Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 43


__ADS_3

"Mas, badan kamu panas. Demam, ya?" Safa bertanya khawatir begitu menyentuh kening putranya.


Ia baru saja tiba di rumah sakit pagi ini, dan malah mendapati wajah pucat Ibra yang lemas. Safa memang tak menginap semalam, biasanya ia dan sang suami akan bergantian menunggui Ibra, tapi kemarin mereka ada beberapa acara yang tak bisa ditinggalkan.


Menanggapi pertanyaan ibunya, Ibra hanya bisa bergumam dengan nada murung. Sesekali ia meringis ketika bergerak.


"Kamu juga gak makan malam, ya? Junior kamu bilang, semalam kamu maksa keluar. Emang ke mana, sih, sampai gak mikirin keadaan sendiri?"


"Gak ke mana-mana, Mami," sahut Ibra parau.


"Gak ke mana-mana apanya? Orang temen kamu bilang kamu menjam duit buat bayar ojek," cibir Safa. "Nakal kamu, Mas. Makanya sakit gini, kan? Bandel, sih, udah tahu luka jahit juga belum sembuh, sekarang malah nambah-nambah waktu pemulihan. Mau jadi pengangguran kamu tidur terus?"


"Mami ini, Ibra tugas terus diomelin gak pulang-pulang, sekarang diam pun diomeli."


"Ya kalau diamnya sehat sih gak papa. Cuti misalnya. Ini malah diamnya di ranjang rumah sakit."


"Mami tahu ini sudah resiko pekerjaan," cetus Ibra tenang. "Papi mana?"


Ditanya suami, muka Safa malah kembali keruh. "Kerja lah. Kamu lupa Papi punya cafe dan usaha lain di Jakarta? Meski bilangnya cuti tetap aja ke sini jatuhnya kerja. Cuti dari kejaksaan aja."


Ibra berusaha terkekeh di tengah rasa tak enaknya. "Kan uangnya buat Mami juga."


"Suara kamu jadi becek gitu, ih, Mas. Dokter udah kasih obat tambahan belum?"


Ibra mengangguk. "Udah tadi."


"Ini pasti karena kamu angin-anginan semalam. Jadi flu, kan? Kayaknya mau batuk, tuh."


"Hmm." Ibra hanya bergumam dan kembali memejamkan mata.


Safa menatap lekat putranya yang seakan tak ada semangat pagi ini. Sebenarnya ia ingin menanyakan perihal Audi. Ya, dia sudah lihat gosip yang berseliweran itu. Tapi melihat Ibra yang seperti mayat hidup, Safa jadi enggan menambah-nambahi beban pikirannya.


"Kamu udah sarapan apa tadi, Mas?"


"Bubur," sahut Ibra malas. Matanya terpejam berusaha meredakan sakit kepala, efek dari luka sekaligus pening akibat demam.


"Mami bawa smoothies buah dari rumah, kamu mau?"


"Nanti aja, Ibra mau tidur."

__ADS_1


Safa mengangguk. "Ya udah, tidur aja. Mami tungguin kamu di sini." Ia membenarkan selimut Ibra.


"Mami pulang aja gak papa. Kenapa harus segala ditungguin? Ibra gak papa kok sendiri."


Sebetulnya Ibra malu ditunggui terus. Mirip anak kecil, pikirnya. Kesannya malah seperti anak mami yang dimanja. Ibra mengerti maminya khawatir, dan karena ia anak satu-satunya rasa khawatir itu seringkali berlebih.


"Mami tahu kamu ngusir, tapi Mami sudah kebal dengan usiran kamu. Kamu itu bandel kalo dibilangin. Nanti pas ditinggal malah pergi-pergi lagi."


Ya sudah lah, setelah ini Ibra harus terima seandainya rekan-rekan di kesatuan mengejeknya.


***


Satu minggu berlalu, Ibra maupun Audi sudah kembali pada aktifitasnya masing-masing. Audi sudah meninggalkan Jakarta, dan saat ini tengah berada di Malang untuk kerja sekaligus liburan.


Sementara Ibra masih dalam masa pemulihan pasca sakit. Lukanya cukup dalam hingga membutuhkan waktu lebih untuk pulih.


Dan sejak malam di mana Ibra mengutarakan perasaan untuk yang kedua kalinya pada Audi, keduanya tak lagi berhubungan baik itu lewat telpon atau pun chat.


