
Matahari masih memancarkan sinarnya, meski jam sudah menunjuk angka 16.15, dimana waktunya para pekerja kembali pulang, setelah hampir seharian menghabiskan waktu mengais rejeki. Meski sudah tidak menyengat lagi, tapi sinar kemerahan itu tetap membuat silau pengendara yang melaju ke arah barat.
Nilam menarik gas motor maticnya dengan kecepatan sedang. Cukup santai. Sebab tidak ada yang memburunya, sehingga ia bisa menikmati perjalanan pulang, sembari menikmati kepadatan kota yang semakin hari semakin menguras kesabaran. Memilih tidak melewati gang-gang tikus, mungkin merindukan kesemrawutan lalu lintas di mana jumlah kendaraan baru yang muncul, tidak sebanding dengan jumlah jalan yang dilebarkan.
Teringat dengan sang sahabat, ketika di lampu merah, Nilam memutuskan menghubungi Amanda.
"Aku lagi di dekat mie setan nih, mau beli nggak?" tanya gadis itu, saat Amanda menerima panggilannya.
"Nggak usah, Lam. Udah beli tadi," sahut sang sahabat dari seberang.
"Trus mau dibawain apa?"
"Mmm aku sih nggak ada. Tapi kalau kamu mau beli sesuatu, beli aja."
"Ok deh." Nilam memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, dan tidak menunggu lama ia menarik gas motornya ketika lampu lalu lintas sudah berubah ke warna hijau.
Di perjalanan Nilam berpikir makanan apa yang mesti ia beli untuk dirinya dan Amanda. Meskipun sang sahabat mengatakan tidak usah, tapi Nilam tidak terbiasa membeli makanan untuk dirinya sendiri. rasanya aneh, ketika ia menikmati sesuatu sementara teman di sampingnya hanya menjadi penonton.
__ADS_1
Akhirnya gadis itu memilih masuk ke sebuah toko bakery, memilih satu kotak donat ukuran sedang. Ia juga berhenti ke sebuah kedai , dan menenteng dua cup besar minuman bobba kesukaannya dan Amanda keluar dari kedai tersebut.
Ketika mengantri di kedai minuman, ponsel Nilam bergetar. Dan benar saja, dari layar depan, ia dapat membaca pesan dari Baskara yang menanyakan keberadaannya. Namun Nilam mengabaikan pesan itu.
Sembari menarik nafas, ia memasukkan kembali benda canggih berlayar pipih miliknya.
Suasana hatinya kembali memburuk, setelah itu.
Sejak pagi, sejak kedatangan tamu tak terduga ke kostnya, ia berusaha mengabaikan rasa yang mengganjal di hatinya. Perasaan ingin marah karena cemburu, serta rasa tak berdaya, karena berperang dengan logika. Ia tahu semua yang terjadi bukan salah Baskara. Namun sebagai seorang perempuan yang Tuhan ciptakan lebih mengandalkan rasa dibanding logika, tentu Nilam lebih menuruti cemburunya. Dan mendiamkan Baskara, adalah cara dia menunjukkan pada sang kekasih jika ia cemburu dan tidak terima seseorang mengusik hubungan mereka.
'Biarkan saja dia tau aku kesal,' pikir gadis itu. Siapa suruh membiarkan benda pribadinya dipakai oleh sang mantan? Sekalipun itu bukan atas kehendak Bas, tetap saja Nilam ingin menunjukkan jika dirinya tidak suka. Katakanlah dia kekanakan. Dia tidak peduli. Bukankah ia sedang belajar untuk jujur pada perasaannya? Hal yang selama ini selalu ia tahan, hingga menjadi bom waktu yang hampir saja menggagalkan rencana pernikahannya dengan Baskara.
Ia tidak melihat motor milik Amanda terparkir di garasi. Namun dadanya seketika berdebar lebih kencang, ketik menyadari pintu kamarnya tidak terkunci.
Ia takut ada pencuri yang masuk dan mengambil benda-benda pribadi miliknya dan juga Amanda.
Nilam tidak segera melanjutkan niatnya masuk ke dalam kamar. Ia menghubungi Amanda kembali, memastikan semua baik-baik saja. Namun sang sahabat tidak menerima panggilan yang ia lakukan berulang kali. Hingga dengan terpaksa ia memberanikan diri masuk.
__ADS_1
Ia melebarkan pintu yang tidak tertutup sempurna itu. Dan tubuhnya membeku saat ia melihat sosok yang terbaring di atas ranjang miliknya.
Tubuh tinggi menjulang, dibalut celana panjang hitam, dan atasan kaos abu-abu. Laki-laki tampan yang sejak tadi bermain di pikiran Nilam itu tengah memejamkan mata dengan satu tangan menutup kening.
Nilam berjalan mendekat. Memastikan apa yang ia lihat bukanlah halusinasi. Berusaha tidak menimbulkan suara sedikitpun, ia sampai berjinjit melangkahkan kakinya dengan perlahan.
Itu memang Baskara. Melihat tarikan nafas yang teratur, dapat Nilam pastikan jika sang kekasih tengah terlelap.
Nilam termenung sejenak. Menatap lekat kekasih hatinya dengan perasaan bimbang.
^_________^^_________^^_________^
huuuh akhirnya bisa up juga. Maafkan ya, lagi musim sakit. Kondisi othor dan keluarga lagi kurang fit.
Kalian semua jaga kesehatan ya ... Minum vitamin dan air putih yang banyak 🙂🙂
Oh ya sembari nunggu othor up lagi, bisa intip jug karya yang nggak kalah keren dari othor lain di bawah ya ...
__ADS_1