CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 150


__ADS_3

Baskara terus saja digoda oleh Satria yang saat ini menungguinya seorang diri, di kamar rawat laki-laki itu.


Beberapa saat lalu, pemuda itu kembali ke rumah sakit bersama Pak Indra, sementara Nilam rencananya akan menyusul bersama Damar.


Bas yang mengira Satria datang bersama Nilam, cepat-cepat mengusir sang adik dan meminta pemuda itu memanggilkan Nilam agar sang kekasih segera menemuinya.


 Di saat bersamaan, Pak Indra masuk dan menyapa Bas. Laki-laki paruh baya yang begitu Bas hormati itu, mendekati ranjang di mana Bas berbaring, dan dengan tersenyum menanggapi ocehan Baskara.


"Nilam masih di rumah, Bas. Katanya mau istirahat dulu sebentar, nanti dia ke sini lagi sama Damar. Sekalian Damar jemput paman. Kamu yang sabar ya, paling sebentar lagi dia datang," jelas Pak Indra, duduk di pinggir ranjang.


"Oh." Bas hanya bisa menjawab dengan singkat penjelasan laki-laki paruh baya itu. Ia merasa malu, sebab yakin pasti calon mertuanya mendengar apa yang ia katakan pada Satria. Sementara di belakang Pak Indra, sang adik tersenyum mengejek ke arahnya, membuat Bas ingin melayangkan pukulan ke wajah menyebalkan Satria.


Bersyukur hanya sebentar sang calon ayah mertua duduk menemaninya, karena Pak Brata mengajak calon besannya itu untuk minum kopi di kantin rumah sakit. Entah apa yang akan mereka obrolkan berdua. Namun sebelum laki-laki paruh baya itu meninggalkan kamarnya, Pak Indra sempat menggoda Baskara lagi dengan berkata, "sekarang kamu punya kesempatan meminta Nilam untuk terus menemanimu di sini. Tapi ingat, hanya di rumah sakit saja. Kalau kamu sudah sembuh, jangan bermanja-manja begini, sebelum kalian sah menjadi suami istri."

__ADS_1


Ucapan Pak Indra membuat Bas tidak berani mengangkat wajah. Ia hanya bisa menunduk sebari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menggunakan tangan yang terbebas dari jarum infus.


Setelah kepergian Pak Indra, Satria menggantikan laki-laki paruh baya itu duduk di pinggir ranjang.


"Belum juga sehari ditinggal Mba Nilam, udah kayak anak kecil nyari ibunya aja, kamu Mas," oceh Satria, masih dengan senyum menyebalkan. Ia merasa senang bisa mengejek sang kakak, yang wajahnya memerah menahan malu.


"Diam kamu! Kenapa nggak kabarin sejak tadi kalau yang datang itu Paman Indra?" sentak Bas, tidak dapat menutupi rona merah di wajahnya.


"Ya mana kepikiran aku, kalau Mas akan mengeluarkan kalimat manja begitu?" sahut Satria.


"Ya-ya, nggak usah dibahas lagi. Lagi pula nggak pa-pa juga bucin sama calon istri sendiri. Eh tapi masih jadi calon istri, kan? Nggak batal kan?" tanya Satria.


"Jangan sampai batal lah, ya. Masa udah sampai begini, belum berhasil juga bujuk Mba Nilam-nya?" oceh Satria tanpa henti.

__ADS_1


Baskara menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar, menanggapi ocehan sang adik laki-laki. Meski ia harus meringis menahan sakit, ketika mencoba mengeluarkan karbondioksida itu dari tubuhnya.


"Menurutmu, aku harus bagaimana?" tanyanya serius pada Satria.


"Bagaimana gimana maksudnya? Kalau mba Nilam nggak mau, ya tinggal cari cewek lain," sahut Satria enteng. Ia mengabaikan tatapan kesal dari laki-laki yang kini tengah berbaring di atas ranjang pasien itu.


"Lagian ya Mas, selama Mas belum bisa tegas mengambil keputusan, semuanya pasti akan jalan di tempat, Mas. Kuncinya semua ada pada Mas Bas. Mau Mas gimana, Mba Nilam itu hanya menurut saja. Tapi yaaa dengan konsekuensi yang juga harus Mas siap hadapi," lanjutnya lagi, setelah menjeda kalimatnya beberapa detik.


"Dia bilang begitu sama kamu?" tanya Bas penasaran.


"Nggak sih, tapi dari apa yang ia ungkapkan, jelas sekali keraguan yang membuatnya goyah. Kalau Mas begitu mencintainya, yakinkan dia. Buat keputusan yang membuat dia tidak memiliki alasan untuk ragu." Satria memberikan saran yang membuat Bas berpikir keras. Apa hal yang bisa ia lakukan untuk meyakinkan Nilam?


__ADS_1


JANGAN LUPA INTIP KARYA TEMAN-TEMAN OTHOR YANG LAIN YA ...


Salah satu karya rekomendasi aku, ya ini. Jangan lupa diintip yaaa


__ADS_2