Ibra bingung harus berbuat apa, semua seolah menekannya dari segala sisi hingga terjepit. Ibra sadar untuk mengikat Audi ia butuh buka-bukaan mengenai apa yang terjadi beberapa tahun lalu.


Tentang pernikahannya, tentang alasan kenapa ia tak mengundang dan memberitahu Audi mengenai lepas lajangnya, dan ... ia harus menutup akses pertemuannya dengan Shireen.


"Bra, lukamu itu gimana?"


Ibra menoleh pada Ben yang baru saja pulang. Sepertinya ia baru selesai apel pergantian jaga. Ben termasuk yang selamat pulang dari Bali. Memang hanya Ibra seorang yang terkena musibah, teman-temannya yang lain tidak.


Mungkin saat itu Ibra juga lalai hingga memicu ketidakfokusannya saat berdinas. Syukurlah, tidak ada korban lain.


"Baik."


"Udah bisa pake angkat beban?"


"Ya belum, lah."


Ben melempar cengiran. "Bercanda. Lagian tumben kamu tumbang saat dinas. Biasanya si paling teliti dan inteligensi. Ada apa? Kayaknya waktu itu kamu sedikit kurang fokus?"


Ben memang belum tahu soal Audi. Maksud Ibra, dia tidak tahu akhir-akhir ini Ibra berhubungan lagi dengan gadis itu.


"Bukan apa-apa, hanya kurang enak badan aja," ucap Ibra melempar alasan yang tak sepenuhnya bohong.

__ADS_1


Saat ke Bali, tubuh Ibra memang sedang kurang fit.


"Wajar, sih, cuaca akhir-akhir ini emang gak enak banget. Kadang-kadang hujan terus, kadang-kadang panas banget." Ben yang percaya turut mewajarkan.


"Batuknya gimana? Masih?" tanya Ben lagi. Dia sudah seperti petugas kesehatan yang hendak memeriksa Ibra.


"Batuknya udah gak ada, cuman sesekali aja."


"Oh, bagus, deh."


"Eh, tadi rapat wali kota ada yang seru," cetus Ben membuka gosip. "Gina, sekretaris walkot yang ngincer kamu itu, tadi keciduk berantem sama staf menteri. Dengar-dengar dia jadi agen investasi bodong. Banyak yang kena tuh di kementrian."


Ibra menoleh sekilas cenderung malas. Ia berusaha menyamankan posisinya sebaik mungkin di sofa. "Bukan urusanku."


"Iya , sih," ringis Ben disertai cengiran.


"Itu tahu."


"Hmm. Ampun, Mbah. Orang sakit hatinya sensitif juga." Ben langsung beranjak dan berlalu ke dapur.


Ibra tak menanggapi. Jangankan Gina, ia saja sudah cukup pusing dengan Shireen dan Audi.


Meski begitu dalam seminggu ini Ibra tak pernah lepas mengirimi Audi pesan. Hal-hal klise seperti mengingatkan makan, tidur, dan anjuran untuk tidak terlalu memforsir diri saat bekerja.


Meski semuanya tak mendapat balasan, Ibra tetap melakukannya karena ia senang. Ibra senang mendapati Audi masih mau membaca pesannya. Ibra senang, karena setidaknya gadis itu tidak memblokir nomornya.


Dari semua itu, satu hal yang membuat Ibra tidak senang, yaitu Gavin, si aktor naik daun yang kabarnya juga tengah syuting film terbarunya di Malang.


Entah kenapa bisa sampai kebetulan begitu, yang pasti Ibra tetap berusaha tenang dan tak tersulut emosi saat cuitan-cuitan tak mengenakan terus saja berseliweran di sosial media.


Ia pun mengirim pesan pada Audi. Seperti hari-hari belakangan Ibra kerap menyempatkan diri mengetik sesuatu untuk Audi sebelum tidur.


Deretan kalimat sama yang mungkin saja sudah membuat Audi bosan membacanya.


Ibra: Selamat malam. Selamat tidur. Jangan terlalu banyak begadang. Mas sayang kamu.


Empat kalimat yang selalu disertai emoticon love itu tak pernah absen Ibra kirimkan.


Ibra hanya ingin kerenggangan mereka tetap terisi oleh komunikasi meski hanya sebelah pihak.

__ADS_1


Ibra membuang nafas menatap langit-langit ruang tamu. "Padahal kemarin kita sempat menyecap manis walau sebentar," gumamnya.


__ADS_2