Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 42


__ADS_3

"Ppffttt ... Seriosly?"


"Pasangan? Di saat para cowok berlomba menggunakan kata pacar, Mas Ibra malah menggunakan kata pasangan buat nembak kamu?"


"Waahh ... Hahaha." Tian menggeleng tak percaya. "Antara unik dan kuno, sih. Berasa nonton opera jaman penjajahan Eropa."


"Tapi ... entah kenapa kesannya jadi charming gitu, ya? Ya gak sih?"


"Emang aneh, ya?" tanya Audi.


"Ya ... gak aneh juga, sih. Lebih ke langka aja. Keliatan banget sepupu kamu itu minim pengalaman dalam segi wanita. Padahal dia duda. Jangan-jangan mantannya cuman satu, mantan istrinya doang?"


Audi hanya bisa mengendik pertanda tidak tahu. Selama mereka bareng-bareng dari balita hingga dewasa, Audi memang belum pernah mendapati Ibra berpacaran.


Meski banyak teman wanita di sekolah yang mengincarnya, Audi tak sekalipun mendengar Ibra berpacaran dengan salah satunya.


Malah Audi sendiri yang sering dikira pacarnya Ibra, karena Audi juga kerap membantu Ibra ketika lelaki itu memintanya berpura-pura menjadi pacar. Tujuannya untuk mengusir para cewek-cewek nekat yang terlanjur baper dengan kebaikan Ibra.


Ibra itu tukang PHP alias Pemberi Harapan Palsu. Buktinya banyak korban yang disia-siakan Ibra, termasuk Audi sendiri. Meski Ibra sering tidak sadar tindakannya memicu harapan di hati para gadis.


"Jadi kamu jawab apa?" Kembali pada Tian, wanita itu kembali bertanya.


Lagi-lagi Audi mengendik yang jatuhnya malah tidak jelas. Tian jadi geregetan sendiri dengan jawaban Audi yang hanya berupa anggukan, gelengan serta endikan.


"Kamu jawab iya atau enggak? Atau malah gak jawab sama sekali?"


"Entahlah. Aku bingung jadi aku gak jawab."


Dari tadi, kek. Ribet amat mau bilang gitu doang. Batin Tian.

__ADS_1


"Terus, Mas Ibra nya Gimana?"


"Gimana apanya?" tanya Audi balik.


"Ya setelah itu gimanaaa ...? Kan kamu gak jawab." Lama-lama Tian jadi gemas dengan percakapan mereka.


"Ya gak gimana gimana, dia pulang naik ojek," ujar Audi lempeng.


"Ojek? Gak bawa mobil atau motor gitu? Sekelas Mas Ibra pasti punya, kan? Ortunya aja sultan."


Audi memutar mata. "Mba lupa? Kan dia lagi sakit, kena bacok. Mana bisa naik motor sendiri," sahut Audi malas.


"Eh, iya, ya, lupa." Tian menggaruk kepala. "Tapi kasian banget bela-belain ke sini naik ojek, eeh ... hasilnya malah gantung. Tega banget kamu."


Audi tak menanggapi cibiran Tian. Sebenarnya, semalam ia juga tak tega saat tahu Ibra ke hotel naik ojek, apalagi pria itu tak pakai jaket, hanya kemeja pendek dan sandal jepit. Hampir Audi menawarkan diri untuk mengantarkan lelaki itu, namun kembali lagi pada ego yang menuntut dipertahankan.


"Terus gosip kemarin gimana?"


"Gimana apanya? Bukannya Mba bilang mau urus?"


"Ya Mba sih udah hubungin Gavin. Dia bilang biarin aja, nanti juga hilang sendiri."


Audi menoleh lemas. "Masalahnya keluarga aku pada kepo. Apalagi Oma, dia seakan gak mau tahu cerita benernya gimana, aku disuruh menghadap kenalin Gavin."


"Lha?" Tian mendengarkan cerita Audi sambil nyemil kacang.


Jadwal syuting untuk iklan masih 2 jam lagi, jadi mereka masih bisa santai-santai menjalani sesi curhat.


"Oma pengen aku cepat nikah. Umur aku juga bentar lagi 27, udah pantas berkeluarga katanya."

__ADS_1


"Ya emang iya, sih. Tapi hari gini udah gak aneh kali, cewek cowok nikah umur tiga puluh. Bahkan di atas itu pun banyak. Luna Maya aja udah mau 40 enjoy aja, tuh."


"Ya itu Mba Luna, beda lah sama aku yang keluarganya kolot."


"Ya iya, sih. Kalau mau kenalin Gavin ya kenalin aja, bilang dulu tapi sama Gavin, mau gak dia dikenalin sama keluarga kamu," usul Tian santai.


Berbanding terbalik dengan Audi yang melongo. "Ih, apaan? Gak ada api gak ada asap tiba-tiba ngajak kenalan sama keluarga. Ogah, ah. Emang aku siapa? Dia siapa? Kita aja baru kenal, gimana mau punya hubungan?"


"Bukannya selesai malah malu-maluin," lanjut Audi. "Malu sama Gavin lah, Mba. Siapa yang tahu dia udah punya pacar."


"Tapi gak ada gosip dia punya pacar."


"Ya namanya juga artis, backstreet kali. Who know?"


Tian mengendik. "Ya udah, kalau gitu gak usah. Lagian kalau diingat lagi Gavin itu beda sama kamu, dia bukan muslim."


Benar juga, Audi lupa Gavin itu katolik.


"Ya udah, bawa aja Mas Ibra. Aman," celetuk Tian.


Audi kembali menoleh sebal. "Mba niat ngasih saran gak, sih?" kesalnya.


"Mba udah kasih saran dari tadi, cuman gak kepake aja sama kamu."


"Saran Mba aneh-aneh, sih," sungut Audi.


"Ya itu dia, mending diam udah."


"Nyebelin!"

__ADS_1


__ADS_2