
"Audi gak bisa ke Bandung sekarang, Ma, tiba-tiba ada panggilan dari brand. Ini menyangkut kontrak yang akan berakhir bulan depan." Audi menyahut seseorang yang tak lain adalah Lalisa.
Sejak pagi sang mama menanyakan apakah dirinya sudah akan pulang dari Jakarta. Audi jawab belum. Tentu alasan terbesar ia tak ingin pulang karena belum siap memenuhi panggilan sang oma.
Karena hal ini pula Audi memaksa Tian ke Jakarta hari ini juga. Wanita itu baru sampai lewat duhur usai menempuh perjalanan mendadak beberapa jam dari Bandung.
"Padahal Mba udah seneng banget bisa libur lagi gak ngawal kamu. Ini malah tiba-tiba nelpon minta ke sini. Kirain iya ada kerjaan, taunya kamu cuman butuh temen ngeles biar gak ketahuan nganggur di ibu kota," ujar Tian begitu ia sampai di Jakarta siang tadi.
Kembali lagi pada Audi dan teleponnya, ia berusaha menguar alasan supaya Lalisa percaya bahwa ia sibuk dan tak bisa pulang cepat. Lucunya Audi mengadukan itu semua pada Ibra yang notabene berada di Bandung.
Audi tidak tahu, karena Ibra tak memberitahunya soal kepulangan lelaki itu. Tanpa Audi sadari Ibra hanya bisa menggeleng dan mendengus geli membaca pesan-pesan sang kekasih yang semuanya berisi kecemasan.
"Udah dulu, ya, Ma. Pokoknya Audi gak bisa pulang ke Bandung dulu. Kalo Mama gak percaya, nih, ngomong langsung sama Mba Tian." Audi menatap Tian rikuh, meminta bantuan dengan cara melempar isyarat tanpa suara.
Tian yang sedari tadi duduk dongkol di sofa, mengernyit kesal dengan kelakuan artisnya. Dalam hati ia mendumel, repot amat ini perawan satu. Anak perawan paling rempong, ya, Audi.
Dengan terpaksa Tian menerima uluran ponsel dari Audi karena ia dengar Tante Lalisa sempat memanggil namanya.
"Teh? Teh Tian? Ini beneran Audi ada kerjaan di Jakarta? Bukan cuma akal-akalan dia biar gak bisa pulang, kan?"
__ADS_1
Tian meringis sebelum bersiap untuk berbohong. "Beneran, Tante. Ini aja kita baru pulang photo shoot. Belum entar sore ada briefing sama pihak lain."
Audi mengacungkan kedua jempol dengan raut puas. "Good," bisik gadis itu tanpa suara. Tian memang tak usah diragukan, wanita itu sangat bisa diandalkan dalam hal apa pun, apalagi mencari alasan.
"Oh, gitu? Ya udah, deh. Padahal ada hal penting yang harus Tante omongin langsung sama Audi. Tapi gak papa kalau kalian sibuk banget. Nanti kalau jadwal Audi udah gak padat, tolong bawa Audi ke Bandung, ya, Teh?"
Pasti ini tentang Oma, kekeh Audi berpikir.
"Iya, Tante, siap."
"Tante titip Audi, ya, Teh. Anak itu kadang suka nakal. Gak nyadar umur udah mau kepala tiga."
"Siap, Tante."
"Ya sudah, Tante tutup teleponnya. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam, Tante."
Telepon terputus, dan Tian langsung menatap Audi datar dengan bibir mengatup lurus. Rautnya campur greget melihat Audi. "Kamu kenapa, sih? Mendadak kayak cacing kepanasan gitu? Kamu belum jelasin, ya, kenapa mendadak suruh Mba ke sini."
__ADS_1
Tian menatap Audi menuntut.
Audi merengut tipis, ia mengambil kembali ponselnya di tangan Tian, lalu berjalan dan menghempaskan diri ke sofa dekat jendela kamar. Jeno sudah kembali ke kosan pagi hari tadi. Anak itu sudah mulai kuliah lagi. Audi bersyukur, sih. Melihat Jeno hanya membuat emosi saja, mengingat pasti anak itu yang menyebar berita ke omanya.
"Jeno tahu aku dan Mas Ibra pacaran," aku Audi mulai menjelaskan.
Tian mengernyit, meski begitu ia tetap menunggu dengan sabar.
"Dan tiba-tiba kemaren Oma chat aku pengen ketemu. Parahnya dia juga chat Mas Ibra dengan pesan yang sama. Udah yakin Oma pasti tahu, dan itu dari Jeno. Comel emang itu bocah satu." Audi bersungut-sungut kesal.
"Terus? Masalahnya di mana?" tanya Tian tak mengerti. "Emang benar kalian pacaran, kan?"
Audi berdecak. "Ya aku gak siap kalau Oma tahu. Kalau Oma tahu dia pasti suruh aku cepat nikah. Secara di matanya aku ini perawan tua."
"Emang," cetus Tian semena-mena. Audi melotot mendengarnya. Kemudian Tian melanjutkan. "Kalau dilihat dari standar jaman dulu, iya, kamu perawan tua. Secara dulu kan orang nikah di bawah umur segitu. Bahkan ada, kok, yang umur lima belas tahun udah nikah. Tapi itu dulu, sekarang standarisasi buat seorang wanita nikah itu udah cukup tinggi. So, ya, tergantung gimana cara orang memandang, sih. Keluarga kamu kan masih cukup kolot dalam hal beginian."
"Nah, iya, kan?" Audi setuju dengan Tian.
"Yang mau Mba tanya di sini, tujuan kamu pacaran sama Mas Ibra itu apa? Kalau gak putus, ya, kalian ujungnya nikah, kan? Terus sekarang apa yang bikin kamu ketar-ketir gini? Bukannya dari dulu kamu udah berharap bisa sama Mas Ibra?"
__ADS_1
Pertanyaan Tian barusan seakan memukul Audi telak. Audi terdiam, pun tak paham dengan apa yang ia pikirkan.