
"Sayang," panggil Bas menatap ke arah sang kekasih.
Gadis yang sebelumnya duduk di sofa seorang diri itu pun menoleh.
"Iya, Mas?"
"Sini," rengek laki-laki berkulit coklat itu.
Nilam bangkit dan mendekati ranjang. Ia duduk di kursi plastik seperti biasa.
"Ada apa?" tanya gadis itu.
"Kenapa diem aja dari tadi?" Bas balik bertanya.
"Trus aku mesti apa donk?" sahut Nilam lesu.
Bas menarik nafas berat. Menatap dalam gadis yang ada di hadapannya. Sepertinya ia harus menyediakan sabar lebih banyak lagi, untuk kekasihnya itu.
"Gimana soal obrolan kita tadi? Ada yang masih mengganjal di hati kamu?" tanya Bas akhirnya. Ia membahas kembali obrolan serius yang terjadi bersama kedua ayah mereka beberapa saat lalu.
Sebelum Pak Indra dan Pak Brata pulang, mereka mengajak keduanya berbincang serius saat Nilam baru tiba di rumah sakit. Mereka membahas hubungan keduanya yang belum jelas. Dua laki-laki paruh baya itu memberikan begitu banyak petuah baik untuk Bas maupun Nilam. Meminta mereka memikirkan yang terbaik untuk kedua keluarga, dan tidak mempermainkan pernikahan.
__ADS_1
"Nggak ada, sih Mas. Hanya saja aku masih kepikiran sama Bibi. Aku takut beliau jadi nggak suka sama aku," ucap Nilam jujur.
"Satu sisi aku ingin acuh, mas. Nggak peduli dengan apa yang merek lakukan. Fokus sama apa yang aku mau, fokus sama apa yang sudah kita rencanakan. Tapi di sisi lain, aku nggak bisa abai begitu saja. Biar gimanapun juga, Bibi Rahma tetaplah ibu kandung Mas Bas. Aku tau mas pasti sangat menyayangi dia. Aku nggak mau dianggap sebagai perusak hubungan Mas sama ibu kandung mas sendiri," terang Nilam.
"Nggak ada yang dirusak, Sayang. Apa yang disarankan ayah mas tadi, itu adalah yang terbaik. Toh kita nggak benar-benar memutus hubungan dengan ibu. Hanya memberi batasan apa yang boleh dan nggak boleh dilewati oleh kita maupun ibu sendiri," sahut Bas berusaha meyakinkan Nilam.
"Percaya sama mas, semua akan baik-baik saja. Nggak akan ada yang menyalahkan kamu dengan keputusan yang kita ambil. Lagi pula, untuk apa peduli dengan omongan orang? Toh yang menjalani kita berdua, kan? Segala sakit, pahit, dan terpuruknya, kita yang tau. Jadi belajarlah untuk menutup mata dan teling dari omongan orang luar," bujuk Bas sembari menggenggam tangan Nilam.
"Iya, Mas, aku akan belajar untuk itu," sahut Nilam akhirnya, setelah diam beberapa saat.
Dengan tersenyum Nilam membalas genggaman tangan kekasihnya dengan tidak kalah erat, membalas tatapan Bas yang terlihat begitu mendamba.
Ada perasaan lega yang merayap di hati gadis itu. Akhirnya kegelisahannya selama ini menemukan penawarnya. Ia kini semakin yakin melangkah, setelah begitu banyak masukan dan saran yang didapat dari keluarga dan sahabatnya.
"Boleh cium nggak sih," celetuk Bas, membuat Nilam mendongak dan melepas genggaman tangannya dengan sedikit menyentak. Terkejut dengan apa yang ia dengar, dan itu keluar dari mulut sang kekasih.
"Aauu," belum sempat gadis itu protes, jeritan kekasihnya membuat Nilam panik.
"Mas kenapa? Apa yang sakit?" tanyanya sembari bangkit dan mendekat ke arah Bas. Ia melupakan ucapan nakal Bas sebelumnya.
Tangan yang terbebas dari jarum infus itu menarik Nilam, hingga membuat gadis itu terjatuh. Dan kesempatan itu Bas gunakan untuk mencuri ciuman di pipi seputih pualam milik kekasihnya. Sontak itu membuat Nilam terkejut dan merasa jengah. Dengan kesal ia mencubit perut Bas yang masih terbalut pakaian rumah sakit, hingga Bas benar-benar menjerit kesakitan.
__ADS_1
"Tau tempat woee!" Suara dari ambang pintu membuat Nilam segera menjauh dari ranjang Baskara. Ia tidak bisa menutupi rasa malunya, seperti pasangan mesum yang ketahuan warga.
"Tau, kalian baru baikan, tapi tahan dulu lah nafsunya. Ini rumah sakit, bukan kamar hotel," ucap Satria sambil melangkah mendekat ke ranjang Bas.
Nilam semakin dalam menundukkan kepalanya. Jika bisa, ingin rasanya ia menghilang dari tempat itu, saat itu juga.
"Ngapain kamu ke sini? Ganggu aja!" kesal Bas, tidak peduli dengan ocehan sang adik.
"Ck, sekarang aja, bilang aku pengganggu. Kemarin siapa yang urus waktu Mba Nilam belum datang?" ejek Satria membuat Bas terdiam. Ekor mata pemuda itu melirik ke arah Nilam yang masih menunduk. Tahu jika Nilam merasa kurang nyaman dengan candaannya, Satria mengalihkan topik pembicaraan. Ia sengaja membahas hal-hal di luar hubungan keduanya, berharap ras canggung Nilam bisa hilang. Namun tetap saja, ujung-ujungnya pembahasan mereka kembali ke soal hubungan keduanya.
Satria merasa senang saat tahu mereka sudah mengambil keputusan bersama dan melanjutkan rencana yang sempat tertunda sebelumnya.
"Semoga kalian selalu diliputi kebahagiaan," doa tulus Satria untuk kakak dan calon kakak iparnya itu.
^_________^^_________^^_________^
Kalau si bar-bar ketu sama si arogan, kira-kira menang yang mana ya?
penasaran?
Yuk diintip 🤩🤩🤩
__ADS_1