CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 145


__ADS_3

Langit-langit kamar bercat putih, menjadi pemandangan pertama yang Baskara lihat, ketika pertama kali matanya terbuka. Ia hanya bisa meringis, ketika merasakan rasa sakit yang meriap menyapa sekujur tubuhnya. Kepalanya terasa berat. Ada perih di sekitar lutut dan siku, dan di beberapa bagian tubuhnya yang lain. Ia juga merasa sedikit sulit bernafas, dan merasa ada perban yang menempel di dekat matanya.


Baskara sama sekali tidak berani menggerakkan lebih banyak lagi anggota badannya yang lain, takut merasakan sakit yang lebih keras lagi. Meski rasa penasaran begitu kuat mencengkeram hatinya.


Laki-laki berkulit coklat itu hanya bisa memejamkan mata dengan helaan nafas berat, ketika kilasan kejadian mengerikan yang ia alami kembali menari di pelupuk mata.


Ia melajukan kuda besinya dengan kecepatan tinggi. Kondisi tubuhnya yang dalam pengaruh alkohol kala itu, tidak dapat mengontrol laju motor yang ditungganginya menabrak pohon mahoni di pinggir jalan dekat perbatasan desa.


Bukan hanya pohon mahoni saja, kuda besinya juga membabat semak belukar di sekitarnya sebelum akhirnya terjatuh dan ringsek. Sementara Baskara, laki-laki itu sudah lebih dulu terpental hingga tidak berdaya di pinggir jalan.

__ADS_1


Mengingat semua itu, Baskara hanya bisa tersenyum kecut. Bolehkah ia tidak bersyukur atas nafas yang masih Tuhan sumbangkan untuknya? Rasanya sia-sia ia bertahan, jika satu-satunya cita-cita yang ia miliki tidak mampu ia gapai dan ia wujudkan dalam hidup. Untuk apa ia bernafas? Toh tidak ada yang mengharapkan kehadiran dirinya di bumi ini.


"Mas." Terdengar suara yang sangat ia rindukan, menyapa gendang telinganya. Ia tidak berani menoleh. Takut, jika itu hanya halusinasinya saja.


"Mas Bas udah sadar? Mas, ayo buka matanya lagi!" Kembali suara itu mengalun, kali ini dengan sedikit guncangan di lengan kanannya.


Baskara meringis menahan sakit, tapi ada rasa senang ketika sebuah harapan perlahan muncul di benaknya. Boleh kan dia berharap? Ia membuka mata dan memberanikan diri melirik ke arah sumber suara. Benar saja, sosok yang selama ini hampir membuatnya gila, tengah memandang ke arahnya dengan mata sembab dan berair.


Baskara tersenyum dan meringis disaat bersamaan. Ia merasa sangat senang, karena Nilam ada di sampingnya kini. Dan dari reaksinya, dapat ia pastikan kalau gadis mungil itu masih sangat mencintainya. Namun tubuhnya yang masih penuh luka, membuat Bas harus menahan sakit saat tubuh Nilam menubruk dan memeluknya dengan erat.

__ADS_1


"Kenapa bisa begini, Mas? Apa yang Mas Bas sedang lakukan ini?" tanya Nilam masih terus menangis.


"Mas tau nggak sih, Mas udah bikin aku ketakutan setengah mati dari kemarin? Jangan begini, Mas! Jangan membuat aku khawatir," ucap Nilam.


"Maaf." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Baskara.


Nilam mendongak. Perlahan melepas pelukan dari tubuh yang masih terbaring di ranjang pasien itu.


"Uuh." Tanpa sadar Bas menghembuskan nafas lega. Seolah sudah berhasil melepas beban berat dalam dirinya.

__ADS_1


Nilam duduk di kursi plastik yang sebelumnya ia dorong sedikit menjauh. Tatapan keduanya beradu, memancarkan banyak rasa yang tak bisa dijabarkan lewat kata. Perlahan tangan Bas terulur. Seolah mengerti, Nilam mencondongkan tubuhnya ke arah Bas, agar laki-laki itu bisa lebih mudah menggapai pipi putih miliknya.


__ADS_2