
Rindu itu menyiksa, jika kita menempatkannya pada pikiran. Namun akan menjadi penyemangat, jika kita mendekapnya dalam kehangatan hati.
Nilam mencoba menikmati hubungan jarak jauh yang saat ini dirinya dan Baskara jalani. Menjadikan rasa percaya dan setia, sebagai penjaga cinta keduanya agar tetap membara.
Namun ia tidak bisa berbohong, cintanya yang semakin mengakar kuat, acap kali menciptakan rasa takut dan kegelisahan. Terlebih rindu yang coba ia peluk di dalam hati perlahan mulai meraba pikiran, hingga ia menjadi sering terlihat murung.
"Kamu kenapa sih, Lam? Kayak nggak ada semangat hidup gitu, aku liat belakangan ini?" protes Amanda yang merasa jengah melihat Nilam tanpa semangat.
"Entahlah, Nda. Aku terus kepikiran sama mas Bas," cicit Nilam mengungkap keresahan hatinya.
"Kangen? Kenapa nggak ditelepon aja?"
"Aku nggak berani ganggu dia sering-sering, Nda ... Dianya sibuk." Nilam sudah hampir menitikkan air mata, diingatkan akan keadaan hubungannya saat ini.
Dua Minggu sudah mereka menjalani LDR, komunikasi mereka hanya sebatas chat, itupun singkat dan jarang. Bas sangat sibuk dengan proyeknya yang sempat bermasalah.
"Ya sudah, sabaaar. Doakan biar semua cepat selesai," saran Amanda.
__ADS_1
"Aku udah berusaha sabar, Nda ... Tapi pikiran burukku selalu saja datang. Aku takut," cicit Nilam. Bukan tidak percaya pada Baskara, hanya saja pengalaman masa lalunya membuat ia mudah terpengaruh pikiran negatif.
"Mangkanya jangan terus dipikirkan, Lam."
"Gimana aku nggak mikirin coba, Nda ... Dia selalu muncul di kepala aku. Kalau lagi kerja sih, aku bisa mengalihkan pikiran, tapi saat-saat seperti ini?" Nilam tidak dapat melanjutkan ucapannya. Air mata yang menetes semakin deras, membuat tangannya sibuk menghapusnya.
"Kenapa kamu nggak isi waktu luangmu untuk cari kegiatan lain aja?" saran Amanda akhirnya setelah diam beberapa saat.
Nilam menatap sang sahabat.
"Kegiatan apa donk?"
Dan akhirnya setelah beberapa hari memikirkan ucapan Amanda, Nilam memutuskan membeli sebuah mesin jahit untuk ia gunakan memulai usaha baru. Meski sempat berdebat dengan Baskara, namun akhirnya gadis itu mampu meluluhkan hati kekasihnya itu.
"Tapi kamu nggak boleh kecapekan, sayang. Mas nggak mau kamu jatuh sakit nantinya. Kalau sampai bikin kamu sakit, mas akan jual mesin jahit itu," ancam Baskara.
"Iya mas, nggak akan sakit kok. Percaya sama aku," ucap Nilam meyakinkan.
__ADS_1
"Bener cuman untuk ngisi waktu luang, kan? Kamu nggak lagi ada masalah keuangan, kan?" tanya Bas lagi, memastikan.
"Iya Mas, biar nggak gabut aja," sahut Nilam.
"Ya sudah, nanti mas minta tolong Fandi atau Dika untuk bantu kamu di sana."
Setelah mendapat restu dari Baskara, Nilam segera menemui pemilik kostan untuk meminta ijin.
Atas ijin pemilik kostan, Nilam dibantu Amanda merubah teras di depan kamarnya menjadi sebuah tempat menjahit. Dika dan Fandi juga membantu memasang tirai bambu di depannya, agar cahaya matahari tidak bisa masuk.
"Makasih ya mas Fandi, mas Dika, udah mau bantuin cari tirai trus masangin di sini, maaf aku sering ngerepotin kalian," ucap Nilam, saat pekerjaan mereka sudah selesai.
"Sama-sama Lam. Kami juga seneng, dikasi sangu gratis di sini. Ya nggak Ka?" sahut Fandi.
"Iya Lam, jangan sungkan-sungkan. Kalau ada apa-apa telepon aja. Aku atau Fandi pasti usahain untuk datang ke sini."
"Iya, mas."
__ADS_1
Setelah semua pekerjaan selesai, dan dua sahabat Baskara pamit, Nilam mengajak Amanda masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.