CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 64


__ADS_3

Dengan penuh emosi Pandu menghampiri Delvia di apartemennya.


Ya, saat ini ia sudah ada di kota B, ingin menyelesaikan semua masalah yang tiba-tiba muncul tanpa ia duga.


Pandu sama sekali tidak menduga kalau wanita itu bisa bertindak nekat seperti saat ini.


Apa niat Delvia sesungguhnya?


Apa dia memang sengaja ingin menghancurkan dirinya?


Sejak kemarin kepalanya pusing memikirkan jawaban yang tepat, namun tidak ada satupun jawaban yang bisa ia dapatkan.


Hingga akhirnya tengah malam, dengan melawan rasa lelah ia memutuskan kembali ke kota tempatnya dan Delvia tinggal saat ini.


Mengingat foto-foto dirinya yang tanpa atasan di atas ranjang bersama Delvia, membuat emosinya kembali memuncak.


Ia yang sudah bersusah payah memperbaiki hubungannya dengan Nilam, berusaha meyakinkan sang kekasih, kalau dirinya adalah pilihan terbaik gadis itu, bahkan ia sudah mengunjungi kediaman orang tua Nilam, menunjukkan keseriusannya dalam hubungan itu, kini harus menghadapi kenyataan jika semua yang dia usahakan bisa saja menjadi sia-sia.


"Pandu ..." Delvia terkejut, mendapati tamu yang datang pagi-pagi buta ke apartemennya adalah pria yang dicintainya.


Namun belum hilang keterkejutan itu, ia kembali dibuat shock oleh perlakukan kasar Pandu terhadapnya.


"Katakan apa maksudmu melakukan semua ini?" Tanpa banyak bertanya, Pandu mencengkeram rahang Delvia.


"Katakan lelucon apa yang ingin kamu tampilkan dalam kehidupanku?"


"P pp Pandu ... S ssakiiit,"


Rintih wanita itu, dengan wajah memerah. Ia mencoba melepas cengkraman Pandu dengan kedua tangannya.


"Aku nggak nyangka, selama ini aku tertipu oleh wanita sepertimu. Licik!" Pandu menghempas cengkraman itu dengan kasar. Membuat Delvia terhuyung ke samping.


Ia memegang kedua sisi pipinya, yang terasa sakit.


"Kenapa kamu seperti ini Pan? Apa salah ak--?"


"Jangan berpura-pura bodoh Via! Kamu pikir aku nggak tau apa yang kamu lakukan? Munafik!" Terikat Pandu membuat Delvia terkejut dan takut.


Pandu menarik nafas dengan gusar. Jari telunjuknya mengacung ke arah wanita yang saat ini hanya mengenakan piyama tipis bertali spaghetti, dengan celana pendek sebagai bawahannya itu


"Dengar! Apa yang kita lakukan itu hanya sebatas nafsu. Aku sama sekali tidak pernah menganggap kamu special. Hubungan kita kamu yang memulai, kamu yang menawarkan tubuhmu untuk aku nikmati. Tapi aku sama sekali nggak nyangka kalau semua itu kamu manfaatkan untuk menghancurkan hubunganku dengan Nilam."


Meski ucapan Pandu begitu melukai hatinya, namun Delvia berhasil membalutnya dengan senyum sinis.

__ADS_1


"Jadi wanita itu sudah mengadukannya padamu? Apa yang dia katakan? Apa dia menangis seperti cerita-cerita di tivi?"


Delvia menatap Pandu dengan berani.


Seolah ia tidak memiliki rasa takut saat ini.


Ia berhasil menutupinya, meski sekujur tubuhnya bergetar.


"Aku nggak nyangka kamu sebodoh ini Pan, kamu pikir aku mau tidur dengan sembarangan orang? Aku melakukan semua ini, karena aku menginginkan kamu! Aku mau memiliki kamu seutuhnya! Aku nggak perduli sekalipun aku harus merebutmu dari orang lain. Sekalipun aku harus merendahkan harga diriku demi bisa mendapatkan kamu, aku mau. Aku sanggup melakukannya!"


Delvia berteriak, menuang semua yang ia rasa selama ini.


Hal itu membuat Pandu menggelengkan kepala. Tidak habis pikir, wanita yang ia kenal sejak kecil itu begitu berambisi atas dirinya.


"Kamu pikir aku mau? Kamu pikir aku akan menerima kamu setelah semua yang kmu lakukan? Heh mimpi!!!" Sentak Pandu.


"Kamu dengar baik-baik ya, aku nggak akan sudi bersanding dengan wanita sepertimu. Licik, munafik, murahan" sahut Pandu dengan senyum mengejek.


Sebutir kristal bening menetes di pipi wanita itu. Ia mengikis jarak diantara keduanya.


Dan tanpa banyak berkata, sebuah tamparan ia layangkan ke pipi Pandu.


