CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 125


__ADS_3

Ponsel Nilam berdering beberapa kali, namun gadis yang tengah menenangkan diri di teras depan kamarnya itu, enggan menerima panggilan yang entah dari siapa.


"Lam ... Angkat teleponnya, berisik tau!" teriak Amanda dari dalam.


Nilam tidak perduli. Ia masih merasa kesal, sehingga ia abai dengan teriakan Amanda yang begitu nyaring.


Tidak berselang lama, Amanda keluar sambil membawa ponsel milik Nilam, dan menyerahkannya pada sang pemilik, tentu disertai dengan gerutuan.


"Nih, dari tadi juga diteriakin!" omel Amanda.


Nila bangkit dari kursi yang biasa ia gunakan saat menjahit. Menerima benda pipih miliknya dengan wajah yang tak kalah merengut.


'Mba Diana, tumben dia telepon,' batin Nilam.


Ia segera menghubungi kembali nomor ponsel sang kakak.


"Ada apa, mba?" tanyanya saat panggilannya diterima.


"Lam, kamu kok nggak bilang-bilang sih, kalau rencana pernikahanmu dimajukan? Tau-tau udah nyari hari baik aja,"


"HAH!!! Maksudnya?" Nilam terkejut mendengar ucapan sang kakak yang to the point.


"Nikahnya siapa mba? Siapa yang nyari hari baik?"


"Lho, kata bapak nikahan kamu dimajukan? Bas udah ngomong sama bapak, minta dicarikan hari baik. Tadi juga paman Brata ke rumah, ngomongin soal itu. Kok kamu nggak cerita sama mba?"


"Sebentar, mba. Kok aku nggak tau apa-apa ya? Mba tau dari mana berita ini?" tanya Nilam bingung.


"Tadi pas paman Brata datang, kebetulan mba ada di rumah. Jadi tau deh obrolan mereka."


Nilam benar-benar tidak tahu berita yang menyangkut dirinya itu.


"Nanti aku telepon lagi ya mba, aku tanyain mas Bas dulu,"


Tanpa menunggu jawaban dari Diana, Nilam mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


Dadanya berdegup kencang mendengar berita yang disampaikan sang kakak.


Dengan tangan gemetar, ia segera menghubungi Baskara.


Terkejut, bingung, dan marah menjadi satu, menyulut emosinya. Ia ingin meminta penjelasan pada Bas, namun sayang panggilannya berulang kali tidak dijawab oleh laki-laki itu.


Nilam memutuskan menelpon kedua orang tuanya, ingin memastikan berita yang disampaikan sang kakak perempuan.


"Iya, nak. Tadi siang Bas nelepon bapak ngomongin soal pernikahan kalian. Terus nggak lama setelah itu, paman Brata datang kemari, untuk sama-sama mencari hari baik. Memangnya kenapa? Bukankah lebih cepat lebih baik?"


"Tapi Pak, mas Bas kenapa nggak ngomong sama aku lebih dulu?"


"Bagaimana dia mau ngomong, orang telepon dia kamu abaikan terus dari pagi?" sahut pak Indra dengan kekehan kecilnya.


"Masalah itu untuk diselesaikan, nak. Bukan ditinggal tidur. Nggak baik begitu, bapak nggak pernah ngajarin kamu untuk lari dari masalah," tutur laju-kaki itu lagi, memberi nasihat pada sang anak. Nilam hanya bisa diam, tidak berani menjawab ucapan ayahnya.


"Bukan bapak membela Bas, dan menyalahkan kamu. Tapi bapak mencoba mengerti bagaimana rasanya berada di posisi dia saat ini. Tidak mudah bagi seorang laki-laki berada jauh dari pasangan yang dicintainya. Pasti akan ada rasa curiga, dan pertengkaran nantinya."


"Entahlah pak, aku belum paham. Sudah dulu ya pak, aku mau istirahat dulu." Nilam meminta ijin untuk mematikan sambungan telepon, sebelum sang ayah melanjutkan kalimatnya.


🌟🌟🌟


Kenapa jadi begini? Kenapa semua di luar ekspektasinya?


