CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 109


__ADS_3

Dua hari setelah obrolan Baskara dengan pak Indra, Nilam yang kebetulan mendapat jatah libur ikut menyusul sang kekasih.


Awalnya gadis itu terkejut, saat sang ibu menanyai kesiapan dirinya untuk berumah tangga.


Nilam tidak menyangka, jika Bas sudah mengutarakan niat itu pada sang ayah serta kakak laki-lakinya.


"Jangan memarahi dia, Lam. Nak Bas itu punya niat baik dan bertanggung jawab lho. Tidak banyak laki-laki yang berani mengutarakan niatnya pada ayah dari wanita yang dicintai," nasihat Bu Sukma saat melihat raut kesal Nilam, beberapa waktu lalu.


"Harusnya kan dia ngomong dulu sama aku, Bu. Aku siap apa nggak? Mau apa nggak? Bukan malah datang ke bapak dulu," Nilam memanyunkan bibirnya.


"Itu karena dia menghargai ayahmu. Dia minta pertimbangan dari ayah, apa yang harus dia lakukan. Sudah, sebaiknya kamu telepon dia, suruh ke sini. Nanti kita makan malam bersama. Nanti kamu bisa nanya dia sepuasnya, apa yang mengganjal di hati kamu."


Dan di sinilah kini Nilam dan Bas duduk berdua. Di kursi yang sama tempat Baskara dan pak Indra berbincang dua hari yang lalu.


Nilam masih menekuk wajahnya, menatap sinis ke arah sang kekasih.

__ADS_1


"Dari tadi mas liat, muka kamu nggak sedap dipandang, sayang. Ada apa?" Bas dengan lembut bertanya pada gadisnya.


Nilam menoleh, "kenapa udah ngomongin nikah sama bapak, sama mas Surya juga, padahal kita belum bahas soal itu dengan serius? Kalau aku bilang belum mau nikah deket-deket ini gimana? Memangnya mas nggak malu?"


"Jadi mas disuruh datang, untuk diomelin?"


"Tau," Nilam memalingkan wajahnya menatap ikan-ikan yang tidak pernah lelah meliukkan siripnya. Tangannya terlipat di depan dada, dengan wajah kesal yang masih kentara.


Bas menyunggingkan senyum manis di bibir. Laki-laki itu sama sekali tidak tersinggung dengan sikap Nilam yang terkesan kurang sopan. Sikap yang jarang gadis itu tunjukkan di hadapan orang lain.


Nilam diam, mencoba mengulang memori yang sempat ia lupakan.


"Ya kan aku kira saat itu mas cuman lagi kebawa emosi, nggak benar-benar mau dari hati mas Bas sendiri." elak Nilam, tidak mau disalahkan.


"Ya nggak lah. Ngapain mas emosi? Lagian masa mau nikahi kamu nggak dari hati?" sahut Bas lagi.

__ADS_1


"Tapi mas, aku belum siap menikah dalam waktu dekat ini. Aku masih ingin kerja, masih ingin mengumpulkan bekal, agar tidak merepotkan orang tua nanti untuk biaya pernikahan kita. Aku mau kita memikirkan semua itu matang-matang mas," terang Nilam dengan wajah memelas. Ia takut bas tersinggung dan salah mengerti maksud ucapannya.


Bas kembali mengulas senyum. Sebenarnya ia pun berpikir hal yang sama, tidak ingin membebani siapapun untuk acara pernikahannya kelak. Itu sebabnya ia sudah menyiapkan tabungan untuk pernikahannya. Namun masalahnya sekarang, ada hal lain yang harus ia rencanakan, dan itu baru terencana kemarin. Soal pembangunan rumah.


Bas ragu apakah harus membahas masalah ini dengan Nilam, atau tidak. Tapi jika tidak dibahas, suatu saat pasti akan menjadi bom waktu juga untuknya.


"Sayang, sebenarnya ada hal lain lagi yang saat ini tengah menganggu pikiran mas,?


"Apa?"


"Kemarin, sebelum mas datang ke mari, bapak datang ke rumah. Seperti biasa kami ngobrol. Kamu tau, bapak nyaranin mas buat bikin rumah dulu sebelum kita menikah. Katanya, akan lebih nyaman jika kita punya hunian sendiri, dari pada tinggal satu atap dengan orang tua. Menurut kamu gimana?"


Nilam termenung. Sebenarnya itu juga yang ia pikirkan, namun gadis itu merasa tidak enak hati mengutarakan hal itu pada Bas. Takut membebani kekasihnya.


__ADS_1


__ADS_2