penerbangan dari Makassar. Usai mengikuti upacara pergantian dinas, Ibra pun lekas pulang ke kontrakan. Ben tengah kebagian giliran tugas di Istana, jadi sebelum itu Ibra mampir dulu di warung nasi karena ia malas memasak.
Biasanya kalau mereka sama-sama di kontrakan, Ibra dan Ben pasti masak untuk alasan berhemat. Meski Ibra terlahir mampu, tapi lamanya didikan militer membuatnya terbiasa hidup teratur.
Selesai memesan dan pesanannya dibungkus, Ibra pun berbalik hendak meninggalkan warung. Akan tetapi, sebuah seruan berhasil menghentikan Ibra, disusul rangkulan kecil di kakinya yang mau tak mau membuat Ibra sedikit terlonjak dan menunduk.
"Ayaahhh ...!!"
Kenan yang baru saja datang di warung tersebut kontan berlari ketika melihat Ibra juga berada di sana. Ia memeluk kaki Ibra yang terbalut celana hitam sebelum kemudian merengek mendusel di sana.
"Kenan, jangan gitu, Nak." Shireen menegur sambil menatap tak enak pada Ibra.
Ibra masih terkejut dengan kedatangan Kenan. Ia mengedarkan mata melihat sekeliling, ternyata cukup banyak yang mengalihkan atensinya menatap mereka.
Dengan pelan Ibra pun meraih bahu Kenan untuk melepaskan kakinya. "Kenan?" Ia tak tahu harus berucap apa.
Ibra berjongkok menyamakan tingginya dengan anak itu. Kenan merengutkan bibir menatap Ibra. "Ayah kenapa gak pernah main lagi ke rumah? Kenan selalu nungguin Ayah, lho."
Ibra terdiam, ia sedikit melirik Shireen yang melempar tatapan maaf padanya. Membuang nafas perlahan, Ibra tak mungkin menyalahkan wanita itu karena pertemuan tak terduga ini.
Berusaha tersenyum, Ibra mengusap rambut Kenan yang sedang cemberut. "Ayah sibuk, Nak. Ini juga baru pulang dari luar kota. Kamu ke sini mau makan?"
"Huum. Habis ini Ayah ke rumah Kenan sama Mama, kan?"
__ADS_1
Apa Shireen belum bicara pada Kenan? Itu yang jadi pertanyaan di benak Ibra. Ibra jadi dibuat sulit sekarang. Apa harus dia sendiri yang beri pengertian?
Tersenyum canggung, Ibra pun berdiri dan sedikit mendorong punggung Kenan untuk ikut bersamanya ke dalam warung. "Kenan mau makan apa? Pilih apa aja yang Ken mau, nanti Ayah yang bayar."
Ibra menaikkan tubuh Kenan di sebuah bangku hingga anak itu bisa berdiri dan melihat jelas etalase makanan.
"Serius, Ayah?" tanya Kenan antusias.
Ibra mengangguk. "Iya, pilih aja. Nanti kamu bilang sama mbak nya."
Si Mbak penjaga warung turut tersenyum ramah menyambut Kenan. "Silakan, adeknya mau pilih apa?"
Kenan melarikan mata melihat satu persatu lauk di sana dengan pandangan ingin. Sesaat Ibra menepuk bahu anak itu. "Ayah bicara dulu sama Mama kamu, kamu pilih dulu aja, ya?"
Kenan yang tengah fokus memilih hanya mengangguk saja. Ibra pun menggasak kepala anak itu dengan pelan, lalu memberi isyarat pada Shireen untuk ikut dengannya keluar.
"Kamu belum bicara pada Kenan," ucap Ibra datar. Itu bukan pertanyaan, melainkan tebakan yang memang tepat sasaran.
Shireen berdiri gugup dengan tangan saling meremas. "Itu, Mas, maaf aku belum sempat nemu waktu yang tepat. Tapi nanti aku akan beri Kenan penjelasan tentang kita, kok."
Ibra membuang muka, berkacang pinggang sambil menghela nafas. Ia lalu kembali menatap Shireen. "Waktu yang tepat itu bukan ditunggu, Ren, tapi dibuat."
"I-iya, aku tahu. Nanti aku coba bicara sama Kenan," ucap Shireen gugup.
"Secepatnya, karena sebentar lagi saya mau lamar Audi," tegas Ibra.
Sesaat Shireen tertegun. Ia menelan ludah, menahan hati yang masih saja merasa sesak ketika Ibra membahas soal Audi. Ia tak mampu berkata selain mengangguk.
"Saya tidak mau Audi menolak saya lagi karena ini. Kamu mengerti?"
"I-iya, Mas."
"Mas Ibra dan Audi ... kapan nikah?"
"Ayah mau nikah lagi?" Tiba-tiba suara celetukan hadir di antara mereka.
__ADS_1
Ibra lupa ia masih berada di kawasan warung, di mana bisa saja Kenan melihat dan mendengar pembicaraan mereka.