
Amanda mendengar suara keributan di depan kamar kostnya. Ia yang baru saja selesai dengan segala urusan perawatan tubuh, merasa penasaran, dan melongokkan kepala untuk mencari tahu apa yang terjadi.
Ia melihat Nilam seperti tengah berdebat dengan seorang wanita, sementara Bas hanya diam di samping kekasihnya. Amanda semakin penasaran, ingin tahu apa yang terjadi. Ia pun bergegas mendekat ke arah ketiganya.
"Lam, kok belum jalan?" Tanya Amanda, saat ia sudah berdiri tepat di belakang Nilam.
"Nda," Nilam menoleh ke arah sahabatnya.
"Dia ngapain ke sini, Lam?" tanya Amanda lagi, saat menyadari sosok Laksmi lah yang saat ini bersama Nilam. Tatapan permusuhan jelas nampak di wajah wanita itu.
"Kata dia aku pengganggu kebahagiaan adik dan iparnya, mangkanya dia rela jauh-jauh datang ke mari untuk marah-marah." adu Nilam.
"Hubungan hasil merebut, emang bisa bahagia? Lagian, kalau udah bahagia ngapain ke sini hanya untuk marah-marah? Cari masalah aja. Dasar aneh." Gerutu Amanda.
"Kamu jangan ikut campur! Ini urusan saya sama Nilam!" Laksmi menatap tajam Amanda. Ia tidak terima dengan ucapan wanita tomboy itu.
"Kok ngegass Bu? Anda ke mari membuat keributan, menganggu ketenangan penghuni kost ini. Wajarlah kalau saya ikut campur, karena saya merasa terganggu. Lagian ya, harusnya Anda sadar diri, apa yang terjadi, itu hasil usaha Anda dan wanita itu. Terima saja resikonya. Masa semua dilimpahkan ke Nilam? Helooo, Nilam tuh udah bahagia dengan Pangerannya sekarang." Amanda, dengan wajah menyebalkan mengejek Laksmi.
Wajah ibu satu anak itu semakin memerah padam, merasa kalah berhadapan dengan tiga orang sekaligus, sementara dia hanya seorang diri.
Sebenarnya, Baskara hanya diam, tidak ikut menyerangnya, namun aura laki-laki itu mampu membuat Laksmi merasa gemetar.
__ADS_1
"Aku dan Pandu sudah selesai. Tidak ada yang tersisa di antara kami. Jangan sangkut pautkan aku, dalam setiap apapun yang terjadi dalam hidupnya, entah itu suka atau pun duka. Seperti halnya aku yang tidak pernah mengungkit apapun dari masa lalu, aku minta hal yang sama pada kalian. Aku sudah bahagia dengan hidupku saat ini. Aku tidak ingin, pasanganku merasa tidak nyaman dengan masalah ini. Tolong hargai dia yang kini bersamaku." ucap Nilam dengan tenang, meminta Laksmi untuk berhenti mengganggunya.
🌟🌟🌟
Deru motor milik Baskara melaju membelah malam. Kelap kelip lampu jalanan, hembusan angin yang bertiup lembut, menemani sepasang kekasih yang sejak tadi hanya membisu, asyik dengan pikirannya masing-masing.
Setelah berhasil mengusir Laksmi pergi, mereka melanjutkan kembali acara kencan mereka.
"Kenapa diam aja?" Nilam berucap tepat di samping telinga Baskara. Gadis itu juga mengeratkan pelukan di pinggang sang kekasih, meminta perhatian.
Baskara diam, hanya tangan kirinya yang mengusap lembut lengan Nilam.
"Mas marah sama aku?" tanya Nilam lagi, kali ini dengan suara merajuk.
Laki-laki itu tersenyum, merasa lucu dengan sifat gadis yang diboncengnya itu.
"Nggak, mas nggak marah. Mas nggak bisa marah sama kamu, sayang." sahut Bas masih terus mengusap lengan Nilam.
"Trus kenapa diam aja?" desak Nilam.
"Lagi menikmati," sahut Bas menggantung.
__ADS_1
"Menikmati apa?"
"Dipeluk kamu."
Seketika wajah Nilam bersemu merah. Ia malu, tapi juga bahagia mendengar gombalan receh kekasihnya itu.
Hingga tiba di salah satu warung makan dekat pantai, mereka memutuskan untuk berhenti.
Memesan makanan dan menikmatinya berdua.
"Habis ini mau ke mana?" tanya Baskara saat makanan di depannya sudah tandas tanpa sisa.
Ia sedang menunggu Nilam menghabiskan suapan terakhirnya.
"Terserah mas aja, maunya kemana."
"Pulang yuk, mumpung mas dapet libur seminggu."
Nilam mengerutkan alisnya. Masih belum mengerti maksud ucapan Baskara.
"Mas nggak mau ada masalah kayak tadi. Mau ikut campur, tapi nggak bisa. Sakit hati mas, denger orang ngomong gitu ke kamu, sementara mas nggak bisa bela terlalu jauh." ucap Baskara serius.
__ADS_1
"Trus apa hubungannya sama pulang kampung, mas?"
"Kita nikah. Biar orang nggak bisa sembarangan gangguin kamu. Dan mas bisa sepenuhnya lindungi dan jaga kamu."