CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 76


__ADS_3

Adakah kata sesal hadir di awal? Tentu tidak.


Sebab penyesalan adalah ketidakberdayaan kita mengulang waktu. Ketika kata andai selalu terbawa di setiap helaan nafas.


Pandu tidak bisa lagi mengelak, ketika seluruh anggota keluarga menentukan hari pernikahannya dengan Delvia.


Sempat menolak, mencoba menghindar dari tanggung jawab, namun kemudian ia sadar, bukan hanya dirinya yang akan terkena imbas bila ia melakukan kesalahan lagi. Keluarganya pun pasti akan mendapat cibiran.


Akhirnya dengan terpaksa ia menerima semua konsekuensi dari apa yang pernah ia mulai. Meski dengan berat hati, dan berharap ada keajaiban yang mampu merubah mimpi buruknya itu.


Satu harapannya, semoga Nilam bisa memaafkan semua dosa yang telah ia lakukan.


Dan serakahnya lagi, dia masih berharap hubungannya dengan Nilam baik-baik saja, setelah semua yang ia lakukan selama ini.


Tapi sayangnya harapan itu sia-sia saat Nilam datang ke rumah sakit, dan melihat semua kejadian yang ia sembunyikan selama ini.


Sialnya lagi, ia tidak menyadari kehadiran gadis itu.


Berantakan semua rencana yang ia susun. Ia yang berniat menemui Nilam dan menceritakan semua seperti versinya, harus dibuat kalang kabut mengejar sang kekasih, namun hasilnya nihil. Nilam tidak mau menemuinya.


"Aku akan menikahi kamu, demi anak dalam kandunganmu itu Via, tapi jangan berharap aku akan memperlakukanmu selayaknya istri pada umumnya." Ucap Pandu saat suasana di kamar rawat itu sepi. Hanya dia yang menjaga Delvia kala itu.


"Apa maksud kamu Pandu?"


Delvia yang masih terbaring di ruang perawatan rumah sakit, menatap nanar laki-laki yang berdiri di samping ranjangnya itu.


Laki-laki yang ia cintai, yang ingin ia miliki bagaimanapun caranya.


"Aku hancur karena ulahmu. Aku harus kehilangan wanita yang aku cintai karena kelicikanmu ...." Pandu baru saja kembali dari kota N. Kegagalannya menemui Nilam, membuat ia semakin marah terhadap keadaan.


"Kamu juga menikmati dosa yang kita lakukan! Jangan munafik. Itu bukan kesalahanku saja." Kelit Delvia, tidak ingin di salahkan seorang diri.


"Iya, aku akui, aku bersalah. Untuk itu aku akan menerima hukumanku,"


"Tapi kamu juga harus menerima hukumanmu, bukan?"


Seketika senyum yang sempat terkembang di bibir pucat wanita itu lenyap.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Hukuman apa? Jangan lupa, ada darah daging keluarga Wijaya di dalam rahimku Pandu! Jangan melakukan sesuatu yang bisa mengancam keselamatan anak ini!"


Wajah datar Pandu, membuat Delvia merasa ketakutan. Sorot mata laki-laki itu seakan mampu merobek setiap bagian tubuhnya.


"Aku tau, untuk itu aku berada di sini. Tapi anak itu tidak akan bisa menyelamatkan kamu dari hukumanku nanti."


"Jangan macam-macam Pandu! Aku akan adukan semua ini pada keluargamu!" Delvia ingin meraih tangan laki-laki itu, namun tentu pergerakannya terbatas sebab jarum infus yang tertancap di tangannya.


Pandu hanya mengangkat bahunya acuh, lalu meninggalkan Delvia yang ketakutan seorang diri di dalam kamar rawatnya.


***


Setelah gagal menemui Nilam di kostannya beberapa hari lalu, Pandu tidak patah semangat. Ia memberanikan diri datang ke rumah kedua orang tua gadis itu. Namun sayang usahanya menemui Nilam selalu gagal.


Saat ia datang pertama kali, kedua orang tua Nilam masih menerimanya dengan baik, meski mereka menolak membantunya bertemu gadis itu. Sementara kedatangan berikutnya, ia harus menerima amukan dari Damar, adik bungsu Nilam yang kebetulan ada di rumah saat itu. Dan meski ia sudah mengalami kekerasan tanpa perlawanan, usahanya tetap gagal. Damar mencegahnya menemui Nilam.


"Jangan menemuinya lagi. Cukup kamu membuat dia terluka dan terhina karena kelakuanmu. Laki-laki sepertimu tidak pantas untuk kakakku." Damar yang hanya tahu pengkhianatan Pandu saja sudah semarah itu, bagaimana kalau ia tahu bagaiman keluarga Wijaya memperlakukan sang kakak selama ini?