"Lam, kenapa lagi?" Amanda kini bertanya dengan suara lembut. Ia mengusap bahu sahabatnya yang terlihat tertekan.


Nilam enggan menjawab. Ia masih larut dalam kebingungan dan ketidak pastian.


Tanpa terasa air mata gadis itu mengalir membasahi pipinya.


Amanda yang menyadari sang sahabat tengah bersedih, hanya bisa menemani tanpa banyak bicara. Ia juga berinisiatif mengambilkan Nilam segelas air, berharap bisa membuat sang sahabat meras lebih baik.


"Kenapa jadi gini sih, Nda? Semuanya kacau, tidak sesuai dengan rencana. Apa salah, kalau aku menolong orang yang hampir celaka di jalanan?" keluh Nilam pada sahabatnya.


"Aku nggak tau masalah kamu apa, Lam. Giman bisa aku kasih kamu saran?"

__ADS_1


Nilam menoleh, dengan wajah yang masih sembab, ia lalu menceritakan apa yang ia dengar barusan dari keluarganya.


"Coba kamu hubungi lagi Mas Bas-mu itu. Tanya baik-baik alasan dia memutuskan secara sepihak hal sepenting ini,"


"Udah aku telepon, Nda. Tapi dia kayak balas dendam sama aku. Panggilan aku nggak dijawab sama sekali sama dia. Bahkan chat aku aja nggak dibaca."


Nilam memang melewatkan panggilan baskara, bukan hanya sekali, namun berkali-kali. Sengaja gadis itu menghindar, sebab suasana hatinya masih buruk. Ia tidak ingin ada masalah baru lagi, jika meladeni kekasihnya dalam keadaan kesal.


"Coba sekarang ulangi lagi. Siapa tau tadi dia masih ada kesibukan. Ingat pakai kepala dingin."


Nilam mengangguk. Meraih kembali ponselnya dan menghubungi sang kekasih.


Kembali panggilannya diabaikan oleh Bas.


Namun tidak berselang lama, sebuah chat Nilam terima dari laki-laki itu.


💌 "Maaf sayang, mas masih ada urusan. Nanti mas telepon kalau sudah sampai kost ya,"


💌 "Mau ngomong sekarang!" balas Nilam.


Ponsel gadis itu langsung berdering, sesaat setelah pesannya dibaca oleh Baskara.


"Kenapa sayang?" tanya Bas dengan suara lembut.


"Mas ngapain nelepon bapak, minta dicarikan hari baik segera? Kita belum ada ngobrolin itu berdua mas! Kenapa mas Bas memutuskan semua sendiri? Mas anggap aku apa? Mas mikir nggak, aku setuju atau tidak?" cecar Nilam langsung tanpa basa basi.


"Maaf sayang,"


"Mas pikir ucapan maaf bisa merubah semuanya? Nggak mas! Ini kita belum nikah lho mas, mas udah buat keputusan secara sepihak seperti ini. Gimana nanti, kalau aku udah kamu ambil sebagai istri? Apa jangan-jangan suara aku nggak akan ada artinya dalam rumah tangga kita?"


"Sayang, nggak gituu. Dengerin dulu penjelasan mas. Mas akui mas salah karena sudah mengambil keputusan sendiri, tanpa diskusi dulu sama kamu. Tapi itu ada alasannya sayang ...."


"Alasannya karena aku diantar sama mas Pandu tadi pagi? Mas curiga kalau aku akan mendua, kembali ke cinta masa lalu aku? Begitu? Udah mas, aku capek. Aku mau istirahat. Kita nggak perlu ngobrolin apapun lagi, semua udah mas putuskan sendiri kan?"


Nilam langsung mematikan sambungan telepon dan menonaktifkan ponselnya agar tidak ada yang bisa mengganggunya sat ini.

__ADS_1


Itulah bahayanya kesalahpahaman. Sesuatu yang sebenarnya mudah dan sederhana bisa menjadi rumit dan penuh drama bila kita menghadapinya dengan emosi dan ego yang tinggi.


Semoga saja masalah yang dihadapi keduanya, membuat ikatan mereka menjadi semakin erat, bukan malah semakin menjauh.


__ADS_2