"Aku, murahan? Lalu kamu apa?! Aku munafik? Apa bedanya dengan dirimu? Bahkan kamu jauh lebih licik dibanding aku. Memanfaatkan aku sebagai pemuas nafsumu, di atas janji setia yang kamu ikrarkan pada wanita lain."


Pandu terdiam membelakangi tubuh Delvia. Marah dan penyesalan bergumul dalam benaknya.


"Aku mencintaimu Pan, itu sebabnya aku melakukan semua ini." Lirih Delvia diambang kesadarannya.


Pandu yang berniat meninggalkan apartemen itu, tersentak kaget ketika mendengar suara benda terjatuh di belakangnya.


Ia terkejut mendapati Delvia tersungkur dan tidak sadarkan diri di belakangnya.


"Vi ... Nggak usah becanda kamu! Aku nggak akan percaya dengan trik konyol ini!" Dengan posisi berdiri menatap Delvia dari jarak beberapa langkah, Pandu mencoba memanggil nama wanita itu.


Namun tetap tidak bergeming. Membuat Pandu terpaksa menyeret langkahnya agar lebih mendekat ke arah wanita itu, masih dengan sikap waspada. Ia tidak ingin terjebak lagi.


Delvia tetap tidak bergeming. Tubuhnya terkulai tidak berdaya, dengan wajah pucat dan titik-titik keringat menghiasi dahinya.


Pandu berjongkok, memeriksa suhu tubuh wanita itu. Ia yang awalnya berprasangka buruk pada Delvia, mendadak panik saat menyadari kalau sang sahabat benar-benar tidak sadarkan diri.


Suhu tubuh Delvia begitu dingin. Wajahnya semakin putih pucat. Hingga tanpa pikir panjang, Pandu mengangkatnya keluar untuk segera ia bawa ke rumah sakit.


***

__ADS_1


Tidak ada yang dapat ia lakukan saat ini. Delvia seorang diri, sehingga terpaksa ia harus menemani.


Kedua orang tua wanita itu menitipkan putri mereka untuk Pandu jaga. Sehingga mau tidak mau, Pandu harus melakukannya.


Belum lagi telepon dari mama dan papanya yang ikut heboh saat mengetahui kalau Delvia masuk rumah sakit.


"Jaga dulu sahabatmu itu, jangan tinggalkan dia. Kasihan. Urusan pekerjaan, kamu bisa menundanya beberapa hari. Bukankah masing-masing kafe ada managernya? Mama sama papa mungkin nanti sore baru bisa datang ke sana."


Bahkan keluarga Wijaya begitu perduli pada wanita itu.


Tahukah mereka, apa yang dilakukan Delvia terhadapnya? Bahkan saat ini, ketika Delvia sudah ditangani dokter di UGD, ingin rasanya Pandu meninggalkannya seorang diri.


Rasa marah yang tadinya sempat mereda, kini kembali muncul, setelah kepanikannya menghilang. Namun, ia teroksa masih harus di sana demi amanah dua keluarga.


"Permisi," suara seseorang menghentikan pergulatan pikirannya.


"Iya dokter," Pandu bangkit dari kursi tunggu di depan UGD. Ia menghampiri pria berjas putih yang tengah menatapnya itu.


"Pasien baik-baik saja. Hanya tekanan darahnya rendah, juga kemungkinan kekurangan asupan makanan sehingga membuat tubuhnya lemas."


Pandu mengerutkan dahi, seolah menyangkal ucapan dokter jaga tersebut.


"Dia Kekurangan asupan makanan dok?"


"Kemungkinan iya, itu sebabnya ia tidak bisa menahan tubuhnya ketika pusing menyerang."


"Tapi kan ...."


"Banyak faktor penyebab seseorang kekurangan asupan makanan pak, bukan hanya karena tidak mampu membeli, tapi mungkin karena pola diet yang salah, atau karena hormon dalam tubuh yang seolah menolak makanan yang masuk."


Pandu mencerna setiap penjelasan dokter di depannya.


"Maksudnya pengaruh hormon gimana dok?"


Delvia seorang model, ia pasti tahu cara mengatur pola makannya agar kesehatan dan tubuh idealnya tetap terjaga.


"Pengaruh hormon itu bisa disebabkan berbagai macam alasan. Yang paling sering terjadi karena konsumsi obat, atau kehamilan. Nah itu yang belum bisa kita ketahui, sebab kami belum bisa menanyakan pada pasien." Jelas dokter.


"Maaf, anda suaminya?"


"Ee bukan ... Saya sahabatnya. Kami berteman dekat." Dengan cepat Pandu menjawab, tidak ingin ada kesalah pahaman lagi.


"Ooh ... Kalau begitu, tunggu kedatangan keluarganya terlebih dahulu. Setelah itu baru kita lakukan pemeriksaan lebih jauh. Pasien saat ini tengah beristirahat. Birkan dulu, sampai cairan infusnya habis. Agar kondisinya bisa cepat stabil."

__ADS_1



__ADS_2