Pandu hampir menyerah, memasrahkan hubungan yang ia yakini masih bisa dipertahankannya itu, mengambang tanpa kepastian. Namun rasa cinta dan penyesalan yang ia rasa, membuat hatinya seakan menolak untuk berhenti berjuang.


"Cobalah mengikhlaskan semua yang terjadi, jangan sampai kamu menyesal untuk yang ke dua kali." Nasihat tuan Wijaya, saat Pandu pulang ke kota N, setelah gagal menemui Nilam yang kedua kalinya.


"Tapi kamu menanam benih dalam rahim wanita lain! Jangan egois Pandu! Jangan memikirkan kebahagiaanmu sendiri!" Tuan Wijaya merasa jengah dengan sikap Pandu yang kekanakan.


Laki-laki itu menghela nafas berkali-kali, mencoba menetralkan kekesalan yang bergumul di hatinya.


"Temui Nilam sekali lagi, tapi bukan untuk meminta dia kembali. Temui dia dan keluarganya untuk meminta maaf, karena kamu sudah menyakiti dan mengecewakan mereka."


Pandu menggeleng, merasa tidak sanggup melakukan hal itu.


" Coba lah menerima kenyataan, Pandu. Yang harus kamu pikirkan sekarang adalah Delvia dan anak dalam kandungannya. Jangan sampai calon penerus keluarga kita kenapa-kenapa, karena sikap kamu yang kurang baik terhadap Via."


***


Nilam sudah siap dengan celana jins dan jaket yang membalut tubuh mungilnya. Hari ini ia diantar Baskara akan pergi ke kota D, untuk memulai pekerjaan barunya.


Kedua orang tuanya sempat mencegah gadis itu kembali bekerja ke luar kota, namun Nilam meyakinkan keduanya agar mengijinkan dirinya kembali merantau.

__ADS_1


Kakak serta kakak iparnya ikut datang, melepas kepergian gadis itu kembali.


Mereka silih berganti memeluk Nilam, yang tubuhnya sedikit lebih kurus dari sebelumnya.


"Jaga diri baik-baik di sana. Jangan banyak pikiran." Ucap Dian sembari mengusap lembut rambut adiknya.


"Hati-hati di sana ya Lam, jangan mikirin hal yang nggak penting. Kalau ada apa-apa, hubungi kami." Citra pun memberi pesan serupa pada gadis itu.


"Kalian nasehatin mba Nilam, kaya dia mau pergi berperang aja. Dia nggak keluar negeri, masih satu pulau sama kita. Lagian juga ada mas Bas yang jagain, amanlah pasti mba ku di sana ...." Ocehan Damar membuat semua mata menatap pemuda itu.


"Om Amar nggak tau orang lagi terharu apa? Merusak suasana aja," suara keponakan Nilam yang paling besar memecah tawa di ruang keluarga rumah itu.


Wajah cemberut si gadis kecil, benar-benar menampakkan kekesalan terhadap paman bungsunya itu.


"Kalian nggak usah khawatir, aku pasti baik-baik aja." Ucap Nilam menenangkan keluarganya.


Baskara yang melihat itu, hanya tersenyum tipis, meski dalam hatinya terselip rasa iri melihat kehangatan yang tidak pernah ia rasa hingga detik ini.


"Bas ... Titip Nilam ya, tolong jaga di baik-baik." Citra menghampiri baskara yang duduk di sofa bersama pak Indra.


"Iya mba, tenang aja ... Aku bakal jaga Nilam dengan nyawaku." Sahutnya dengan kekehan kecil.


"Cieeeee ...."


Keluarga Nilam kompak menggoda laki-laki itu, membuat wajah Baskara memerah hingga ke daun telinganya.


"Dijaga dengan nyawa nggak tuuuhh, bahagianya mba kuuu punya calon suami yang seperti mas Bas." Kembali suara Damar membuat semua orang tertawa kecil.


"Apaan sih kamu!" Ketus Nilam tidak suka. Ia merasa tidak enak hati terhadap Baskara, mendengar godaan keluarganya.


Belum tentu Baskara nyaman bukan, digoda seperti itu.


"Sudah, jangan godain mereka terus." Ayah Indra yang sejak tadi hanya diam memerhatikan anak menantunya sibuk saling menggoda, ikut membuka suara.


"Permisi ...."


Suara dari luar rumah mengalihkan fokus mereka.

__ADS_1


Suasana seketika hening, ketika mereka melihat sosok yang berdiri di ambang pintu.


__ADS_2