
Komunikasi, selalu menjadi senjata terampuh untuk menjaga sebuah hubungan agar tetap utuh. Kesetiaan, kepercayaan, kesabaran, adalah amunisi yang setiap pasangan harus miliki.
Begitupun Nilam dan Baskara yang harus menjalani hubungan jarak jauh. Menjadi tantangan tersendiri bagi mereka, menjaga ikatan agar tidak rapuh.
"Jaga diri baik-baik ya, ingat selalu berkabar," ucap Bas, saat Nilam mengantarnya ke bandara.
Gadis itu hanya mengangguk, tanpa bisa mengucap satu kata pun. Ia masih menikmati usapan lembut Bas, yang sebentar lagi akan meninggalkannya kembali ke luar kota.
"Jangan nangis, mas nggak tega ninggalin kamu jadinya," ucap laki-laki itu lagi, sembari mengusap bulir air mata Nilam yang mulai membasahi pipi.
"Kenapa mendadak gini sih, mas? Katanya dapet libur seminggu," keluh Nilam sambil tersedu. Tidak dapat gadis itu tahan lagi tangisnya.
"Namanya juga darurat, sayang. Mas juga maunya deket kamu aja, tapi mau bagaimana? Pekerjaan ini tanggung jawab mas. Sabar ya, demi masa depan kita," hibur Bas dengan senyum teduhnya.
Mereka berpelukan sangat erat, melupakan orang-orang disekitar yang hanya bisa tersenyum masam melihat interaksi keduanya.
"Ehem, bisa kali nggak usah bikin jomblo menangis?" protes Fandi mewakili perasaan teman-temannya.
"Iya nih, kita udah kayak lalat, nggak dianggap sama pemilik bumi," sahut Dika dengan senyum jahil.
Pasangan kekasih itu melepas pelukan, dengan rona merah menghiasi pipi Nilam. Ia baru sadar telah menjadi tontonan gratis teman-teman Baskara. Berbeda dengan pria berkulit coklat di depannya, yang terlihat cuek menanggapi sindiran sahabat-sahabatnya.
"Ka, titip Nilam ya," Bas menepuk pundak sahabatnya.
"Jangan titip sembarangan, Bas. Kamu tau sendiri Dika seperti apa, bisa-bisa si Nilam diembat sama dia," celetuk Fandi.
"Sembarangan kau! Aku juga liat-liat kali mau deketin cewek! Nggak semua cewek aku godain!" ketus Dika.
Bas tertawa ringan.
__ADS_1
"Aku percaya kok, kalian berdua tolong jagain dia di kota ini ya, kalau ada apa-apa kabari aku," pinta Baskara menatap kedua sahabatnya secara bergantian.
"Sayang, nanti kalau perlu sesuatu atau mau minta bantuan, hubungi mereka berdua aja ya," ucap Bas pada Nilam. Tangannya masih setia mengusap pucuk kepala kekasihnya.
"Hmm," sahut Nilam singkat. Gadis itu masih belum rela berpisah dengan laki-laki yang sudah mengikatnya.
🌟🌟🌟
Nilam kembali ke kostan diantar oleh Dika. Sementara Fandi, sebelumnya memang membawa kendaraan sendiri menuju bandara, karena hendak menjemput tamunya yang baru tiba.
Keduanya masih nampak canggung, sebab meski mereka berasal dari desa yang sama, Nilam tidak terlalu punya banyak teman di desanya. Gadis itu terkenal pendiam, dan merupakan anak rumahan.
"Ehm, mau langsung ke kost?" tanya Dika memecah keheningan.
Nilam menoleh, sadar jika yang diajak bicara adalah dirinya, karena tidak ada lagi orang lain di dalam mobil.
"Memangnya mas Dika ada keperluan lain?" lanjut gadis itu lagi.
"Nggak. Nggak ada. Cuman mastiin aja, barangkali kamu mau ke mana dulu gitu, ada yang mau dicari. Mumpung kita masih di jalan,"
"Nggak ada mas, aku nggak pengen cari apa-apa."
"Ok," sahut Dika lagi.
Kembali hening.
Nilam asik dengan dunianya, menikmati kerinduan yang sudah terasa menyiksa, meski perpisahannya dengan Bas, baru beberapa menit berlalu.
Keberangkatan Bas yang mendadak, membuat beberapa rencana mereka menjadi batal.
__ADS_1
Larut dalam lamunan, tanpa Nilam sadari mobil yang ditumpanginya sudah memasuki wilayah kostan.
"Lam, di gang apa kostanmu?" tanya Dika mengejutkan.
"Ah!?"
"Kostanmu, dimana?"
"Oh, di gang xx," sahut gadis itu sembari mengenali sekitar.
"Di depan belok kiri, mas."
"Mobil bisa masuk?" tanya Dika lagi.
"Bisa, tapi agak susah nanti muternya. Atau parkir di depan aja ya mas,"
"Ok."
Nilam bersiap, membenarkan posisi duduknya, saat Dika sudah memelankan laju mobilnya.
"Mas Dika, makasih banyak ya udah anter aku. Sorry aku sama mas Bas ngerepotin." ucap Nilam saat hendak turun.
"Sante aja. Aku balik ya, nanti kalau ada apa-apa hubungi aku atau Fandi."
"Mas Dika nggak mampir dulu?"
"Kapan-kapan aja, masih ada urusan soalnya."
"Ya sudah, hati-hati ya mas. Sekali lagi makasih." Nilam turun dari mobil Dika, dan menunggu pemuda itu melajukan mobilnya. Baru setelah itu ya melangkah memasuki gang di mana kostannya berada.
__ADS_1