CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 110


__ADS_3

Setelah obrolan panjang dari hati ke hati, Nilam dan Bas sepakat untuk menunda pernikahan mereka.


Rumah, adalah tujuan utama mereka saat ini, yang memang harus Bas miliki sebelum mempersunting Nilam sebagai istrinya.


"Apa ini, Mas?" Nilam bingung di jeda pembahasan mereka soal hunian impian, Bas tiba-tiba menyodorkan sebuah ATM salah satu bank swasta padanya.


"Tolong kamu pegang, itu tabungan yang mas kumpulkan belakangan ini untuk menikahi kamu."


"Terus kenapa dikasihkan ke aku?" Nilam masih bingung, belum mengerti maksud Baskara.


"Ya kamu yang pegang. Mas mau fokus untuk pembangunan rumah kita, dulu. Kalau ini mas yang bawa, takut uangnya malah mas ambil terus." kekeh Bas, sambil memainkan kartu atm-nya.


"Nanti mas usahakan bakal isi tiap bulan. Semoga dalam setahun, uangnya udah terkumpul. Cukup untuk nikahan kita. Tapi kalau kamu punya keperluan, boleh kok ini diambil." lanjut Bas lagi.


Nilam terharu sekaligus merasa takut, Bas begitu percaya terhadapnya.


"Sayang," panggil Bas lagi, saat melihat Nilam hanya terpaku menatap gerak tangannya.


"Kenapa mas kasih ini ke aku, mas? Kenapa nggak minta bibi Rahma aja dulu yang pegang?"

__ADS_1


"Mas percaya sama kamu, sayang."


"Tapi nggak enak kalau sampai keluarga mas tau. Kesannya aku terlalu nguasain mas Bas."


"Lha memang bener, kok. Kamu penguasaku. Jangankan ATM, hidupku pun memang untuk kamu kuasai." sahut Bas sembari mengerlingkan sebelah matanya.


"Ish apaan sih, nggak lucu." sungut Nilam. Ia masih dalam mode serius, namun Baskara malah menggodanya.


Bas tertawa kecil, "kamu terlalu jauh mikirnya, sayang. Mana mungkin ibunya mas tahu ini semua? Memangnya kita kasih pengumuman di koran, soal kamu yang pegang kartu ini? Nggak kan? Lagipula ini hasil kerja mas sendiri, bukan warisan. Jadi nggak ada yang boleh ganggu gugat. Mas mau kasih ke siapapun, itu hak mas." Baskara mendorong kartu yang belum juga Nilam ambil.


Dengan gerakan ragu dan pelan, Nilam mengambil ATM itu.


"Ante Lam ...!" Seru mereka bertiga saat baru tiba di rumah kakek neneknya.


"Halooo cantik dan gantengnya, Ante ...." Nilam menyambut kedatangan mereka dengan senyum ceria.


"Mana oyeh-oyehnya, Ante?" Tanya Saka yang masih saja cadel, meski usianya sudah menginjak empat tahun.


"Yaaaah, Ante lupa beli!" Nilam menepuk jidatnya berpura-pura lupa.

__ADS_1


Wajah anak laki-laki gembul dengan bibir pink itu mendadak berubah merah. Anak dari kakak laki-laki Nilam itu bersiap untuk menangis.


"Lam ...!" Dari dapur Bu Sukma datang mendekat.


"Kamu tuh, seneeeng sekali bikin mereka nangis!" Nilam hanya tersenyum kuda mendengar omelan ibunya.


Wanita paruh baya itu, meraih cucu laki-lakinya untuk digendong. Sementara dua cucunya yang lain ikut mengekor di belakangnya.


"Jangan didengerin ante kamu itu, ya sayang. Nanti nenek yang ambilkan oleh-olehnya."


Dari tempat Nilam berdiri, samar ia mendengar sang ibu tengah membujuk keponakannya.


"Nenek udah bikinkan kalian bubur kacang ijo. Makan buburnya dulu, nanti habis itu pasti dibagiin oleh-olehnya sama Ante Lam," ucap nenek dari tiga cucu itu lagi.


Nilam masuk ke dalam kamar, mengambil benda-benda yang memang sudah ia siapkan untuk keponakannya.


Kali ini ia membelikan kotak makan dan botol minum kekinian untuk para keponakannya, mengingat sebentar lagi pendaftaran siswa baru akan dimulai.


__ADS_1


__ADS_2