
Nilam digoda habis-habisan oleh kakak dan kakak iparnya, membuat rona merah tidak henti menghiasi pipi putih gadis itu. Terlebih para keponakannya juga begitu kompak mengadu, mengatakan jika Nilam tidak lagi sayang mereka sepenuhnya, sebab tega meninggalkan mereka yang menangis meminta ikut, saat Nilam dan Baskara berpamitan hendak ke rumah Bu Rahma.
"Sudaaah, jangan terus ganggu adikmu," tegur Pak Indra, saat menyadari jika Nilam sudah mulai kesal.
"Billa, kamu nggak boleh bilang Tante Nilam nggak sayang kalian, Tante Nilam tetap menganggap kalian yang paling istimewa. Hanya saja, dia juga kan lagi ada urusan, jadi terpaksa meninggalkan kalian di rumah," terang kakek tiga cucu itu.
"Urusan apa, Kek? Pacaran?" celetuk gadis kecil itu membuat yang lain ternganga.
"Nabilla, dari mana kamu tahu istilah itu?" tanya sang ayah, tidak suka. Tatapan mata Surya membuat putrinya ketakutan.
"Mmm, ituuu ...." Menyadari putrinya tertekan, Citra segera mendekatinya, lalu menyentuh pundak Nabilla.
"Billa tau nggak apa itu pacaran?" tanya sang ibu lembut.
"Temenan trus dibonceng Bu, pakai motor," sahut Nabilla polos.
"Cuman gitu doang?" tanyanya lagi.
Nabilla mengangguk.
"Trus ngapain lagi kalau orang pacaran?" Ibu dua anak itu ingin tahu, seberapa jauh gadis kecilnya paham dengan kata yang dia ucapkan.
"Kata temen- temen aku di sekolah, di kasih bunga sama kue," sahut Nabilla lagi. Suaranya masih sarat ketakutan. Sesekali ia melirik sang ayah, yang mulai melembutkan tatapannya.
"Gitu aja?" desak sang ibu lagi.
"Memang ngapain lagi, Bu?" Nabilla balik bertanya.
"Ya ibu nggak tau, kan Nabilla sendiri yang ngomong pacaran," sahut Citra lagi.
Obrolan ibu dan anak itu menjadi tontonan di ruang tengah rumah Pak Indra.
"Gitu aja kayaknya," gumam gadis itu sambil mengangkat bahunya.
__ADS_1
Citra menatap suaminya dan berkata, "denger sendiri kan? Jangan apa-apa langsung marah, jangan bikin anak takut cerita sama kita." Wanita itu berucap sambil kembali menempati tempat duduk sebelumnya. Surya hanya bisa tersenyum canggung, saat mendengar omelan istrinya.
Suasana yang sempat tegang beberapa saat lalu, kembali mencair oleh keriuhan anak-anak yang sedang bermain.
"Mba, bikin mengguh yuk." Tiba-tiba saja Nilam mencetuskan ide untuk membuat makanan khas dengan bumbu lengkap khas Bali tersebut.
"Lam, kamu nggak lagi ngidam, kan?" Tatapan curiga Diana, membuat yang lain mengalihkan perhatian ke arah gadis itu.
"Astaga, mba! Jangan aneh-aneh deh!" Nilam menatap horor ke arah kakak perempuannya.
"Lha kamu sendiri yang aneh, tiba-tiba ngajakin bikin mengguh," balas Diana.
"Ya pengen aja, mba. Kan udah lama nggak buat. Minta bapak bikin bumbunya, kita beli bahannya. Mau?"
Diana menatap yang lain bergantian, meminta persetujuan.
"Boleh juga. Sekalian biar istriku nggak usah masak di rumah," sahut Surya tersenyum lebar.
"Pak, mau ya bikin bumbunya," rayu Nilam menatap pada sang ayah.
(ini ya bubur mengguh khas Bali, barangkali ada yang mau liburan ke Bali, bisa dicoba cari kuliner satu ini)
"Kalian pergi berdua ya, aku urus anak-anak," usul Citra pada kedua iparnya, dan mendapat anggukan oleh dua kakak beradik tersebut.
Mereka lantas pergi ke salah satu warung untuk membeli sayur serta bahan pelengkap lainnya. Sementara Citra bertugas memandikan anak-anak, dan membersihkan ruang tamu tempat mereka bermain.
"Gimana pertemuan sama keluarga Baskara?" Diana bertanya pada sang adik.
Nilam mengangkat bahu, "Entahlah, mba."
"Kok entahlah?" tanya wanita itu tidak mengerti.
__ADS_1
"Jahat nggak sih kalau aku mikir mereka nggak tulus sama aku?"
"Maksudnya?"
"Utari, ketus banget sama aku. Bahkan, baju yang aku belikan untuk dia dan anaknya, nggak diliat sama sekali, mba. Digeletakin gitu aja di bawah."
"Masa sih? Trus Bibi Rahma gimana?"
"Bibi Rahma sih seneng-seneng aja pas aku kasih. Dia juga bilang kalau pilihanku sesuai seleranya. Tapi ya itu tadi, Utari seolah sengaja bikin aku nggak punya muka. Masa dia marahin ibunya di depan aku? Kata dia bibi Rahma terlalu berlebihan, kayak nggak pernah beli baju aja, katanya."
Terdengar helaan nafas dari belakang. Nilam yang mengendarai motornya menoleh ke arah spion, memastikan raut wajah sang kakak.
Menurut mba, gimana?" tanya Nilam akhirnya.
"Kalau mba sih, selama kamu nyaman menjalani, dan nggak menganggap sikap mereka menganggu, ya jalani saja. Yang terpenting kan bagaimana Bas memperlakukan kamu," ucap Diana.
"Dia baik banget sih, mba. Aku sering merasa nggak enak hati sama dia. Perhatiannya itu, aku nggak bisa ngimbangin," cicit Nilam penuh rasa bangga.
"Syukurlah. Itu yang utama. Memang sih, keluarganya juga penting, tapi untuk apa kasih sayang keluarga kalau misal pasangan kita nggak sayang?"
"Kalau bisa sih, aku pengen semua nerima aku, mba. Semua sayang sama aku,"
"Ya kalau bisa. Tapi kalau nggak? Kalau harus memilih salah satunya?" desak Diana lagi.
"Kalau harus milih sih, mending disayang pasangan, mba," sahut Nilam setelah diam beberapa saat.
Mereka menghabiskan tidak lebih dari satu jam untuk keluar membeli bahan masakan, namun cukup untuk Nilam mencurahkan isi hati bersama sang kakak perempuan.
Setibanya di rumah, mereka menyerahkan barang belanjaan pada pak Indra dan Bu Sukma yang tengah sibuk di dapur.
Kedua orang tua itu memutuskan masak berdua, membiarkan anak dan menantu mereka membersihkan diri terlebih dahulu.
Setelah semua beres, masakan pun sudah terhidang di meja makan, mereka semua bersiap untuk menikmati makan malam bersama. Suasana penuh canda tawa, kehangatan, meski dalam kesederhanaan.
__ADS_1