
Pandu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah dua jam lebih ia duduk di kafe tempatnya bertemu dengan Nilam, baru lah ia meninggalkan tempat itu.
Rentetan kalimat yang keluar dari mulut mantan kekasihnya, membuat Pandu tersadar jika selama ini ia tidak pernah bersyukur dengan apa yang dia miliki.
Terlahir dari keluarga berada, menjadi anak laki-laki yang akan mewarisi sebagian besar kekayaan keluarga Wijaya, membuat setiap keinginannya selalu terpenuhi.
Mungkin itu yang membuatnya menganggap remeh hubungannya bersama Nilam dulu. Sebab ia yakin, jika Nilam pasti akan kembali padanya, karena dia menginginkan gadis itu. Ia lupa, tidak setiap keinginan harus terpenuhi, terlebih ia sudah melakukan kesalahan fatal.
Ia merasa sangat frustasi, ketika wanita yang dicintainya benar-benar meninggalkannya. Nilam sama sekali tidak memberinya kesempatan. Membuat ia semakin menyesal dan melimpahkan semua kesalahan pada Delvia dan Laksmi, sang kakak.
Sikapnya pada dua wanita yang dulu begitu dekat dengannya itu, berubah 180°. Pandu yang ramah dan murah senyum, hilang dalam sekejap. Berganti sosok dingin yang tak tersentuh.
Terlebih pada Delvia, yang kini sudah menyandang status istrinya. Laki-laki itu sama sekali tidak pernah memperdulikannya. Komunikasi mereka hanya masalah transfer uang, dan kunjungan ke dokter kandungan. Selebihnya, hanya Delvia yang berusaha mendekati Pandu, tanpa ada timbal balik laki-laki itu. Bahkan di depan orang tuanya pun, sikap Pandu sama sekali tidak berubah. Hanya saat orang tua Delvia berkunjung ke apartemennya saja, laki-laki itu menunjukkan senyum tipisnya. Dan itu pun sangat jarang terjadi.
***
"Pandu, kamu dari mana saja?" Delvia menyambut suaminya yang baru masuk ke dalam apartemen.
Wanita dengan perut membuncit itu terlihat berbeda kini.
Tidak lagi terlihat wajah cerah penuh keanggunan, yang ada hanya wanita berbadan dua dengan tatapan sendu yang menghiasi wajah cantiknya.
Sifatnya pun perlahan berubah seiring berjalannya waktu. Tidak lagi nampak keangkuhan.
"Kafe." Sahut Pandu singkat, sambil berlalu. Ia sama sekali tidak menatap wajah istrinya.
__ADS_1
Delvia menarik nafas pedih, mengusap perutnya yang membesar dengan hati yang teriris sakit.
Beberapa saat lalu, karyawan suaminya datang. Mengira Pandu berada di apartemen, sebab ponselnya tidak bisa dihubungi. Namun jawaban laki-laki itu justru membuatnya curiga.
"Tapi tadi karyawan kafe datang, menanyakan kamu. Katanya kamu nggak bisa dihubungi." Tuntut Delvia, mengekor di punggung suaminya.
"Sudah ketemu tadi." Pandu berlalu menuju satu-satunya kamar yang ada di apartemen itu. Kemudian ia menutup pintu dengan keras, menciptakan suara berdebum yang mengejutkan Delvia.
Wanita itu hanya bisa mengusap dadanya, mencoba melebarkan sabar. Ia sama sekali tidak menyangka pernikahan impiannya membawa ia dalam kesedihan berkepanjangan. Laki-laki yang ia rebut dengan cara curang itu, benar-benar membuktikan ucapannya.
"Aku akan menikahimu. Menjadi suami seperti yang kamu dan mbak Laksmi mau. Aku juga akan memenuhi kebutuhanmu dan anak itu, jadi kamu tidak perlu bekerja lagi. Cukup diam dan menjaga agar bayi itu lahir dengan selamat. Tapi ingat, hubungan suami istri kita hanya karena bayi itu, bukan karena aku mencintaimu. Jadi jangan berharap aku akan memperlakukan kamu selayaknya suami pada istrinya. Jangan mencampuri urusanku, jika kamu tidak ingin menyesal." Ucap Pandu dengan nada datar, saat ia meminta kepastian dari laki-laki itu.
"Kuat-kuat ...." Lirihnya menahan sesak yang mencengkeram dada mengingat semua yang terjadi.
Meski menyisakan rasa penasaran kemana Pandu pergi, namun Delvia hanya bisa memendamnya dalam hati. Tidak mungkin ia berani melanggar larangan Pandu, untuk tidak mencampuri urusannya.
Delvia menatap pintu yang sudah lebih dari tiga puluh menit tertutup rapat itu. Ingin masuk, tapi ia takut akan kemarahan Pandu. Namun mendam lebih lama lagi, rasanya ia tidak sanggup. Ia ingin mengutarakan keinginan yang selama ini dipendamnya.
Setiap malam, ia harus berteman air mata, menahan keinginan yang sulit untuk di hentikan. Sungguh ia tersiksa dengan semua perasaan itu.
Beberapa hari ini, ia sangat menginginkan Pandu ada di sampingnya. Ia ingin bermanja dengan laki-laki itu. Ingin melakukan jalan santai di sore hari, dengan Pandu yang menemani di sampingnya, ingin terlelap dalam dekapan hangat pandu, ingin merasakan usapan lembut laki-laki itu pada perutnya, namun itu semua harus ia pendam seorang diri. Jangankan untuk mengutarakan isi hatinya, sekadar untuk bertegur sapa saja rasanya begitu sulit.
Pandu seolah tidak tersentuh olehnya. Bahkan laki-laki itu setiap malam tidur di sofa, demi menghindari berdekatan dengannya.
Apartemen Pandu hanya memiliki satu kamar, sehingga mau tidak mau, mereka harus berbagi kamar berdua. Namun laki-laki itu masuk hanya untuk keperluan membersihkan diri dan berganti pakaian. Selebihnya, ia memilih melakukan aktifitas di luar apartemen.
__ADS_1
"Sabar ya nak, papa kamu lagi sibuk, banyak kerjaan, kamu sama mama dulu ya sayang," Delvia mengusap perutnya dengan lembut. Tanpa terasa air matanya menetes membasahi pipi wanita itu.
"Kapan jadwal kontrol ke dokter?" Delvia yang tengah meratapi hidupnya, tersentak kaget saat mendengar suara datar Pandu, yang ternyata sudah duduk di sampingnya.
"Ah, mmm mestinya kemarin,"
"Apa?" Jawaban lirih Delvia tidak terdengar jelas di telinga Pandu.
"Mestinya kemarin." Sahut wanita itu dengan suara yang lebih keras.
"Kamu ke dokter sendiri? Kenapa nggak bilang seperti biasanya?"
Wanita itu menggeleng.
"Maksudnya, kamu melewatkan kontrol ke dokter kandungan begitu?" Suara yang semula datar, naik satu oktaf membuat Delvia merasa takut.
"Aku takut kamu masih sibuk ...."
"Sudah aku bilang, bukan? Urusan dia itu menjadi tanggung jawabku. Dia anakku, jadi jangan pernah kamu melupakan hal sederhana seperti ini lagi. Bersiap lah, kita ke dokter kandungan hari ini." Titahnya, namun tanpa ada kehangatan sedikit pun di sana.
Delvia masih tidak bergeming. Ia menatap sosok di sampingnya dengan hati tidak karuan.
"Tunggu apa lagi?" Sentak Pandu, membuat Delvia terkejut.
"I iya," sahutnya tergagap, lalu bangkit menuju kamarnya untuk bersiap.
__ADS_1
^_________^^_________^^_________^